Jakarta | Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan harapan agar kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia ke depan dapat melampaui 20 persen. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya peningkatan peran sektor industri pengolahan dalam memperkuat struktur perekonomian nasional.
Faisol menyampaikan harapan itu dalam Rapat Koordinasi Nasional Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi, dan Lingkungan Kamar Dagang dan Industri Indonesia 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Selasa. Forum tersebut menjadi ruang untuk membahas sejumlah bidang strategis yang berkaitan dengan pengembangan perekonomian dan dunia usaha, termasuk penguatan industri pengolahan.
Menurut Faisol, upaya meningkatkan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB merupakan mandat sekaligus arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Karena itu, sektor tersebut dipandang memiliki peran penting dalam agenda pembangunan ekonomi Indonesia. Peningkatan kontribusinya diharapkan dapat mencerminkan semakin kuatnya posisi industri pengolahan dalam kegiatan ekonomi nasional.
Industri pengolahan mencakup kegiatan yang mengubah bahan baku menjadi barang dengan nilai tambah lebih tinggi. Perannya berkaitan erat dengan pengembangan investasi dan hilirisasi, dua bidang yang turut menjadi pembahasan dalam rapat koordinasi nasional tersebut. Dengan kontribusi yang lebih besar, sektor ini diharapkan semakin menonjol dalam komposisi PDB Indonesia.
Pernyataan Wakil Menteri Perindustrian itu menunjukkan adanya dorongan untuk menempatkan industri pengolahan sebagai salah satu penggerak utama perekonomian. Harapan untuk menembus kontribusi lebih dari 20 persen terhadap PDB menjadi penanda arah penguatan sektor tersebut, sejalan dengan mandat dan arahan Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan dalam forum koordinasi nasional itu.
Faisol menyampaikan bahwa peluang pengembangan industri pengolahan Indonesia didukung oleh kekuatan pasar domestik yang besar. Dengan jumlah penduduk mencapai 287,2 juta jiwa, Indonesia memiliki basis konsumen yang dapat menjadi modal penting untuk memperluas produksi, memperkuat permintaan, sekaligus mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitasnya. Besarnya pasar tersebut memberikan ruang bagi industri untuk menghasilkan lebih banyak produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di dalam negeri.
Menurut Faisol, konsumsi rumah tangga sekitar Rp12,83 triliun berpotensi menjadi salah satu kontribusi terbesar bagi peningkatan perekonomian. Aktivitas konsumsi yang kuat dapat menciptakan permintaan berkelanjutan terhadap barang hasil industri, mulai dari kebutuhan dasar hingga produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri, manfaatnya tidak hanya terlihat pada pertumbuhan penjualan, tetapi juga pada peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan keterkaitan antarsektor.
Hubungan pasar domestik dan kinerja industri menjadi semakin penting karena tingkat utilisasi industri pengolahan masih berada di bawah 70 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa kapasitas produksi yang tersedia belum digunakan secara optimal. Dengan demikian, masih terdapat ruang yang sangat besar untuk meningkatkan kinerja sektor tersebut melalui perluasan pasar, efisiensi proses produksi, serta penguatan daya saing produk.
Faisol menilai peningkatan konsumsi rumah tangga perlu diiringi kemampuan industri dalam merespons permintaan secara cepat dan berkualitas. Pasar domestik yang besar dapat menjadi dasar untuk mendorong investasi, memperbarui teknologi, dan memperluas skala usaha. Jika potensi itu dikelola secara konsisten, peningkatan permintaan tidak hanya menjadi penggerak perekonomian, tetapi juga mendorong produktivitas industri pengolahan agar berkontribusi lebih besar terhadap produk domestik bruto.
Data yang disampaikan Faisol menunjukkan bahwa industri manufaktur, yang dalam klasifikasi statistik juga disebut industri pengolahan, tetap menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Merujuk catatan Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ini tumbuh 5,32 persen pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas produksi, pengolahan bahan baku, serta permintaan terhadap barang hasil industri masih memberikan kontribusi penting bagi pembentukan nilai tambah nasional.
Pada periode yang sama, industri pengolahan menyumbang Rp1.102,88 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB). Besarnya sumbangan itu memperkuat alasan pemerintah untuk mendorong kontribusi sektor manufaktur hingga mencapai 20 persen terhadap PDB. Dari sisi investasi, sumber yang sama menyebutkan bahwa realisasi investasi di dalam sektor tersebut berada di sekitar 38,98 persen. Angka ini mencerminkan posisi strategis industri pengolahan dalam menarik penanaman modal sekaligus memperluas kapasitas produksi.
Kinerja sektor manufaktur berlangsung dalam kondisi ekonomi nasional yang juga mencatat pertumbuhan positif. BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan tersebut. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga turut berperan besar. Keduanya menunjukkan keterkaitan kemampuan produksi industri, permintaan domestik, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
BPS mencatat nilai PDB triwulan II 2026 sebesar Rp6.552,1 triliun berdasarkan harga berlaku. Jika dihitung berdasarkan harga konstan, nilainya mencapai Rp3.576,2 triliun. Perbedaan kedua ukuran tersebut menggambarkan fungsi masing-masing dalam membaca perekonomian: harga berlaku menunjukkan nilai nominal pada periode berjalan, sedangkan harga konstan digunakan untuk menilai pertumbuhan riil dengan mengurangi pengaruh perubahan harga. Data ini menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam mengevaluasi kebijakan industrialisasi, memperkuat investasi, dan meningkatkan daya saing manufaktur.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan industri pengolahan sebagai sumber pertumbuhan terbesar dari sisi lapangan usaha. Pada periode yang dilaporkan, sektor ini memberikan kontribusi sebesar 0,90 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Angka tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan industri pengolahan sebesar 4,52 persen secara tahunan. Dari sisi struktur ekonomi, industri pengolahan memiliki pangsa 18,50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga tetap menjadi salah satu sektor utama dalam pembentukan nilai tambah nasional.
Kontribusi industri pengolahan tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan beberapa lapangan usaha lain yang juga mendukung pertumbuhan ekonomi. Perdagangan memberikan sumber pertumbuhan sebesar 0,83 persen, sedangkan konstruksi menyumbang 0,62 persen. Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi memberikan kontribusi sebesar 0,48 persen. Perbandingan ini menunjukkan besaran sumbangan masing-masing sektor terhadap pertumbuhan berdasarkan data BPS, dengan industri pengolahan berada pada posisi tertinggi di lapangan usaha yang disebutkan.
Selain berperan dalam perekonomian domestik, industri pengolahan juga memiliki keterkaitan penting dengan kinerja perdagangan luar negeri. Faisol menyampaikan bahwa industri pengolahan nonmigas menyumbang 82,40 persen dari total ekspor nasional. Data tersebut menggambarkan besarnya porsi produk nonmigas hasil kegiatan pengolahan dalam ekspor Indonesia. Dengan pangsa 18,50 persen terhadap PDB, pertumbuhan tahunan 4,52 persen, sumber pertumbuhan 0,90 persen, serta kontribusi nonmigas sebesar 82,40 persen dari ekspor nasional, sektor manufaktur tercatat memiliki posisi strategis berdasarkan indikator ekonomi yang tersedia.
Baca juga: Potensi Gempa Megathrust dan Dampaknya Terhadap Jakarta | Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Terhadap Warga Depok dan Bogor | Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau Terhadap Pembelajaran di Depok















