Paparan Kabut Asap Karhutla Mengancam Kesehatan Mata, Ini Penjelasan Kemenkes

Paparan Kabut Asap Karhutla Mengancam Kesehatan Mata, Ini Penjelasan Kemenkes
banner 468x60

Jakarta | Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat bahwa kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu saluran pernapasan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mata. Paparan asap dalam waktu tertentu berpotensi menimbulkan keluhan, terutama ketika kualitas udara menurun dan konsentrasi partikel di lingkungan meningkat.

Partikel yang terkandung dalam asap dapat mengenai permukaan mata dan memicu iritasi. Kondisi tersebut biasanya ditandai dengan mata memerah, rasa perih, sensasi terbakar, mata berair, atau munculnya rasa tidak nyaman saat berkedip. Keluhan dapat menjadi lebih terasa pada orang yang beraktivitas di luar ruangan, menggunakan lensa kontak, atau memiliki riwayat gangguan mata.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan peringatan tersebut dalam media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026. Kegiatan itu berlangsung di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa dampak kabut asap terhadap mata perlu diperhatikan sebagai bagian dari risiko kesehatan akibat karhutla.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan pelindung yang sesuai, serta tidak mengucek mata saat iritasi muncul. Mata dapat dibilas dengan air bersih untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman. Apabila mata merah, perih, atau berair terus berlanjut, penglihatan terganggu, atau muncul nyeri yang lebih berat, pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan diperlukan. Langkah tersebut penting agar keluhan tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius, sekaligus membantu menjaga kesehatan mata selama paparan kabut asap masih berlangsung.

Partikel kabut asap karhutla dapat mengganggu kesehatan mata ketika terbawa udara dan masuk ke area mata. Kontak tersebut terutama berkaitan dengan dua mekanisme, yaitu iritasi dan reaksi alergi. Iritasi terjadi ketika partikel asap mengenai permukaan mata, sehingga jaringan yang terpapar memberikan respons terhadap keberadaan bahan pengganggu. Sementara itu, reaksi alergi dapat muncul ketika tubuh mengenali komponen tertentu dalam kabut asap sebagai pemicu respons alergi. Dengan demikian, gangguan mata akibat paparan asap tidak selalu berarti adanya infeksi, melainkan dapat merupakan respons terhadap partikel yang bersentuhan langsung dengan mata.

Risiko gangguan ini dipengaruhi oleh keberadaan partikel di udara dan kemungkinan kontaknya dengan mata. Saat kualitas udara menurun karena kabut asap, partikel dapat lebih mudah berada di sekitar masyarakat dan meningkatkan peluang terjadinya paparan. Karena itu, perhatian terhadap dampak kabut asap perlu mencakup kesehatan mata, meskipun gangguan pada organ tersebut memiliki mekanisme yang berbeda dari gangguan pada saluran pernapasan.

Nadia menjelaskan bahwa persoalan mata akibat kabut asap umumnya tidak sebanyak masalah pernapasan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan asma. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dampak terhadap sistem pernapasan menjadi perhatian yang lebih sering dibahas dalam situasi kabut asap. Namun, perbedaan tersebut tidak berarti paparan pada mata dapat diabaikan. Partikel asap tetap dapat memicu iritasi atau reaksi alergi ketika mengenai mata, sehingga masyarakat perlu memahami bahwa paparan kabut asap berpotensi menimbulkan gangguan pada lebih dari satu bagian tubuh. Penjelasan mengenai mekanisme ini juga membantu membedakan frekuensi persoalan mata dan pernapasan, tanpa mengurangi kewaspadaan terhadap risiko kesehatan mata selama kabut asap berlangsung.

Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di wilayah terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu meningkatkan perlindungan diri, termasuk menjaga kesehatan mata. Nadia mengimbau warga untuk menggunakan kacamata ketika berada di luar ruangan atau di lingkungan yang kualitas udaranya menurun. Penggunaan kacamata dapat membantu mengurangi kontak langsung mata dan asap, sehingga risiko iritasi akibat debu, jelaga, serta partikel lain dapat diminimalkan.

