Patrolihukum.net — Setelah serangkaian diskusi yang panjang di antara anggota NATO, Mark Rutte dipilih sebagai pemimpin berikutnya dari aliansi tersebut, menggantikan Jens Stoltenberg yang masa jabatannya berakhir bulan Oktober mendatang.
Mark Rutte, yang menjabat sebagai perdana menteri Belanda selama tiga belas tahun, mengumumkan pengunduran dirinya pada Juli 2023, menyatakan niatnya untuk pensiun dari dunia politik setelah partainya, VVD, menghadapi tantangan besar dalam koalisi pemerintah empat partai. Kritik terhadap kebijakan imigrasi yang dianggap terlalu liberal menjadi salah satu alasan utama perpecahan tersebut.

Meskipun awalnya berencana untuk pensiun, Rutte mengubah pikirannya pada Oktober 2023, menyatakan minatnya untuk mengambil alih sebagai Sekjen NATO. Kampanye diam-diam dilakukan untuk memenangkan dukungan dari sejumlah besar kepala negara anggota NATO, dengan fokus utama pada dukungan terhadap Ukraina.
Namun, hubungan yang tidak harmonis dengan PM nasionalis Viktor Orban dari Hungaria memperlambat proses dukungan dari negara tersebut. Rutte bahkan terpaksa memberikan jaminan bahwa Hungaria tidak akan terlibat dalam inisiatif NATO yang mendukung Ukraina selama kepemimpinannya.
Rutte, yang diakui sebagai pendukung kuat Ukraina, mendapatkan dukungan awal dari Amerika Serikat, yang kemudian diikuti oleh mayoritas anggota NATO lainnya. Dengan pengalaman panjang dalam urusan politik internasional dan komitmen terhadap stabilitas Eropa, kehadiran Rutte di NATO diharapkan dapat membawa arah baru bagi aliansi yang penting ini.
**Redaksi Patrolihukum.net**





























