Oleh: Edi D
Di tengah budaya yang menempatkan laki-laki sebagai sosok kuat, tegar, dan rasional, luka batin seorang suami kerap luput dari perhatian. Media sosial belakangan ini diramaikan oleh unggahan bertajuk “5 luka batin suami yang tak akan sembuh sampai mati”, yang memantik ribuan komentar dan puluhan ribu tanda suka. Unggahan tersebut viral bukan karena sensasi, melainkan karena banyak orang merasa sedang bercermin pada kisah yang sama.

Fenomena ini membuka ruang diskusi tentang realitas emosional laki-laki dalam institusi pernikahan—sebuah ruang yang selama ini jarang disentuh secara jujur.
Kesetiaan yang Dicederai Kecurigaan
Luka pertama yang kerap dialami suami adalah ketika kesetiaan justru dibalas dengan kecurigaan. Bukan karena ia bersalah, melainkan karena kepercayaan yang perlahan mati. Dalam relasi yang sehat, kepercayaan menjadi fondasi. Namun ketika setiap langkah dipertanyakan, setiap niat baik dicurigai, yang tersisa bukan lagi amarah, melainkan kelelahan yang sunyi.
Banyak suami memilih diam. Bukan karena tak mampu membela diri, tetapi karena merasa percuma menjelaskan pada orang yang tak lagi percaya.
Berjuang, Tapi Selalu Dianggap Kurang
Luka kedua muncul dari tuntutan yang tak pernah selesai. Suami yang bekerja tanpa kenal waktu, menahan lelah, dan memendam cemas, sering kali hanya menerima satu penilaian: “belum cukup.” Setiap usaha seolah tak pernah sampai garis akhir. Setiap peluh tak pernah benar-benar dihitung.
Dalam kondisi ini, suami belajar satu hal: tersenyum di depan keluarga, dan menelan kecewa sendirian.
Pengkhianatan dari Orang yang Dilindungi
Luka ketiga jauh lebih dalam. Ketika pengkhianatan datang dari orang yang selama ini ia lindungi, bukan hanya hati yang remuk, tetapi juga harga diri yang runtuh. Rasa percaya yang hancur membuat cinta tak pernah kembali utuh seperti semula.
Bagi banyak suami, luka ini menjadi titik balik: sejak saat itu, ia tetap bertahan, tetapi tak lagi sepenuhnya hidup.
Lelah, Tapi Tak Pernah Didengar
Luka keempat adalah kelelahan yang tak mendapat ruang. Bukan karena suami tak bicara, melainkan karena tak ada yang sungguh-sungguh mendengar. Setiap keluh dianggap lemah, setiap cerita dipotong dengan tuntutan untuk “lebih kuat.”
Akhirnya, ia memilih diam. Dan diam itulah yang perlahan mematikan—emosi, empati, bahkan harapan.
Bertahan Demi Keluarga
Luka kelima barangkali yang paling sering terjadi, namun paling jarang disadari. Suami yang bertahan demi keluarga, meski hatinya hancur pelan-pelan. Ia tetap pulang, tetap menafkahi, tetap bertanggung jawab. Namun jiwanya tak pernah benar-benar sembuh.
Ia menjalani hidup seperti mesin yang terus bekerja, tanpa pernah diperbaiki.
Luka yang Jarang Terlihat
Luka batin suami nyaris tak kasatmata. Tidak ada air mata yang ditunjukkan, tidak ada teriakan minta tolong. Namun ketika seorang suami mulai marah dalam diam, sering kali itu bukan ledakan sesaat, melainkan akumulasi dari bertahun-tahun bertahan sendirian.
Viralnya unggahan ini menjadi penanda bahwa banyak laki-laki mengalami hal serupa, namun memilih memendamnya. Pertanyaannya kini bukan sekadar luka mana yang paling sering diabaikan, melainkan: apakah kita masih memberi ruang bagi suami untuk menjadi manusia, bukan sekadar peran?
Di tengah tuntutan zaman yang menuntut kesetaraan dan empati, luka batin suami layak mendapatkan perhatian yang sama. Sebab luka yang terus diabaikan, suatu hari, bisa menjadi jarak yang tak lagi bisa dijembatani.

























