Patrolihukum.net — Ketidakmampuan sistem pertahanan rudal buatan Amerika Serikat, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), kembali menjadi sorotan setelah rudal balistik Yaman berhasil menargetkan wilayah pendudukan rezim Zionis. Serangan tersebut dilakukan untuk mendukung rakyat Palestina, menunjukkan kelemahan signifikan dalam sistem pertahanan canggih ini.
Sebelumnya, Republik Islam Iran melancarkan operasi “Janji Sejati 2,” menargetkan wilayah pendudukan dengan ratusan rudal balistik. Operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas pelanggaran kedaulatan dan serangkaian tindakan brutal rezim Zionis, termasuk pembantaian warga sipil di Palestina dan Lebanon. Dalam serangan itu, rudal-rudal Iran berhasil menghantam target intelijen dan keamanan rezim Zionis, membuktikan efektivitas teknologi rudal Iran sekaligus ketidakefektifan sistem pertahanan musuh.

Pasca serangan Iran, Amerika Serikat segera mengerahkan sistem THAAD untuk memperkuat pertahanan rezim Zionis. Namun, klaim keunggulan teknologi ini segera diuji ketika rudal balistik Yaman, yang dinamai “Palestina 2,” berhasil menembus pertahanan dan menghantam wilayah Tel Aviv. Serangan ini mengungkapkan kelemahan sistem THAAD dalam menghadapi rudal balistik dengan presisi tinggi.
THAAD: Teknologi dan Kelemahannya
Sistem THAAD dirancang untuk mencegat rudal balistik jarak pendek hingga jarak jauh di dalam maupun di luar atmosfer. Proyek ini dimulai pada tahun 1992 dengan Lockheed Martin sebagai kontraktor utama. Setelah serangkaian pengembangan dan uji coba, sistem ini mulai dioperasikan pada tahun 2008.
THAAD memiliki empat komponen utama, yaitu radar canggih dengan jangkauan deteksi hingga 1.000 km, pusat manajemen pertempuran, peluncur yang dapat membawa delapan rudal, dan rudal pencegat dengan kecepatan hingga Mach 8,24. Meskipun secara teknis canggih, serangkaian serangan rudal dari Yaman dan Iran menunjukkan bahwa sistem ini tidak seefektif yang diklaim dalam menangkal ancaman nyata.
Saat ini, selain Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan rezim Zionis merupakan negara-negara yang mengoperasikan sistem THAAD. Namun, efektivitasnya dalam melindungi wilayah sensitif kini menjadi pertanyaan besar setelah serangkaian kegagalan di lapangan.
Dengan serangan balistik terbaru ini, dunia kembali menyaksikan bahwa teknologi modern seperti THAAD tidak selalu dapat menjamin perlindungan terhadap ancaman nyata, terutama ketika berhadapan dengan teknologi rudal yang terus berkembang.
(Edi D/Red/**)





























