Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan, 907 Jadwal Terdampak dan 10 Maskapai Terimbas

Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan, 907 Jadwal Terdampak dan 10 Maskapai Terimbas
banner 468x60

Kabupaten Asmat | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional penerbangan di sejumlah daerah. Kondisi tersebut berdampak pada berbagai layanan penerbangan, mulai dari penundaan dan pembatalan hingga pengalihan rute. Dalam beberapa kasus, pesawat juga harus kembali ke bandara asal karena situasi di bandara tujuan tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan secara aman.

Kementerian Perhubungan mencatat sebanyak 907 jadwal penerbangan terdampak akibat gangguan jarak pandang yang dipicu kabut asap. Data itu merupakan akumulasi pemantauan yang dilakukan sejak 11 Agustus hingga 9 Oktober 2026. Gangguan tersebut tercatat melibatkan layanan dari 10 maskapai yang beroperasi pada sejumlah rute dan bandar udara di wilayah terdampak karhutla.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa tingkat gangguan tidak sama pada setiap maskapai. Perbedaan itu dipengaruhi oleh rute penerbangan, waktu operasi, kondisi bandara, serta perubahan jarak pandang di masing-masing daerah. Karena itu, bentuk penanganan dan keputusan operasional dapat berbeda satu penerbangan dan penerbangan lainnya.

Seluruh keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan aspek keselamatan penerbangan. Ketika jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional, maskapai dan pengelola penerbangan dapat menunda keberangkatan, membatalkan jadwal, mengalihkan pesawat ke bandara lain, atau menginstruksikan pesawat kembali ke bandara asal. Langkah itu diperlukan untuk memastikan proses lepas landas, navigasi, dan pendaratan tetap memenuhi standar keselamatan, meskipun berakibat pada perubahan jadwal perjalanan penumpang.

Data dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap penerbangan menunjukkan bahwa Citilink Indonesia menjadi maskapai dengan jumlah penerbangan terdampak paling tinggi, yakni 478 penerbangan. Angka ini menempatkan Citilink sebagai maskapai yang menghadapi gangguan operasional paling besar dalam pendataan tersebut. Gangguan dapat berkaitan dengan kondisi jarak pandang, penyesuaian jadwal, keterlambatan, perubahan rute, maupun pembatalan penerbangan.

Di posisi berikutnya, Nam Air mencatat 300 penerbangan terdampak, disusul Wings Air dengan 227 penerbangan. Super Air Jet juga mengalami dampak pada 161 penerbangan. Keempat maskapai tersebut mencatat jumlah gangguan yang relatif besar dibandingkan maskapai lain, sehingga menjadi bagian utama dari keseluruhan penerbangan yang terkena imbas kabut asap.

Maskapai lain yang turut terdampak adalah Surya Mataram dengan 134 penerbangan dan Batik Air dengan 112 penerbangan. Selanjutnya, Garuda Indonesia mencatat 97 penerbangan terdampak, sedangkan TransNusa mengalami dampak pada 94 penerbangan. Lion Air berada pada angka 41 penerbangan, sementara Sriwijaya Air menjadi maskapai dengan jumlah terdampak paling rendah dalam daftar tersebut, yaitu 29 penerbangan.

Rincian itu memperlihatkan bahwa gangguan penerbangan tersebar di berbagai operator, dengan tingkat dampak yang berbeda-beda. Penting dicatat, seluruh angka tersebut merupakan akumulasi penerbangan yang terdampak, bukan semata-mata jumlah penerbangan yang dibatalkan. Dengan demikian, perhitungan dapat mencakup penerbangan yang mengalami keterlambatan, perubahan jadwal, pengalihan, atau penyesuaian operasional lain akibat kabut asap. Data ini memberikan gambaran mengenai luasnya pengaruh karhutla terhadap konektivitas udara dan kegiatan operasional maskapai.

