Patrolihukum.net, (3/10/25) – Tidak semua orang memaknai kemenangan dengan cara yang sama. Ada yang melihatnya dari harta, ada pula yang menilainya dari jabatan. Namun bagi Romo Yaimin, pemenang sejati justru adalah mereka yang mampu bangun lebih awal, disiplin, dan konsisten mengalahkan dirinya sendiri.
Ditemani sang istri tercinta, Rosidah, Romo Yaimin menyampaikan pandangan hidupnya dengan penuh ketenangan. “Pemenang adalah orang yang paling awal, yang terdepan. Dialah yang selalu bangun malam, yang sanggup mengatur waktunya dengan baik,” ucapnya.

Ia menuturkan, kemenangan bukanlah sekadar siapa yang sampai di garis akhir, tetapi siapa yang berani memulai lebih awal dan menjaga konsistensinya. Dalam pandangan Romo Yaimin, orang sukses selalu punya kebiasaan sederhana yang membedakan mereka, salah satunya soal disiplin waktu.
“Kalau orang sukses itu bangun jam dua pagi, maka kalau ingin lebih baik darinya, bangunlah lebih awal, misalnya setengah dua. Itu cara sederhana untuk mengalahkan batas diri,” tambahnya.
Namun, Romo Yaimin tidak hanya bicara tentang kedisiplinan. Ia juga menyinggung sisi lain kehidupan yang sering menjebak manusia: rasa iri. Menurutnya, iri hati bisa menjadi kekuatan besar jika diarahkan dengan benar, tetapi bisa pula berubah menjadi racun yang menghancurkan jika dituruti nafsu semata.
“Iri hati itu potensi luar biasa bila dipertemukan dengan iman, ilmu, nikmat, dan takwa. Tapi kalau rasa iri dipertemukan dengan hawa nafsu, justru yang ada hanyalah kehancuran diri sendiri,” tegasnya.
Bagi Romo Yaimin, setiap orang memiliki ukuran masing-masing dalam menilai sukses. Namun, yang terpenting adalah bagaimana seseorang mampu mengelola dirinya, mengubah iri hati menjadi motivasi, serta menjaga konsistensi dalam usaha.
Pesan sederhana itu terasa dalam, terutama di era sekarang ketika banyak orang mudah mengukur kemenangan hanya dari pencapaian materi atau popularitas. Filosofi Romo Yaimin membuka sudut pandang lain: bahwa pemenang sejati adalah mereka yang sanggup melawan kelemahan diri, bangun lebih awal, dan tetap teguh dalam iman serta takwa.
Menutup refleksinya, Romo Yaimin memberi pesan mendalam, “Jangan pernah ukur kemenanganmu dari apa yang dimiliki orang lain. Ukurlah dari dirimu sendiri: seberapa jauh kau mampu melawan hawa nafsu, mengalahkan rasa malas, dan menjaga hatimu tetap bersih. Di situlah kemenangan yang sebenarnya.”
Published: Edi D/Red MPH





























