Kota Palembang | Teknologi penyemaian dry ice atau karbon dioksida padat sedang dikaji sebagai salah satu alternatif untuk membantu mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Gagasan ini menjadi perhatian karena kabut asap dapat menurunkan kualitas udara, mengganggu aktivitas masyarakat, serta meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan.
Sumatera Selatan termasuk wilayah yang diprioritaskan untuk pengujian teknologi tersebut. Palembang menjadi salah satu daerah yang dipertimbangkan karena kerap terdampak sebaran asap dari titik-titik kebakaran di wilayah provinsi itu. Dalam penerapannya, karbon dioksida padat akan dikaji sebagai bahan penyemaian awan untuk mendorong terbentuknya hujan. Namun, efektivitas metode ini tetap bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang sesuai, serta hasil kajian teknis dan keselamatan.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan bahwa rencana penerapan teknologi itu merupakan bagian dari inovasi hasil kerja sama Indonesia dan Thailand. Informasi tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi penanganan karhutla yang diikuti Herman secara daring dari Palembang pada Senin. Penyampaian itu menjadi sinyal bahwa penanganan kabut asap tidak hanya mengandalkan upaya pemadaman di darat, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan teknologi berbasis modifikasi cuaca.
Meski demikian, uji coba dry ice masih berada pada tahap pengkajian dan memerlukan koordinasi lintas lembaga. Pemerintah perlu memastikan lokasi, waktu pelaksanaan, prosedur operasional, serta indikator keberhasilan sebelum teknologi tersebut diterapkan secara lebih luas. Langkah itu penting agar inovasi dapat melengkapi pencegahan dan penanganan karhutla, bukan menggantikan pengawasan lahan, pemadaman sumber api, maupun upaya penegakan hukum terhadap pembakaran hutan dan lahan.
Rencana pelaksanaan penyemaian dry ice diarahkan pada titik-titik strategis yang terdampak kabut asap karhutla di Sumatera Selatan. Pendekatan ini menempatkan kawasan dengan kebutuhan penanganan paling mendesak sebagai sasaran awal pengujian. Bandara dan lapangan udara milik TNI disebut sebagai lokasi yang dipertimbangkan karena memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas, koordinasi, serta pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Pemilihan lokasi strategis tersebut tidak berarti seluruh wilayah terdampak akan langsung menjadi area penyemaian. Tahap awal ditujukan untuk menguji penerapan teknologi pada titik yang dinilai relevan dengan kondisi kabut asap. Pelaksanaan di lapangan akan menjadi bagian dari penilaian terhadap kelayakan pendekatan ini sebelum cakupannya diperluas. Dengan demikian, hasil pengujian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk langkah berikutnya.
Herman Deru menyampaikan bahwa pengujian dengan skala lebih besar direncanakan berlangsung di Sumatera Selatan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa provinsi ini dipersiapkan sebagai lokasi penting untuk mengembangkan uji teknologi penguraian kabut asap. Namun, rencana tersebut tetap berada dalam kerangka pengujian, sehingga pelaksanaannya perlu memperhatikan hasil tahap awal dan kondisi yang berkembang di wilayah terdampak.
Dukungan logistik juga menjadi perhatian dalam rencana tersebut. Presiden memberikan arahan agar pengangkutan dry ice dapat didukung menggunakan pesawat Hercules. Arahan ini menegaskan pentingnya kesiapan sarana transportasi untuk membawa bahan yang diperlukan menuju titik pelaksanaan. Dukungan pesawat Hercules diharapkan membantu menghubungkan lokasi penyediaan dan area sasaran, tanpa mengubah tahapan pengujian yang telah direncanakan. Rincian jadwal, lokasi spesifik, dan teknis penerbangan belum disebutkan dalam bahan yang tersedia.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa penyemaian dry ice atau es kering masih berada pada tahap kajian. Metode ini belum dapat dipandang sebagai solusi yang siap diterapkan untuk mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penelitian diperlukan untuk menilai mekanisme kerjanya, efektivitasnya dalam berbagai kondisi cuaca, serta kemungkinan dampaknya terhadap lingkungan dan penerbangan.
