Sawangan, Patrolihukum.net – Sebuah aksi kemanusiaan yang menggugah empati publik terjadi di Tanjakan Yapan, Sawangan. Seorang perempuan bernama Erika, yang diketahui merupakan istri anggota Polri, mengambil keputusan berani dengan menjadikan mobil pribadinya sebagai penahan laju sebuah truk bermuatan berlebih yang meluncur mundur akibat patah as roda.
Peristiwa tersebut terekam dan kemudian viral di media sosial setelah diunggah oleh akun Hasbi Toana, memantik gelombang apresiasi dari warganet. Dalam rekaman video itu, tampak Toyota Fortuner milik Erika berada tepat di belakang truk yang mengalami kerusakan, menahan benturan agar tidak menghantam pengendara sepeda motor yang berada di jalur menurun.

Di tengah situasi genting tersebut, Erika memilih tetap bertahan di dalam kendaraannya. Ia menyadari, jika mobilnya ikut mundur, maka risiko fatal terhadap pemotor di belakangnya hampir tidak terhindarkan.
“Kalau saya mundur, mobil saya nabrak orang,” ujar Erika dengan nada tenang, sebagaimana terekam dalam video yang beredar luas.
Keputusan itu berujung pada kerusakan cukup parah pada kendaraan miliknya. Bagian depan mobil ringsek akibat menahan beban dan tekanan dari truk yang meluncur tak terkendali. Namun bagi Erika, kerugian materi bukanlah hal utama.
Pilihan Sulit di Detik-Detik Kritis
Insiden tersebut terjadi ketika sebuah truk bermuatan berat berusaha menanjak di jalur yang dikenal curam dan rawan kecelakaan. Diduga, kondisi kendaraan yang tidak laik serta muatan berlebih menyebabkan as roda patah, sehingga truk kehilangan kendali dan bergerak mundur.
Dalam hitungan detik, Erika dihadapkan pada pilihan sulit: menyelamatkan kendaraannya atau melindungi keselamatan pengguna jalan lain. Ia memilih yang kedua.
Keberanian itu dinilai sebagai refleksi nilai kemanusiaan yang kuat, sekaligus menunjukkan keteladanan dalam bersikap di ruang publik. Banyak warganet menyebut tindakan tersebut sebagai cerminan jiwa Bhayangkari sejati, yang mengedepankan pengabdian dan empati.
Apresiasi Publik dan Sorotan Keselamatan Jalan
Aksi Erika menuai respons luas dari masyarakat. Ucapan terima kasih dan dukungan membanjiri kolom komentar media sosial. Tidak sedikit yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada negara dalam makna paling mendasar: melindungi sesama warga.
Namun, di balik pujian itu, peristiwa ini juga membuka kembali diskusi mengenai keselamatan lalu lintas, khususnya terkait truk overload yang masih kerap melintas di jalur-jalur rawan.
Pengamat transportasi menilai, insiden di Tanjakan Yapan seharusnya menjadi peringatan serius bagi seluruh pemangku kepentingan agar pengawasan terhadap kendaraan berat diperketat, demi mencegah terulangnya kejadian serupa yang berpotensi merenggut korban jiwa.
Lebih dari Sekadar Aksi Heroik
Bagi sebagian orang, mobil yang ringsek mungkin menjadi kerugian besar. Namun bagi Erika, keselamatan manusia berada di atas segalanya. Fortuner yang hancur menjadi saksi bisu bahwa empati dan keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk seragam atau jabatan, melainkan melalui keputusan berani di saat krisis.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada negara tidak selalu dilakukan di medan tugas formal. Dalam kondisi darurat, setiap warga negara dapat menjadi pelindung bagi yang lain.
Aksi Erika di Tanjakan Yapan bukan sekadar cerita viral, melainkan potret nyata tentang nilai kemanusiaan, tanggung jawab sosial, dan keberanian mengambil risiko demi keselamatan publik.
Respect, Ibu Erika.
Di tengah ancaman bahaya, Anda berdiri sebagai benteng hidup bagi sesama.
(Edi D/Red/**)

























