Perubahan Hormon Kehamilan Dapat Membuat Gusi Lebih Rentan Berdarah

Perubahan Hormon Kehamilan Dapat Membuat Gusi Lebih Rentan Berdarah
banner 468x60

Jakarta | Sebagian ibu hamil mendapati gusinya lebih mudah berdarah, terutama ketika menyikat gigi atau membersihkan sela-sela gigi. Keluhan ini tidak dialami oleh semua orang, tetapi perubahan pada gusi selama kehamilan cukup umum dan sebaiknya tetap diperhatikan. Gusi yang tampak merah, membengkak, lebih sensitif, atau berdarah dapat menandakan peradangan, bukan sekadar perubahan yang perlu diabaikan.

Peradangan gusi yang berkaitan dengan kehamilan dikenal sebagai gingivitis gravidarum. Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan hormon, terutama peningkatan kadar estrogen dan progesteron. Hormon tersebut dapat mengubah respons jaringan gusi terhadap plak, yaitu lapisan bakteri yang menempel pada permukaan gigi. Akibatnya, gusi sebagian ibu hamil dapat bereaksi lebih kuat terhadap iritasi yang sebelumnya mungkin tidak menimbulkan keluhan berarti.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kehamilan membawa beragam perubahan fisiologis dan hormonal yang mendukung perkembangan janin serta mempersiapkan tubuh untuk persalinan. Dampaknya tidak terbatas pada sistem reproduksi. Jaringan periodontal, yakni gusi, ligamen, dan jaringan lain yang membantu menopang gigi, juga dapat terpengaruh. Perubahan aliran darah dan respons peradangan dapat membuat jaringan tersebut terasa lebih peka. Namun, hormon bukan satu-satunya faktor; kebersihan mulut, penumpukan plak, kebiasaan makan, serta kondisi kesehatan gigi sebelumnya turut berperan.

Gusi berdarah saat kehamilan bukan alasan untuk menghentikan kebiasaan menyikat gigi. Pembersihan yang lembut dan teratur membantu mengendalikan plak, sementara menyikat terlalu keras justru dapat melukai gusi. Perhatikan apakah perdarahan berulang, pembengkakan bertambah, atau muncul nyeri dan bau mulut. Bila keluhan menetap atau memburuk, pemeriksaan oleh dokter gigi dapat membantu mengetahui penyebabnya dan menentukan perawatan yang sesuai. Menjaga kesehatan gusi selama kehamilan merupakan bagian dari perawatan kesehatan mulut, dan keluhan tersebut layak dibicarakan tanpa menganggap bahwa setiap kehamilan pasti menimbulkan masalah gusi.

Profesor Dr. drg. Sri Lelyati, Sp.Perio, Subsp. RPID(K), menjelaskan bahwa gusi yang berdarah tidak selalu berkaitan dengan karang gigi atau penumpukan bakteri. Pada masa kehamilan, perubahan hormon juga dapat memengaruhi keadaan jaringan gusi. Karena itu, ketika seseorang mengalami gusi berdarah, faktor yang berperan tidak semestinya langsung dianggap hanya berasal dari kebersihan mulut atau adanya karang gigi. Kondisi tersebut perlu dipahami dengan mempertimbangkan perubahan yang terjadi selama kehamilan, termasuk respons jaringan gusi terhadap keadaan tersebut. Penjelasan ini membantu melihat bahwa keluhan pada gusi dapat memiliki kaitan dengan perubahan hormon, bukan semata-mata satu penyebab tertentu.

Peningkatan hormon kehamilan dapat membuat respons jaringan gusi menjadi lebih berlebihan. Dengan respons yang meningkat tersebut, jaringan gusi dapat menjadi lebih sensitif dan lebih cepat mengalami peradangan atau pembengkakan. Keadaan ini dapat menjelaskan mengapa gusi sebagian ibu hamil terasa lebih rentan atau mudah mengalami keluhan dibandingkan biasanya. Artinya, perubahan yang dirasakan pada gusi tidak selalu menunjukkan bahwa terdapat penumpukan bakteri atau karang gigi sebagai satu-satunya penyebab. Hormon kehamilan turut berperan dalam kepekaan jaringan, sehingga gusi dapat memberikan respons yang lebih nyata terhadap keadaan yang dialaminya.

Pemahaman mengenai kaitan hormon dan jaringan gusi penting agar keluhan tidak disederhanakan sebagai persoalan karang gigi saja. Menurut Profesor Sri Lelyati, peningkatan hormon dapat membuat jaringan lebih peka, sehingga peradangan maupun pembengkakan lebih cepat terjadi. Hal ini tidak berarti setiap gusi berdarah saat hamil pasti disebabkan oleh hormon, tetapi menunjukkan bahwa perubahan hormonal merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Dengan demikian, gusi berdarah pada masa kehamilan dapat dipahami sebagai keluhan yang mungkin berkaitan dengan respons jaringan yang lebih berlebihan, selain kemungkinan kaitannya dengan karang gigi atau penumpukan bakteri. Penjelasan tersebut menempatkan perubahan hormon sebagai bagian penting dalam memahami kondisi gusi selama kehamilan.