Gangguan penerbangan akibat kabut asap karhutla tercatat dalam beberapa bentuk, yaitu keterlambatan, pembatalan, penundaan, pengalihan, dan penerbangan yang kembali ke bandara asal. Pemisahan jenis gangguan ini menunjukkan bahwa dampak terhadap operasional penerbangan tidak hanya berupa pembatalan jadwal, tetapi juga perubahan waktu serta rute penerbangan demi menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat.

Berdasarkan data maskapai, Wings Air mencatat jumlah pembatalan terbanyak, yakni 226 penerbangan. Posisi berikutnya ditempati Super Air Jet dengan 158 pembatalan, sedangkan Citilink mencatat 115 pembatalan. Angka tersebut menggambarkan besarnya dampak penurunan jarak pandang terhadap jadwal penerbangan yang semula telah ditetapkan.

Untuk kategori keterlambatan, Citilink berada di posisi teratas dengan 357 penerbangan, disusul Nam Air sebanyak 212 penerbangan. Keterlambatan menjadi bentuk gangguan yang paling banyak terpantau karena maskapai dan pengelola bandar udara perlu menyesuaikan waktu keberangkatan atau kedatangan dengan kondisi cuaca dan jarak pandang di wilayah terdampak.

Secara keseluruhan, pemantauan bersama otoritas bandar udara, pengelola bandara, AirNav, dan maskapai mencatat 745 penerbangan terlambat. Selain itu, terdapat 907 penerbangan yang dibatalkan atau ditunda, 15 penerbangan dialihkan, serta enam penerbangan kembali ke bandara asal. Data ini menunjukkan bahwa kabut asap memberikan tekanan langsung terhadap kelancaran jaringan penerbangan.

Lukman menegaskan, “Keselamatan tidak dapat dikompromikan.” Ia menjelaskan bahwa jarak pandang di bawah batas minimum dapat menyebabkan keterlambatan, pembatalan, penundaan, atau pengalihan penerbangan. Karena itu, keputusan operasional dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan, termasuk perkembangan jarak pandang dan aspek keselamatan penerbangan.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut mengganggu operasional penerbangan di Bandar Udara Ewer, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Pada Selasa, 13 Oktober 2026, seluruh penerbangan perintis dari dan menuju bandara tersebut dihentikan sementara. Keputusan itu diambil setelah jarak pandang di sekitar kawasan bandara berada di bawah batas minimum yang dipersyaratkan untuk keselamatan penerbangan.

Penghentian operasional berdampak pada tiga rute pulang-pergi yang melayani konektivitas masyarakat di wilayah tersebut. Rute yang dibatalkan meliputi Ewer–Timika, Ewer–Merauke, dan Ewer–Kamur. Layanan pada rute-rute itu biasanya dioperasikan oleh sejumlah maskapai, yakni Trigana Air, Susi Air, dan Wings Air. Pembatalan dilakukan untuk seluruh penerbangan yang terjadwal pada hari tersebut, hingga kondisi jarak pandang dinilai kembali aman bagi kegiatan lepas landas maupun pendaratan.

Pemberitahuan mengenai penghentian penerbangan disampaikan melalui pengumuman resmi Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas III Ewer. Pengumuman tersebut menjadi acuan bagi penumpang, maskapai, dan pihak terkait dalam menyesuaikan rencana perjalanan selama kabut asap masih memengaruhi lingkungan bandara. Perubahan operasional dapat berlangsung mengikuti perkembangan cuaca, kualitas udara, serta hasil pemantauan jarak pandang oleh petugas berwenang.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) menyatakan bahwa keputusan penghentian penerbangan ditujukan untuk melindungi penumpang, awak pesawat, dan petugas bandara. Kondisi jarak pandang yang terbatas dapat meningkatkan risiko dalam setiap tahapan penerbangan, sehingga aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama sebelum layanan dibuka kembali. Penumpang yang terdampak diminta menghubungi maskapai masing-masing untuk memperoleh informasi terbaru mengenai perubahan atau penjadwalan ulang penerbangan. Otoritas juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul akibat penghentian sementara tersebut.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Kesiap Siagaan Babinsa Bersama Tim Gabungan Padamkan Karhutla Di Buluqsen | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60