Patrolihukum.net — Sebuah laporan dari Telegraph mengungkapkan bahwa persenjataan bom yang dimiliki Amerika Serikat saat ini tidak cukup untuk menembus fasilitas nuklir Iran yang dibangun dengan perlindungan ekstra di bawah tanah. Menurut laporan tersebut, pembom strategis B-2 Spirit milik AS hanya mampu menghancurkan target di kedalaman maksimal 61 meter, sementara fasilitas nuklir Iran di Natanz dan Fordow berada di kedalaman hingga 100 meter.
Tidak hanya itu, fasilitas nuklir Iran juga terletak di wilayah pegunungan berbatu yang menambah tantangan dalam menembusnya. Perlindungan ekstra ini membuat situs-situs tersebut hampir mustahil dihancurkan oleh persenjataan konvensional AS, meskipun menggunakan bom penghancur bunker canggih seperti GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP).

Para analis militer menyebutkan bahwa perlindungan semacam ini dirancang untuk mencegah kemungkinan serangan dari negara lain. Keberadaan fasilitas tersebut di kedalaman dan lokasi yang strategis menunjukkan bahwa Iran telah memperhitungkan risiko serangan udara sejak awal pembangunan.
Sementara itu, ketegangan antara AS dan Iran terkait program nuklir terus meningkat. AS sebelumnya telah menuduh Iran mempercepat pengayaan uranium yang dapat digunakan untuk senjata nuklir, meskipun Iran bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.
Laporan ini muncul di tengah perdebatan global tentang bagaimana mencegah potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Perkembangan lebih lanjut mengenai hal ini akan menjadi sorotan utama dalam hubungan internasional ke depan.
Sumber: Telegraph, X.com
Published: Edi D





























