Karawang Dorong Edukasi Menstruasi Inklusif bagi Remaja Putri Penyandang Disabilitas

Karawang Dorong Edukasi Menstruasi Inklusif bagi Remaja Putri Penyandang Disabilitas
banner 468x60

Kabupaten Karawang | Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menilai kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memperluas edukasi kesehatan reproduksi dan kebersihan menstruasi bagi remaja putri penyandang disabilitas. Upaya tersebut menjadi perhatian karena akses terhadap informasi kesehatan dasar belum selalu diterima secara setara oleh seluruh anak dan remaja. Materi yang disampaikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan komunikasi, serta kondisi masing-masing penyandang disabilitas agar dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan kesehatan reproduksi. Hak itu mencakup pemahaman mengenai perubahan tubuh saat pubertas, siklus menstruasi, manajemen kebersihan menstruasi, serta perawatan diri yang aman dan bermartabat. Pengetahuan tersebut penting untuk membantu remaja putri mengenali kondisi tubuhnya, menjaga kebersihan, mencegah gangguan kesehatan, dan meminta bantuan ketika menghadapi masalah. Penyampaian informasi juga perlu dilakukan dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari stigma.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Hardi Hermawan, menyampaikan bahwa kerja sama pemerintah daerah dan sektor swasta penting untuk memperluas jangkauan edukasi tersebut. Menurutnya, sinergi berbagai pihak dapat mendukung penyediaan informasi, pendampingan, serta media pembelajaran yang lebih sesuai bagi remaja putri penyandang disabilitas. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa, dengan penekanan bahwa kelompok rentan tidak boleh tertinggal dalam menerima informasi kesehatan dasar. Kolaborasi juga diharapkan melibatkan keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan komunitas agar pendidikan reproduksi tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan, tetapi berlanjut melalui pendampingan dan praktik perawatan diri yang konsisten.

Program edukasi menstruasi inklusif dilaksanakan bagi para siswi tunarungu di SLB B Tunas Harapan, Kabupaten Karawang, pada Rabu (12/8). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses informasi kesehatan reproduksi bagi remaja putri penyandang disabilitas. Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan ruang untuk memahami menstruasi sebagai proses alami yang perlu dikenali dan dikelola dengan pengetahuan yang tepat.

Pelaksanaan kegiatan merupakan hasil kolaborasi Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang dan Unicharm Indonesia. Kolaborasi ini diarahkan untuk menghadirkan edukasi yang lebih inklusif, terutama bagi remaja putri yang membutuhkan metode penyampaian sesuai dengan kondisi dan cara berkomunikasi mereka. Dengan demikian, informasi mengenai menstruasi tidak hanya tersedia secara umum, tetapi juga dapat diakses dan dipahami oleh siswi tunarungu.

Mengusung tema “Love Your Possibilities: We Can!”, program tersebut menekankan pentingnya membangun pemahaman, kepercayaan diri, dan kemandirian peserta dalam menghadapi menstruasi. Pendekatan edukasi disesuaikan dengan kebutuhan peserta agar pesan yang disampaikan dapat diterima secara jelas. Penyesuaian ini penting karena setiap remaja memiliki pengalaman, kemampuan menerima informasi, serta kebutuhan dukungan yang berbeda.

Edukasi menstruasi bagi siswi penyandang disabilitas juga berperan dalam mendorong terbentuknya kebiasaan menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Pengetahuan yang memadai dapat membantu peserta mengenali perubahan tubuh, memahami kebutuhan selama menstruasi, serta mengambil langkah perawatan yang sesuai. Pada saat yang sama, kegiatan ini memperkuat perhatian terhadap hak remaja putri penyandang disabilitas untuk memperoleh informasi kesehatan yang setara, aman, dan mudah dipahami.

Melalui pelaksanaan di SLB B Tunas Harapan, Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang dan Unicharm Indonesia menunjukkan komitmen untuk menjangkau kelompok remaja yang memerlukan pendekatan edukasi khusus. Program bertema “Love Your Possibilities: We Can!” diharapkan menjadi bagian dari penguatan edukasi kesehatan reproduksi yang inklusif, sehingga siswi tunarungu dapat menghadapi menstruasi dengan pemahaman yang lebih baik dan sikap yang lebih percaya diri.