Gagasan penggunaan es kering berkaitan dengan kondisi atmosfer yang dapat menghambat pergerakan asap. Salah satu sasaran perhatian ialah lapisan inversi. Dalam keadaan normal, suhu udara cenderung menurun ketika ketinggian bertambah. Namun, pada lapisan inversi, suhu justru meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan atmosfer tertentu. Perbedaan pola suhu ini membentuk kondisi yang relatif stabil dan membatasi pencampuran udara.
Lapisan inversi dapat berfungsi seperti penutup di atmosfer. Udara yang lebih dekat dengan permukaan tidak mudah bergerak naik karena tertahan oleh udara yang lebih hangat di atasnya. Akibatnya, asap dari kebakaran dapat terperangkap di dekat permukaan, kemudian menumpuk apabila emisi berlangsung terus-menerus dan angin tidak cukup kuat untuk mengalihkannya. Kondisi tersebut dapat memperburuk jarak pandang serta meningkatkan konsentrasi partikel pencemar yang berisiko terhadap kesehatan masyarakat.
Stabilitas atmosfer yang sama juga dapat menghambat pertumbuhan awan. Ketika udara lembap dari dekat permukaan tidak dapat naik secara memadai, proses pendinginan dan pengembunan yang diperlukan untuk membentuk awan menjadi terbatas. Karena itu, peluang terjadinya hujan yang dapat membantu membersihkan atmosfer pun dapat berkurang. Kajian penyemaian es kering diarahkan untuk memahami apakah partikel tersebut mampu memengaruhi proses mikrofisika awan atau kondisi lokal atmosfer, sehingga pergerakan udara dan peluang pembentukan hujan dapat berubah. Meski demikian, hubungan metode tersebut, lapisan inversi, dan penguraian asap masih harus dibuktikan melalui pengamatan serta pengujian ilmiah yang terukur.
Konsep penggunaan dry ice dalam penanganan kabut asap karhutla diarahkan pada upaya mengurangi hambatan atmosfer yang dapat mengganggu pertumbuhan awan. Material tersebut diharapkan membantu menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan awan, sehingga massa udara yang membawa asap tidak terus-menerus tertahan di wilayah terdampak. Apabila pergerakan awan dan sirkulasi udara berlangsung lebih baik, asap secara teoritis dapat bergerak keluar mengikuti arah angin. Tujuan ini berkaitan dengan pengurangan konsentrasi asap di suatu kawasan, bukan dengan menghilangkan sumber kebakaran secara langsung. Karena itu, dry ice dipahami sebagai bagian dari pendekatan atmosfer yang masih memerlukan pengkajian secara cermat.
Wandayantolis menyatakan bahwa penggunaan dry ice untuk menghilangkan penghambat pertumbuhan awan sekaligus membantu pergerakan asap memiliki konsep yang agak berbeda dari teknik penyemaian awan. Perbedaan tersebut penting untuk diperhatikan karena istilah penyemaian awan dapat menimbulkan pemahaman bahwa metode ini semata-mata ditujukan untuk memicu hujan. Dalam konsep yang dibahas, sasaran tambahannya adalah membuka peluang bagi asap yang terperangkap untuk bergerak bersama pola angin setelah hambatan terhadap pertumbuhan awan berkurang. Mekanisme itu tetap dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, arah angin, kelembapan, dinamika awan, serta karakteristik asap di lokasi kejadian.
Penjelasan tersebut masih berada pada tahap konsep yang dikaji dan bukan laporan mengenai penerapan yang telah terbukti. Bahan sumber tidak menyatakan efektivitas akhir, keberhasilan uji coba, ataupun dampaknya terhadap karhutla. Oleh sebab itu, harapan bahwa asap dapat terdorong keluar mengikuti arah angin perlu ditempatkan sebagai tujuan yang hendak diuji, bukan sebagai hasil yang sudah dipastikan. Penilaian yang lebih kuat memerlukan pengamatan terukur, pembandingan kondisi atmosfer, dan evaluasi lapangan yang memadai. Selama bukti tersebut belum tersedia, penggunaan dry ice perlu dipahami secara proporsional sebagai gagasan ilmiah yang masih terbuka untuk penelitian lebih lanjut.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat | Kesiap Siagaan Babinsa Bersama Tim Gabungan Padamkan Karhutla Di Buluqsen
















