Jakarta | Pemerintah menetapkan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) untuk September 2026 sebesar US2,81 per barel. Penetapan tersebut mencerminkan kenaikan yang signifikan dibandingkan harga minyak mentah Indonesia pada bulan sebelumnya. ICP September tercatat meningkat US,38 per barel dari ICP Agustus 2026 yang berada pada level US,43 per barel.
Ketetapan harga tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026. Keputusan ini menjadi dasar resmi bagi penetapan rata-rata harga minyak mentah Indonesia selama periode tersebut, sekaligus memberikan acuan bagi pengelolaan sektor energi nasional. Lonjakan harga yang cukup besar menunjukkan adanya perubahan penting pada kondisi pasar minyak global dan dinamika yang memengaruhi pembentukan harga minyak mentah.
Perkembangan ICP memiliki arti strategis bagi perekonomian karena dapat memengaruhi penerimaan negara, biaya pengadaan energi, serta perencanaan anggaran di sektor terkait. Oleh karena itu, pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak, baik di pasar internasional maupun dalam konteks kondisi energi domestik. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi dampak perubahan harga terhadap pasokan dan stabilitas energi, sekaligus memastikan kebijakan yang diterapkan tetap mendukung kepentingan nasional.
Dengan penetapan ICP September pada level US$112,81 per barel, pemerintah menegaskan pentingnya pengelolaan energi yang responsif terhadap perkembangan pasar. Evaluasi berkala terhadap harga minyak diperlukan agar langkah pengendalian dan perencanaan dapat disesuaikan secara tepat. Upaya tersebut juga diarahkan untuk menjaga ketahanan energi nasional, sehingga kebutuhan energi masyarakat dan kegiatan ekonomi tetap dapat dipenuhi di tengah gejolak geopolitik serta ketidakpastian pasar minyak dunia.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa lonjakan Indonesian Crude Price (ICP) pada September 2026 mencerminkan perubahan signifikan dalam dinamika pasar minyak global. Harga rata-rata ICP tercatat mencapai US$112,81 per barel, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan risiko gangguan terhadap pasokan minyak dunia.
Menurut Laode, perkembangan situasi di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga. Ketegangan geopolitik yang tinggi meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan jalur distribusi, keberlangsungan produksi, serta potensi hambatan pengiriman dari kawasan strategis penghasil minyak. Kondisi tersebut mendorong pasar memberikan premi risiko yang lebih besar, sehingga harga minyak bergerak naik.
Kenaikan itu tidak hanya terjadi pada satu jenis minyak mentah atau wilayah perdagangan tertentu. Laode menyampaikan bahwa peningkatan harga berlangsung pada seluruh benchmark minyak internasional. Pergerakan serempak tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar bersifat luas dan berkaitan dengan kondisi fundamental serta persepsi risiko global, bukan semata-mata dipengaruhi faktor domestik Indonesia.
Selain ketidakpastian geopolitik, meningkatnya risiko gangguan pasokan turut memperkuat tekanan kenaikan harga. Kekhawatiran mengenai kemungkinan berkurangnya pasokan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam memperkirakan keseimbangan produksi dan kebutuhan minyak global. Perubahan ekspektasi ini kemudian tercermin dalam penguatan harga berbagai acuan minyak mentah, termasuk yang menjadi dasar perhitungan ICP.
Pernyataan Laode tersebut disampaikan di kantor Ditjen Migas, Gedung Ibnu Sutowo, Jakarta, pada Senin (12/10), sebagaimana tercantum dalam keterangan tertulis Kementerian ESDM. Penjelasan itu menegaskan bahwa harga ICP dipengaruhi erat oleh perkembangan pasar internasional, terutama ketika gejolak geopolitik meningkatkan kerentanan rantai pasok energi dan memperbesar ketidakpastian bagi negara konsumen maupun produsen.
Eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi di Timur Tengah meningkatkan risiko terhadap keamanan pelayaran, terutama di Selat Hormuz. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan gangguan terhadap kapal tanker, baik akibat operasi militer, pemeriksaan keamanan, maupun penutupan sementara jalur pelayaran. Setiap insiden di kawasan tersebut dapat memperpanjang waktu tempuh, menaikkan biaya asuransi, dan mendorong perusahaan pelayaran mengalihkan rute. Kondisi ini memperkuat tekanan terhadap harga minyak mentah global, termasuk kenaikan harga ICP September 2026.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling vital bagi perdagangan energi dunia karena menghubungkan negara-negara produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar Asia, Eropa, dan kawasan lainnya. Gangguan di jalur sempit ini berpotensi menghambat distribusi dalam skala besar. Data perdagangan menunjukkan ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz sempat turun hingga 28 persen dibandingkan Juli. Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian operator kapal dan pembeli minyak ketika risiko keamanan memburuk. Jika ketegangan berlanjut, pasar dapat menghadapi premi risiko yang lebih tinggi dan volatilitas harga yang semakin besar.
Ancaman terhadap pasokan juga datang dari serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut. Arab Saudi, misalnya, sempat menutup sementara pipa East-West yang memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone. Pipa itu berperan penting dalam menyediakan jalur alternatif bagi pengiriman minyak ketika lalu lintas di Teluk menghadapi hambatan. Pada saat yang sama, penundaan kuota produksi oleh OPEC membatasi fleksibilitas pasokan global. Tekanan semakin kuat setelah serangan lanjutan menyasar kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia serta kawasan Laut Merah. Kombinasi gangguan pelayaran, perlindungan fasilitas energi, dan keterbatasan produksi tersebut mempersempit pasokan yang tersedia di pasar internasional.
Setelah mengalami kenaikan tajam pada September 2026, Indonesian Crude Price (ICP) pada Oktober 2026 diproyeksikan masih bertahan pada level tinggi, meskipun mulai melandai. Pergerakannya diperkirakan berada di kisaran US$98–103 per barel. Proyeksi tersebut mencerminkan kondisi pasar minyak dunia yang tetap dipengaruhi ketegangan geopolitik, terutama gejolak di kawasan Timur Tengah, serta perubahan keseimbangan pasokan dan permintaan global. Dengan demikian, penurunan dari level September tidak serta-merta menunjukkan normalisasi penuh, karena pasar masih menghadapi risiko yang dapat mendorong volatilitas harga.
Pemerintah bersama kementerian, lembaga, dan pihak terkait berkomitmen untuk terus mengamati perkembangan harga minyak internasional. Pemantauan dilakukan terhadap faktor geopolitik, kebijakan produksi negara-negara penghasil minyak, kondisi perdagangan global, serta dinamika permintaan energi. Hasil pengamatan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyiapkan langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional. Kebijakan yang ditempuh perlu mempertimbangkan kesinambungan pasokan, kemampuan pembiayaan negara, stabilitas kegiatan usaha, dan perlindungan terhadap perekonomian nasional ketika harga minyak bergerak secara tidak terduga.
Laode menegaskan bahwa formula ICP tetap disusun secara transparan dan mencerminkan dinamika pasar internasional. Mekanisme tersebut juga ditujukan agar penetapan harga dapat dipertanggungjawabkan, baik dari sisi keuangan negara maupun bagi pelaku kegiatan usaha hulu migas. Kejelasan formula dan penggunaan indikator pasar yang relevan memberikan kepastian bagi para pemangku kepentingan dalam memahami dasar perhitungan ICP. Selain menjadi referensi dalam pengelolaan sektor energi, ICP berperan penting dalam menghitung penerimaan negara dari sektor hulu migas dan menetapkan asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Perubahan nilainya turut memengaruhi perencanaan fiskal serta proyeksi penerimaan dan belanja negara.
Baca juga: Penurunan Harga Emas Perhiasan 24 Karat di Indonesia pada 11 September 2026 | Bantuan Sosial September 2026: Pahami Jenis dan Mekanismenya | Ragam Event Seru di Jakarta Pusat September 2026
