Kegiatan edukasi menstruasi dirancang dengan metode interaktif agar setiap peserta dapat memahami informasi secara lebih mudah dan nyaman. Penyampaian materi tidak hanya mengandalkan penjelasan lisan, tetapi juga menggunakan alat bantu visual, gambar, serta contoh benda yang berkaitan langsung dengan kebutuhan menstruasi. Media bergambar membantu peserta mengenali tahapan perawatan diri dan memahami urutan tindakan secara lebih konkret. Fasilitator juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya, menjawab pertanyaan sederhana, serta mempraktikkan kembali informasi yang telah disampaikan.

Untuk mendukung keterlibatan remaja putri penyandang disabilitas, guru pendamping membantu menerjemahkan penjelasan ke dalam bahasa isyarat. Pendampingan ini memastikan pesan kesehatan tersampaikan secara utuh, termasuk ketika materi memuat istilah atau situasi yang mungkin sulit dipahami melalui komunikasi biasa. Penggunaan bahasa yang sederhana, kalimat singkat, dan pengulangan pada bagian penting turut membantu peserta mengingat informasi. Pendekatan tersebut menciptakan suasana belajar yang lebih inklusif sekaligus menghargai perbedaan cara berkomunikasi setiap anak.

Materi utama mencakup cara menjaga kebersihan diri selama menstruasi, seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut, membersihkan area genital dengan benar, serta membuang pembalut pada tempat yang sesuai. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai pemilihan pembalut berdasarkan kebutuhan, tingkat kenyamanan, daya serap, ukuran, dan kemampuan menggantinya secara berkala. Informasi disampaikan tanpa menghakimi agar peserta dapat mengenali pilihan yang aman dan sesuai dengan kondisi masing-masing.

Selain keterampilan praktis, kegiatan membahas mitos dan fakta seputar menstruasi. Peserta diajak membedakan informasi yang didukung pengetahuan kesehatan dari kepercayaan yang berpotensi menimbulkan rasa takut atau membatasi aktivitas secara tidak perlu. Penyediaan informasi melalui format visual, bahasa isyarat, dan pendampingan yang sesuai merupakan bagian penting dari pemenuhan hak kesehatan anak berkebutuhan khusus. Akses terhadap pengetahuan yang jelas memungkinkan mereka mengambil keputusan terkait kebersihan dan kesehatan tubuh secara lebih mandiri.

Menurut Hardi, edukasi menstruasi yang inklusif penting karena remaja putri penyandang disabilitas perlu memperoleh akses informasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Informasi mengenai menstruasi, kebersihan diri, perubahan tubuh, serta kesehatan reproduksi tidak dapat disampaikan dengan pendekatan yang seragam. Materi dan metode penyampaian perlu mempertimbangkan ragam disabilitas, termasuk kebutuhan akan bahasa sederhana, media visual, penerjemah bahasa isyarat, pendampingan, maupun format lain yang mudah dipahami. Dengan demikian, mereka dapat menerima pengetahuan kesehatan dasar secara setara dan menggunakannya untuk merawat diri secara aman.

Kebutuhan tersebut berkaitan dengan kondisi akses pendidikan penyandang disabilitas di Indonesia. Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia: Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 yang diterbitkan pada Desember 2024 mencatat bahwa lebih dari 75 persen anak penyandang disabilitas belum memperoleh akses pendidikan yang memadai. Data ini menunjukkan adanya kesenjangan yang dapat memengaruhi kesempatan mereka mendapatkan pengetahuan dasar, termasuk informasi mengenai kesehatan menstruasi dan kesehatan reproduksi. Karena itu, penyediaan informasi perlu dilakukan melalui layanan dan materi yang menyesuaikan kebutuhan setiap penerima.

Upaya tersebut juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang mengatur berbagai hak penyandang disabilitas, termasuk hak atas kesehatan dan kesehatan reproduksi. Pemenuhan hak itu memerlukan kolaborasi pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, keluarga, organisasi penyandang disabilitas, serta pihak lain yang berkaitan. Kerja sama dapat membantu memastikan bahwa informasi tersedia, dapat diakses, dan disampaikan dengan cara yang menghormati martabat serta kebutuhan remaja putri penyandang disabilitas. Akses informasi yang setara menjadi bagian penting dari pemenuhan layanan kesehatan yang inklusif.

Baca juga: Cegah Karhutla, Polres Ponorogo Gencarkan Edukasi dan Patroli Kawasan Hutan | Penyuluh Mabes TNI Perkuat Edukasi Karhutla, Ratusan Pelajar di Tanta Hulu Diberi Pemahaman Sejak Dini

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60