Published: Edi D
Patrolihukum.net — Hwasong-17, sebuah Intercontinental Ballistic Missile (ICBM) terbesar yang dimiliki oleh Korea Utara, telah menambah ketegangan di kancah militer global. Dengan diameter 2,4 hingga 2,5 meter dan berat mencapai 80.000-110.000 kg saat terisi penuh, Hwasong-17 adalah salah satu rudal balistik yang paling menakutkan yang dapat menjangkau jarak hingga 15.000 km, cukup untuk mencapai wilayah Amerika Serikat. Rudal ini pertama kali diperkenalkan pada Oktober 2020, menandai kemajuan signifikan dalam kemampuan militer Korea Utara.

Diluncurkan menggunakan Transporter Erector Launcher (TEL), Hwasong-17 dirancang untuk membawa banyak hulu ledak, memungkinkan penetrasi lebih baik terhadap sistem pertahanan rudal musuh. Salah satu teknologi canggih yang diklaim Korea Utara dalam pengembangan Hwasong-17 adalah integrasi satelit dalam sistem Multiple Independent Reentry Vehicles (MIRV). Sistem MIRV memungkinkan satu rudal untuk menjatuhkan beberapa hulu ledak nuklir ke target yang berbeda, meningkatkan kesulitan bagi musuh dalam mempertahankan diri.
Keunggulan teknologi satelit dalam sistem MIRV memberikan keuntungan strategis yang signifikan. Pertama, akurasi penargetan meningkat, karena satelit dapat memberikan data real-time yang memungkinkan hulu ledak diarahkan dengan tepat ke target yang berbeda. Kedua, pengawasan dan kontrol terhadap peluncuran rudal menjadi lebih efektif, membantu dalam pengambilan keputusan strategis yang lebih cepat dan tepat. Selain itu, sistem berbasis satelit memiliki resistensi tinggi terhadap gangguan dari sistem pertahanan musuh, karena satelit dapat beroperasi di luar jangkauan banyak sistem radar dan komunikasi darat.
Namun, peningkatan kemampuan militer Korea Utara dengan Hwasong-17 membawa dampak besar bagi stabilitas kawasan dan keamanan global. Uji coba rudal ini berpotensi meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea dan dapat memicu respons militer dari negara-negara tetangga seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Tidak hanya itu, keberadaan Hwasong-17 dapat mendorong negara-negara di kawasan Asia-Pasifik untuk memperkuat arsenal militer mereka, menciptakan perlombaan senjata yang berpotensi meningkatkan risiko konflik.
Selain itu, pengembangan dan uji coba Hwasong-17 juga dapat menghambat upaya diplomasi dan negosiasi damai, memperburuk hubungan internasional, serta menurunkan stabilitas kawasan. Kemampuan Hwasong-17 yang dapat mencapai target di seluruh dunia meningkatkan ancaman nuklir global, yang berpotensi menarik perhatian lebih besar dari organisasi internasional yang berfokus pada pengendalian senjata.
Dengan berbagai dampak yang dapat ditimbulkan, Hwasong-17 menjadi simbol dari ketegangan yang semakin memanas di kancah global, serta menjadi pengingat bahwa penguatan senjata nuklir oleh satu negara dapat mempengaruhi banyak negara lain di dunia. (**)





