Kacamata hitam dapat menjadi salah satu pilihan perlindungan yang praktis. Selain membantu mengurangi paparan sinar ultraviolet, kacamata hitam juga dapat berfungsi sebagai penghalang tambahan ketika mata terkena serpihan atau partikel asap berukuran besar. Perlindungan ini tidak sepenuhnya meniadakan risiko, tetapi dapat membantu mencegah sebagian partikel langsung mengenai permukaan mata. Sebaiknya masyarakat memilih kacamata yang menutup area mata dengan cukup baik dan tetap nyaman digunakan, terutama saat harus bepergian, bekerja, atau melakukan kegiatan di luar rumah.

Meski demikian, kacamata bukan pengganti langkah pencegahan lainnya. Warga sebaiknya membatasi aktivitas luar ruangan apabila asap semakin pekat, menghindari lokasi dengan konsentrasi asap tinggi, serta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan kondisi karhutla. Jika harus keluar, penggunaan masker yang sesuai juga penting untuk membantu mengurangi masuknya partikel ke saluran pernapasan. Mata hendaknya tidak disentuh dengan tangan yang belum bersih, karena tangan dapat membawa debu dan kuman yang memperburuk iritasi.

Apabila mata terasa perih, berair, merah, atau seperti kemasukan sesuatu, jangan mengucek mata. Tindakan tersebut dapat menggesek permukaan mata dan menyebabkan iritasi semakin berat, bahkan berisiko menimbulkan luka ringan. Sebagai pertolongan awal, bilas mata menggunakan air bersih untuk membantu mengeluarkan partikel pemicu iritasi. Pembilasan dilakukan secara perlahan tanpa menekan atau menggosok mata. Jika keluhan tidak membaik, penglihatan terganggu, nyeri semakin kuat, atau muncul tanda infeksi, masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Profesor Budu, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), menjelaskan bahwa paparan kabut asap karhutla dapat menimbulkan iritasi pada mata. Partikel halus, debu, dan berbagai zat pencemar di dalam asap dapat menempel pada permukaan mata serta mengganggu kenyamanan. Keluhan yang muncul lain mata merah, terasa perih atau panas, gatal, berair, dan menjadi lebih sensitif terhadap cahaya.

Menurut Budu, iritasi sebaiknya tidak dibiarkan, terutama apabila keluhan berlangsung terus-menerus atau semakin berat. Iritasi yang berkelanjutan dapat memicu peradangan pada mata. Kondisi ini bukan hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, melainkan juga berpotensi memengaruhi fungsi sejumlah bagian mata yang berperan dalam menjaga kelembapan permukaannya.

Peradangan tersebut dapat mengganggu bagian mata yang menghasilkan cairan serta komponen pembentuk lapisan air mata. Lapisan air mata berfungsi melindungi permukaan mata, mempertahankan kelembapan, dan membantu mengurangi gesekan ketika mata berkedip. Apabila produksi atau komposisinya terganggu, permukaan mata dapat menjadi lebih cepat kering. Karena itu, paparan asap yang berulang dapat meningkatkan risiko munculnya keluhan mata kering, seperti rasa mengganjal, perih, mudah lelah, dan pandangan yang sesekali kabur.

Budu juga menyebutkan risiko lanjutan apabila iritasi terjadi dalam jangka panjang. Iritasi kronis dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya pterigium, yaitu pertumbuhan jaringan menyerupai selaput pada permukaan mata. Jaringan ini umumnya tumbuh dari bagian putih mata menuju kornea. Selain mengganggu penampilan, pterigium dapat menimbulkan rasa mengganjal dan, jika berkembang lebih jauh, berpotensi mengganggu penglihatan. Penanganan keluhan sejak dini penting dilakukan untuk mencegah gangguan berkembang dan menjaga kesehatan mata.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Kesiap Siagaan Babinsa Bersama Tim Gabungan Padamkan Karhutla Di Buluqsen

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60