Jakarta | Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) menyelenggarakan Liga Tenis Indonesia Seri 2 di Lapangan Tenis Jatayu Mabes AU, Cilangkap, Jakarta Timur. Turnamen tersebut dibuka pada Rabu dan dijadwalkan berlangsung hingga 17 Oktober 2026. Pelaksanaan seri kedua ini menjadi bagian dari agenda pembinaan kompetisi tenis nasional yang mempertemukan pemain dari kelompok usia junior dan atlet yang mulai memasuki jenjang senior.
Seri 2 merupakan kelanjutan dari Liga Tenis Indonesia Seri 1 yang telah berlangsung pada Agustus. Dengan penyelenggaraan berkelanjutan, PP Pelti berupaya menjaga kesinambungan pertandingan sekaligus memberikan kesempatan kepada para atlet untuk memperoleh pengalaman bertanding secara lebih teratur. Kompetisi yang berlangsung di Jakarta Timur ini juga menjadi salah satu wadah bagi pemain untuk mengukur kemampuan mereka melalui persaingan resmi.
Sekretaris Jenderal PP Pelti Andi Fajar Asti mengatakan, tujuan utama liga tersebut adalah menyediakan ruang pertandingan bagi pemain junior yang sedang beralih ke level senior. Masa peralihan itu membutuhkan kesempatan bertanding yang cukup agar atlet dapat beradaptasi dengan tuntutan kompetisi, baik dari sisi teknis maupun mental. Menurutnya, pengalaman tampil menghadapi lawan yang lebih beragam dapat membantu pemain membangun kesiapan sebelum mengikuti turnamen dengan tingkat persaingan yang lebih tinggi.
Keberadaan Liga Tenis Indonesia Seri 2 sekaligus menunjukkan perhatian organisasi terhadap jalur pengembangan atlet dalam negeri. Turnamen tidak hanya berfungsi sebagai ajang perebutan hasil pertandingan, tetapi juga sebagai tahapan untuk memantau perkembangan pemain muda. Melalui kompetisi yang diselenggarakan secara bertahap, atlet diharapkan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk melanjutkan kariernya di level senior dan memperkuat regenerasi tenis Indonesia.
Seri 2 Liga Tenis Indonesia dimulai melalui babak kualifikasi yang telah berlangsung sejak 12 Oktober. Tahap ini menjadi pintu masuk bagi para peserta untuk memperebutkan posisi menuju babak utama. Setiap pertandingan dalam kualifikasi memiliki arti penting karena hanya pemain yang mampu melewati persaingan tersebut yang berhak mengisi tempat di main draw. Dengan format ini, rangkaian pertandingan tidak hanya memberikan kesempatan kepada pemain yang telah memiliki peringkat, tetapi juga membuka jalur kompetisi bagi atlet yang sedang membangun rekam jejaknya.
Panitia menyediakan masing-masing 32 tempat pada main draw kategori putra dan putri. Kuota tersebut mempertemukan pemain yang lolos dari kualifikasi dengan peserta yang langsung memperoleh tempat di babak utama sesuai ketentuan turnamen. Secara keseluruhan, sekitar 120 peserta mengikuti rangkaian pertandingan Seri 2, terhitung sejak tahap kualifikasi. Jumlah tersebut mencerminkan minat yang cukup besar terhadap ajang yang disusun sebagai bagian dari pembinaan dan penguatan ekosistem kompetisi tenis nasional.
Komposisi peserta didominasi oleh pemain yang baru memasuki jenjang senior. Kelompok ini memperoleh pengalaman penting untuk beradaptasi dengan intensitas pertandingan, tuntutan teknis, serta tekanan persaingan di level yang lebih tinggi. Selain itu, terdapat pula petenis junior yang berada pada tahap akhir pembinaan. Kehadiran mereka menunjukkan adanya kesinambungan pembinaan usia muda dan kompetisi senior, sekaligus memberi ruang untuk mengukur kesiapan sebelum menjalani persaingan yang lebih luas.
Liga ini dirancang dalam empat seri yang berlangsung sebagai satu rangkaian kompetisi. Setiap seri memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengumpulkan pengalaman dan menunjukkan konsistensi penampilan. Setelah seluruh seri selesai, penyelenggaraan akan ditutup dengan Liga Master. Tahap penutup tersebut menjadi bagian lanjutan dari format liga, sehingga keseluruhan kalender kompetisi tidak berhenti pada satu turnamen, melainkan membentuk jalur berjenjang bagi para atlet untuk berkembang dan bersaing.
