Menu

Mode Gelap
TNI AD Berjuang Bersama Rakyat, Kodim 0820 Peringati Hari Juang Ke-79 Polsek Widang Tingkatkan Patroli di Perbatasan Jelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 Advokat Muda Salamul Huda Nahkodai GP Ansor Kota Probolinggo Masa Khidmat 2024-2029 88 Karateka Ikuti Ujian Kenaikan Tingkat Kodim 1009/Tanah Laut Peringatan Hari Juang Kartika TNI AD Ke-79, Dandim Tanah Laut Ajak Rakyat Bersama TNI Jaga NKRI HUT Ke-10 Sanggar Seni Reog Singo Lawu: Dukungan PKB Marelan

Berita

Fenomena Tanah Jarang: Menggali Lebih Dalam pada Kelangkaan dan Keterampilannya dalam Teknologi Modern

badge-check

Patrolihukum.net — Tanah jarang atau Rare Earth Elements (REE) adalah kumpulan 17 unsur kimia pada tabel periodik, yang meliputi 15 lantanida ditambah skandium dan itrium. Meskipun namanya mengandung kata “langka”, unsur-unsur ini sebenarnya tidak langka di kerak bumi, namun tersebar secara jarang dan sulit untuk diekstraksi dalam jumlah yang signifikan. Logam-logam ini memiliki beragam aplikasi teknologi, mulai dari magnet, laser, hingga penggunaan dalam industri metalurgi.

Sejarah penemuan unsur-unsur tanah jarang dimulai pada tahun 1787 oleh Karl Axel Arrhenius. Namun, pemanfaatan mereka secara luas dimulai pada abad ke-19 dengan penemuan senyawa-senyawa baru yang memicu penelitian lebih lanjut. Kini, unsur-unsur ini memiliki peran penting dalam industri, terutama dalam pengembangan material baru dan teknologi canggih.

Fenomena Tanah Jarang: Menggali Lebih Dalam pada Kelangkaan dan Keterampilannya dalam Teknologi Modern

Sumber utama logam tanah jarang adalah mineral seperti monasit dan bastnaesit, yang sering kali bercampur dengan mineral lain. Proses pemisahan dan ekstraksi menjadi tantangan utama dalam memanfaatkan sumber daya ini secara efisien. Meskipun demikian, potensi besar logam tanah jarang telah mendorong pertumbuhan industri dan inovasi teknologi di berbagai belahan dunia.

Negara Tiongkok merupakan produsen utama logam tanah jarang di dunia, dengan produksi yang mencapai setengah dari total produksi global. Namun, adanya potensi besar dalam sumber daya logam tanah jarang telah menarik perhatian negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk mengembangkan industri ini. Dukungan dari pemerintah dalam bentuk regulasi dan investasi menjadi kunci dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya ini.

Dengan permintaan yang terus meningkat dan keunikan sifat-sifatnya, logam tanah jarang menjadi salah satu material vital dalam perkembangan teknologi modern. Potensinya yang besar tidak hanya dalam aplikasi teknologi, tetapi juga dalam meningkatkan kemandirian industri suatu negara. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Laskar Ronggolawe Nusantara Siap Sukseskan Pesta Rakyat Imlek di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban

23 Februari 2026 - 17:28 WIB

Laskar Ronggolawe Nusantara Siap Sukseskan Pesta Rakyat Imlek di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban

Peran Pengacara Jadi Penentu Saat Rekening Nasabah Diblokir Bank

20 Februari 2026 - 18:19 WIB

Peran Pengacara Jadi Penentu Saat Rekening Nasabah Diblokir Bank

Bukti Keseriusan Polsek Bualemo Tanggapi Polemik Barkot, Baca Disini.

20 Februari 2026 - 14:08 WIB

Bukti Keseriusan Polsek Bualemo Tanggapi Polemik Barkot, Baca Disini.

Ada Negara di dalam Negara, Pihak Perhutani Melarang Penggunaan Kawasan Hutan untuk KDKMP

19 Februari 2026 - 18:38 WIB

Ada Negara di dalam Negara, Pihak Perhutani Melarang Penggunaan Kawasan Hutan untuk KDKMP

Proyek Gedung Koperasi Merah Putih Rp 1,6 Miliar, Transparansi Di Daerah Kabupaten Kediri Dipertanyakan

18 Februari 2026 - 10:39 WIB

Proyek Gedung Koperasi Merah Putih Rp 1,6 Miliar, Transparansi Di Daerah Kabupaten Kediri Dipertanyakan
Trending di Berita