Sumber, Probolinggo — Pengabdian panjang puluhan tahun yang dijalani dengan penuh kesabaran dan ketulusan akhirnya ditutup dengan rasa haru. PGRI Kabupaten Probolinggo bersama Koordinator Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan (Korwil Dikdaya) Kecamatan Sumber melakukan kunjungan khusus kepada Ngadiono, tenaga honorer yang gagal menikmati status ASN PPPK paruh waktu karena harus memasuki masa purna tugas.
Ngadiono merupakan tenaga pendidik yang telah mengabdi selama 27 tahun 3 bulan di SDN Sumber V, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. Meski telah mengikuti seluruh tahapan pemberkasan sebagai calon ASN PPPK paruh waktu, harapannya harus pupus karena waktu pensiun datang bersamaan dengan proses tersebut.

Kunjungan tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus empati atas perjalanan panjang Ngadiono di dunia pendidikan. Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Pengurus PGRI Kabupaten Probolinggo, H. Hasim, Ketua PC PGRI Kecamatan Sumber, Edi Sumitro, Korwil Dikdaya Kecamatan Sumber, H. Asis, serta Ketua K3S Kecamatan Sumber. Jum’at (9/1/26)
Acara berlangsung secara sederhana namun penuh makna di salah satu ruang kelas SDN Sumber V. Dalam suasana seremonial itu, para tamu menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dedikasi Ngadiono yang selama puluhan tahun setia mendampingi proses pendidikan meski dengan keterbatasan kesejahteraan.
Ngadiono memulai pengabdiannya sebagai tenaga honorer dengan menerima honor pertama sebesar Rp20.000 per bulan. Seiring waktu, penghasilan terakhir yang diterimanya sebelum purna tugas hanya mencapai Rp1.200.000 per bulan. Meski demikian, ia tetap bertahan dan menjalani tugasnya tanpa keluh kesah.
“Ini adalah bentuk penghargaan kami kepada seorang pendidik yang telah mengabdikan hampir separuh hidupnya untuk pendidikan,” ujar H. Hasim. Ia menegaskan bahwa PGRI tidak akan melupakan jasa para guru honorer yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan di daerah, meski kerap luput dari perhatian kebijakan.
Lebih jauh, H. Hasim menyampaikan doa dan harapan agar seluruh pengabdian Ngadiono dibalas dengan kebaikan yang berlipat. “Semoga Allah SWT membalas semua pengabdian beliau dan keluarga dengan pahala yang setimpal,” katanya.
Hal senada disampaikan Korwil Dikdaya Kecamatan Sumber, H. Asis, yang mengaku prihatin atas kondisi yang dialami Ngadiono. Ia menilai kasus tersebut menjadi potret nyata dinamika kebijakan kepegawaian yang masih menyisakan persoalan bagi tenaga honorer senior.
“Secara administratif beliau sudah memenuhi tahapan, namun takdir berkata lain karena masa purna tugas datang bersamaan. Kami berharap kunjungan ini setidaknya dapat mengobati rasa kecewa yang ada,” ujarnya.
Usai kegiatan di sekolah, rombongan melanjutkan silaturahmi ke rumah Ngadiono yang lokasinya tidak jauh dari sekolah. Di sana, suasana keakraban terasa semakin kuat. Dalam kesempatan itu, PGRI dan Korwil Dikdaya menyerahkan tali asih sebagai wujud kepedulian dan penghargaan atas jasa Ngadiono selama ini.
Diketahui, pengabdian Ngadiono dalam dunia pendidikan juga menjadi bagian dari pengabdian keluarganya. Hingga kini, istri dan anak Ngadiono masih aktif mengajar sebagai guru TK PKK di wilayah setempat, melanjutkan estafet dedikasi keluarga di bidang pendidikan.
Bagi Ngadiono, kunjungan tersebut menjadi penguatan moral yang sangat berarti. Meski tak sempat menikmati status ASN PPPK paruh waktu, perhatian dan penghargaan dari rekan sejawat serta pemangku kebijakan pendidikan menjadi pengobat luka atas penantian panjang yang tak terwujud.
Kisah Ngadiono menjadi potret nyata perjuangan guru honorer di daerah—mereka yang mengabdi puluhan tahun dalam senyap, berharap pengakuan hingga akhir masa tugas. Sebuah pengabdian yang mungkin tak tercatat dalam kebijakan, namun terukir kuat dalam sejarah pendidikan di daerahnya. (Bambang/*)


