Pada Senin, 26 Oktober 2026, Sri Lelyati bersama drg. Jelshagrysna Jessyella Rope menyampaikan edukasi kepada puluhan ibu hamil dalam kegiatan Departemen Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Kegiatan tersebut berkolaborasi dengan Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kehadiran kedua narasumber menjadi bagian dari upaya berbagi informasi kesehatan gigi dan mulut kepada kelompok yang memerlukan perhatian selama masa kehamilan. Perubahan tubuh pada periode ini dapat memengaruhi kondisi jaringan mulut, termasuk gusi. Pemahaman yang memadai membantu ibu hamil mengenali bahwa keluhan pada gusi perlu diperhatikan dan dapat dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Perubahan hormon selama kehamilan dapat membuat jaringan gusi lebih peka terhadap iritasi dan peradangan. Akibatnya, sebagian ibu hamil mungkin mendapati gusinya mudah berdarah, terutama ketika menyikat gigi. Keluhan tersebut tidak sebaiknya dianggap sebagai hal yang harus dibiarkan begitu saja. Menjaga kebersihan mulut secara teratur dan meminta saran profesional apabila mengalami masalah merupakan langkah yang dapat mendukung kesehatan gigi dan gusi. Informasi semacam ini relevan bagi ibu hamil karena membantu mereka memahami kemungkinan perubahan pada mulut serta pentingnya memberi perhatian pada gejala yang muncul. Edukasi kesehatan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan pengetahuan dan mendorong perhatian terhadap kesehatan selama kehamilan.

Kegiatan yang melibatkan Departemen Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dan Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk tersebut menempatkan edukasi bagi ibu hamil sebagai fokusnya. Penyampaian informasi oleh Sri Lelyati dan drg. Jelshagrysna Jessyella Rope kepada puluhan peserta berlangsung dalam konteks perhatian terhadap kesehatan gigi dan mulut pada masa kehamilan. Kolaborasi dengan puskesmas setempat juga menjadi bagian dari penyelenggaraan kegiatan tersebut. Informasi mengenai waktu, pihak yang terlibat, dan kelompok peserta menggambarkan konteks edukasi ini tanpa perlu menambahkan rincian lain mengenai jalannya acara. Bagi ibu hamil, pemahaman tentang perubahan yang dapat terjadi pada gusi dapat membantu mereka lebih tanggap terhadap keluhan dan mempertimbangkan konsultasi bila diperlukan.

Setelah sesi edukasi mengenai perubahan hormon selama kehamilan dan dampaknya terhadap kesehatan gusi, peserta menjalani pemeriksaan kebersihan gigi dan mulut. Pemeriksaan ini menggunakan metode Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S), yaitu indeks sederhana untuk menilai kebersihan rongga mulut. Pelaksanaannya membantu memberikan gambaran terstruktur tentang kondisi yang terlihat saat pemeriksaan, sehingga informasi dari edukasi dapat dihubungkan dengan keadaan masing-masing peserta. Pemeriksaan dilakukan sebagai skrining awal, bukan sebagai pengganti konsultasi atau diagnosis menyeluruh oleh tenaga kesehatan gigi.

Dalam penilaian OHI-S, pemeriksa mengamati keberadaan debris, yakni lapisan lunak yang dapat mencakup sisa makanan dan penumpukan pada permukaan gigi, serta kalkulus atau karang gigi. Kedua hal tersebut dinilai pada bagian gigi tertentu sesuai prosedur pemeriksaan. Hasilnya dapat menunjukkan tingkat kebersihan mulut pada saat skrining dan menjadi dasar untuk membicarakan kebiasaan perawatan yang perlu diperhatikan. Penilaian ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan peserta, melainkan membantu mengenali kondisi secara objektif dan mendorong pemeliharaan kesehatan gigi secara teratur.

Hasil pemeriksaan diharapkan menjadi gambaran awal bagi ibu hamil tentang kebersihan mulutnya, sekaligus pengingat bahwa perawatan gigi dan gusi tetap penting selama kehamilan. Menyikat gigi secara rutin dengan teknik yang tepat, membersihkan sela gigi, serta mengikuti anjuran pemeriksaan dapat membantu menjaga kebersihan rongga mulut. Peserta juga dianjurkan tidak mengabaikan keluhan seperti gusi berdarah, bengkak, nyeri, atau rasa tidak nyaman. Keluhan tersebut sebaiknya disampaikan kepada dokter gigi atau tenaga kesehatan agar dapat dinilai dan ditangani sesuai kebutuhan. Dengan demikian, skrining OHI-S dapat mendukung kewaspadaan, kebiasaan perawatan yang konsisten, dan komunikasi yang lebih baik mengenai kesehatan mulut selama masa kehamilan.

Baca juga: Perubahan Tarif Transjakarta: Apa yang Perlu Diketahui? | Kapolri Ajak Mahasiswa Jadi Agen Perubahan dan Perekat Persatuan | Berita Terkini tentang Perubahan Iklim dan Dampaknya pada Kesehatan Warga Jakarta

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60