Penyelenggaraan liga tenis ini berangkat dari kebutuhan untuk memperluas ruang kompetisi bagi atlet pada jenjang yang belum banyak terlayani. Menurut Andi Fajar Asti, turnamen junior di Indonesia saat ini tergolong cukup banyak, dengan rata-rata sekitar dua pertandingan yang digelar setiap pekan. Kondisi tersebut memberikan kesempatan yang relatif rutin bagi petenis muda untuk memperoleh pengalaman bertanding sejak berada di kelompok usia junior.
Namun, situasinya berbeda ketika pemain mulai memasuki level senior. Kompetisi pada jenjang tersebut masih sangat terbatas, sehingga atlet yang telah melewati fase junior tidak selalu memiliki kesempatan bertanding secara berkelanjutan. Keterbatasan ini terutama dirasakan oleh pemain yang sedang berada dalam masa transisi, yakni periode ketika mereka tidak lagi berkompetisi sebagai junior, tetapi masih membangun kesiapan untuk bersaing secara penuh di tingkat senior.
Melalui liga yang diselenggarakan secara berkelanjutan, PP Pelti berupaya menyediakan wadah bagi kelompok pemain tersebut. Kompetisi ini dirancang untuk mengisi jarak turnamen junior dan senior, sehingga atlet tetap memiliki agenda pertandingan setelah meninggalkan kategori junior. Dengan tersedianya pertandingan yang lebih rutin, pemain dapat menjaga kesinambungan proses kompetitif selama menjalani masa peralihan menuju level yang lebih tinggi.
Keberadaan kompetisi yang berlangsung secara berkala juga memungkinkan petenis menguji konsistensi permainan mereka dalam situasi pertandingan yang nyata. Setiap penampilan dapat menjadi pengalaman untuk menilai kemampuan, menghadapi lawan dengan karakter berbeda, serta mengenali aspek permainan yang masih perlu ditingkatkan. Dengan demikian, liga tersebut tidak hanya menyediakan kesempatan untuk bertanding, tetapi juga mendukung perkembangan kemampuan atlet melalui pengalaman kompetitif yang lebih teratur dan berkesinambungan.
PP Pelti menempatkan rangkaian Liga Tenis Indonesia sebagai salah satu sarana penting untuk memperkuat pembinaan atlet secara berkelanjutan. Kehadiran kompetisi yang digelar secara berjenjang diharapkan memberikan ruang yang lebih luas bagi petenis muda untuk memperoleh pengalaman bertanding, mengukur perkembangan kemampuan, serta menghadapi lawan dengan tingkat persaingan yang semakin tinggi. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam membangun fondasi prestasi yang tidak hanya bergantung pada latihan, tetapi juga pada kesempatan berkompetisi secara rutin dan terarah.
Melalui rangkaian liga, PP Pelti berharap terbentuk ekosistem pertandingan nasional yang lebih berkesinambungan. Kompetisi yang berlangsung secara terstruktur dapat membantu atlet menjalani tahapan pembinaan dengan sasaran yang jelas, sekaligus memberi gambaran mengenai aspek permainan yang masih perlu dikembangkan. Dengan pengalaman yang terakumulasi dari setiap pertandingan, para petenis diharapkan memiliki kesiapan teknis, mental, dan taktis untuk melangkah ke tingkat persaingan yang lebih tinggi serta melahirkan atlet yang mampu bersaing di arena internasional.
Liga ini juga diproyeksikan menjadi bagian dari persiapan atlet dalam menghadapi berbagai kejuaraan multievent. Jadwal dan persaingan yang terarah dapat mendukung peningkatan kemampuan secara bertahap, sehingga atlet tidak hanya mengejar hasil pertandingan, tetapi juga membangun konsistensi permainan dan pengalaman menghadapi situasi kompetitif. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan pertandingan yang lebih besar dan beragam.
Selain berorientasi pada prestasi, penyelenggaraan liga diarahkan untuk memperkuat ekosistem tenis nasional menuju industri. Penguatan kompetisi, pembinaan, dan keberlanjutan penyelenggaraan diharapkan berjalan sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan tenis yang semakin terorganisasi dan mampu mendukung perkembangan atlet dalam jangka panjang.
Baca juga: Ngopi Bareng Awak Media, Kapolres Kediri Buka Ruang Kritik dan Perkuat Sinergi














