Kabupaten Ogan Ilir | Saropi, 48 tahun, warga Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, meninggal dunia setelah ditusuk oleh anak kandungnya sendiri, Antoni, 30 tahun. Peristiwa tersebut terjadi saat Saropi berusaha menghentikan keributan Antoni dan Kepala Desa Muara Penimbung Ilir, Nopri, 42 tahun.
Insiden itu berlangsung di Desa Muara Penimbung Ilir, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, pada Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. Keributan yang melibatkan Antoni dan Nopri kemudian menarik perhatian Saropi. Ia berupaya melerai pertikaian tersebut agar tidak semakin membesar.
Namun, dalam situasi tersebut, Saropi justru terkena tusukan yang dilakukan Antoni. Luka yang dialaminya menyebabkan korban meninggal dunia. Peristiwa ini kemudian menggemparkan warga desa karena korban dan pelaku diketahui memiliki hubungan sebagai ayah dan anak.
Selain Saropi, Nopri juga menjadi pihak yang terlibat dalam kejadian tersebut. Penusukan itu terjadi ketika Antoni diduga menyerang kepala desa, sementara Saropi mencoba menghentikan aksi tersebut. Rangkaian kejadian berikutnya menjadi bagian dari penanganan dan penyelidikan aparat kepolisian.
Kematian Saropi menambah serius persoalan yang bermula dari keributan di lingkungan desa tersebut. Aparat berwenang perlu mendalami penyebab awal pertikaian, kronologi penusukan, serta kondisi para pihak yang berada di lokasi. Keterangan saksi dan bukti di tempat kejadian akan menjadi dasar untuk mengungkap peristiwa secara menyeluruh.
Keributan yang berujung pada penusukan tersebut bermula di depan rumah Kepala Desa. Berdasarkan keterangan Kanit Polsek Indralaya, Ipda Indra Gunawan, Nopri saat itu sedang duduk di depan rumah. Situasi kemudian berubah setelah Antoni datang ke lokasi. Kedatangan Antoni menjadi awal terjadinya perselisihan keduanya di tempat tersebut.
Setelah Antoni tiba, Nopri dan Antoni terlibat keributan. Keterangan mengenai kejadian awal itu disampaikan untuk menjelaskan rangkaian peristiwa sebelum konflik berkembang lebih jauh. Keduanya berada di depan rumah ketika keributan berlangsung. Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam kronologi kasus yang kini ditangani oleh pihak kepolisian.
Dalam konflik itu, Antoni menusuk Nopri sebanyak satu kali. Informasi tersebut merupakan bagian dari keterangan awal yang disampaikan Kanit Polsek Indralaya, Ipda Indra Gunawan. Dengan demikian, rangkaian kejadian yang disebutkan bermula ketika Nopri sedang duduk di depan rumah, kemudian Antoni datang, lalu keduanya terlibat keributan. Setelah keributan terjadi, Antoni melakukan penusukan terhadap Nopri satu kali. Pihak kepolisian masih menggunakan keterangan tersebut sebagai dasar untuk menyusun kronologi peristiwa secara menyeluruh.
Saropi datang ke lokasi setelah melihat keributan yang melibatkan anaknya, Antoni, dan Nopri. Sebagai seorang ayah, ia berupaya menghentikan pertikaian tersebut sebelum situasi berkembang semakin serius. Kehadiran Saropi bukan untuk ikut bertengkar, melainkan untuk memisahkan kedua pihak yang sedang terlibat dalam konflik.
Dalam upaya meredakan suasana, Saropi kemudian memeluk Antoni. Tindakan itu dilakukan agar anaknya berhenti menyerang dan pertikaian dapat segera dihentikan. Namun, usaha Saropi untuk melerai justru berakhir tragis. Ketika Antoni berada dalam pelukannya, pemuda tersebut diduga menusukkan senjata tajam ke tubuh ayahnya sendiri.
Akibat serangan itu, Saropi mengalami lima luka tusuk pada bagian punggung. Luka-luka tersebut membuat kondisinya kritis. Peristiwa itu juga menyebabkan suasana di lokasi kejadian semakin panik, karena korban yang semula berusaha menghentikan keributan justru menjadi sasaran kekerasan.
Saropi kemudian dibawa menuju rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Akan tetapi, luka tusuk yang dideritanya tergolong parah. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Saropi akhirnya meninggal dunia. Kepergiannya menambah berat dampak dari keributan yang melibatkan anaknya dan Nopri tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa upaya spontan untuk melerai konflik dapat berubah menjadi kejadian fatal apabila dilakukan dalam situasi yang penuh emosi dan tanpa pengamanan. Saropi datang dengan maksud menghentikan pertikaian serta melindungi pihak-pihak yang terlibat, tetapi tindakan tersebut justru mengakibatkan dirinya kehilangan nyawa. Kasus ini selanjutnya menjadi perhatian aparat untuk mengungkap rangkaian kejadian, penyebab keributan, serta tindakan yang dilakukan setelah penusukan terjadi.
Dalam penanganan perkara tersebut, kepolisian menyatakan Antoni telah diamankan setelah diduga menusuk kedua korban. Keterangan itu disampaikan oleh Ipda Indra Gunawan sebagai informasi resmi dari pihak kepolisian mengenai langkah yang telah dilakukan setelah peristiwa penyerangan terhadap kepala desa dan kejadian ketika ayah berusaha melerai anaknya.
Ipda Indra Gunawan menegaskan bahwa Antoni diamankan berkaitan dengan dugaan keterlibatannya dalam penusukan terhadap kedua korban. Dengan demikian, informasi yang tersedia untuk saat ini berfokus pada tindakan kepolisian mengamankan orang yang diduga terlibat dalam perkara tersebut. Keterangan ini juga menjadi penutup rangkaian informasi mengenai peristiwa yang menyebabkan seorang ayah tewas saat berupaya melerai anaknya.
Pihak kepolisian belum memberikan keterangan lain di luar informasi bahwa Antoni telah diamankan karena diduga menusuk kedua korban. Oleh sebab itu, uraian mengenai perkara ini dibatasi pada keterangan tersebut. Informasi tentang status hukum Antoni, motif penusukan, jenis senjata yang diduga digunakan, proses penyidikan lanjutan, maupun kondisi Nopri tidak disertakan karena belum tersedia dalam bahan sumber. Perkembangan penanganan perkara selanjutnya tetap menunggu keterangan resmi dari kepolisian.
















