Kota Global | Asisten Pemerintahan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko, berharap Benyamin S Award (BSA) menjadi salah satu pengungkit untuk mempercepat perwujudan Jakarta sebagai kota global. Harapan tersebut disampaikannya saat menghadiri babak final penilaian presentasi BSA di Jakarta Pusat pada Kamis, 15 Oktober. Dalam pandangannya, penghargaan ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang penilaian, tetapi juga mendorong penguatan kepemimpinan di tingkat kelurahan. Melalui proses yang menampilkan gagasan dan kinerja para lurah, BSA diharapkan memperkuat kontribusi aparatur wilayah terhadap pengelolaan kota. Peran tersebut penting karena upaya membangun kota global memerlukan pengelolaan kawasan yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari warga.
Salah satu harapan Sigit ialah agar BSA mengembangkan lurah sebagai urban estate manager, yakni pengelola kawasan perkotaan. Peran ini berarti lurah bertanggung jawab mengelola, merawat, dan mengoperasikan kawasan di wilayahnya. Dengan tanggung jawab tersebut, lurah tidak hanya menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi turut memastikan kawasan perkotaan terpelihara dan berfungsi. Pemahaman tentang peran itu menempatkan kelurahan sebagai bagian penting dalam tata kelola kota. Lurah yang memahami kondisi wilayah dapat mengarahkan perhatian pada kebutuhan kawasan, sekaligus menjaga agar pengelolaan dan perawatan berlangsung secara berkelanjutan. BSA diharapkan mendorong pemahaman serta kemampuan tersebut melalui perhatian pada praktik dan gagasan para lurah.
Sigit juga menilai meningkatnya jumlah peserta dan persaingan untuk menunjukkan keunggulan dapat mempercepat pencapaian harapan tersebut. Partisipasi yang lebih luas membuka ruang bagi lebih banyak lurah untuk menyampaikan cara mereka mengelola kawasan, sedangkan persaingan mendorong peserta menampilkan kinerja dan gagasan terbaik. Proses penilaian presentasi menjadi kesempatan untuk melihat berbagai pendekatan dalam menjalankan tanggung jawab di tingkat kelurahan. Dengan demikian, BSA dapat memperkuat dorongan agar lurah semakin berperan sebagai pengelola kawasan perkotaan. Harapannya, peran itu mendukung upaya mewujudkan Jakarta sebagai kota global melalui pengelolaan kawasan yang tertata, terawat, dan berfungsi dengan baik, tanpa memisahkan kualitas pelayanan wilayah dari tujuan pembangunan kota secara luas.
Sigit menegaskan bahwa kelurahan merupakan basis terdepan penyelenggaraan pemerintahan kota. Pada tingkat inilah berbagai kebutuhan warga terlihat secara langsung, sekaligus menjadi ruang penting untuk menyusun langkah yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Karena itu, kemajuan Jakarta tidak hanya bergantung pada kebijakan di tingkat atas, tetapi juga pada kemampuan pemerintah kelurahan memahami persoalan dan menggerakkan warga untuk ikut mencari jawabannya.
Menurut Sigit, pemerintah dari tingkat kota hingga kelurahan perlu bekerja bersama dalam mengoptimalkan potensi masyarakat. Peran lurah bukan semata menjalankan administrasi, melainkan membangun komunikasi, mendorong kolaborasi, dan membuka kesempatan bagi warga untuk terlibat dalam perbaikan wilayah. Ketika pemerintah dan masyarakat bergerak searah, berbagai gagasan lokal dapat berkembang menjadi inisiatif yang memberi manfaat nyata bagi lingkungan maupun kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks tersebut, Benyamin S Award (BSA) berfungsi sebagai sarana untuk menilai kemajuan wilayah kelurahan. Penilaian mencakup sejumlah aspek yang dekat dengan kualitas lingkungan dan pelayanan, lain kebersihan, kenyamanan, keindahan, serta pemanfaatan teknologi terapan. Aspek-aspek ini memberi gambaran tentang upaya kelurahan dalam menata kawasan dan menghadirkan lingkungan yang lebih baik. BSA juga mendorong tiap wilayah mengenali kekuatan sekaligus ruang perbaikan, sehingga capaian tidak berhenti pada penilaian, tetapi dapat menjadi pemicu peningkatan berikutnya.
Sigit menyampaikan antusiasmenya terhadap partisipasi kelurahan dalam ajang tersebut. Dari 267 kelurahan di DKI Jakarta, sebanyak 52 mengikuti seleksi penjurian, kemudian 10 finalis menjalani penilaian akhir. Tingginya keterlibatan itu menunjukkan bahwa BSA menjadi ruang yang dinantikan para lurah. Mereka berkesempatan menampilkan sekaligus mempresentasikan keunggulan wilayah masing-masing, mulai dari inisiatif warga hingga penerapan gagasan yang mendukung lingkungan. Dengan demikian, BSA bukan hanya kompetisi, melainkan juga panggung untuk berbagi praktik baik dan memperlihatkan kerja bersama di tingkat lokal. Pengalaman tersebut dapat memberi inspirasi bagi kelurahan lain serta memperkuat semangat membangun Jakarta melalui potensi yang tumbuh di setiap wilayah.
Dalam rencana lanjutan Benyamin S Award (BSA) 2026, Kepala Biro Kerja Sama Daerah Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta, Tona Hutauruk, menyampaikan gagasan untuk memperkuat ketersediaan informasi kota yang terpadu. Upaya ini diarahkan agar data yang relevan bagi warga, pelaku usaha, komunitas, dan pengunjung dapat dihimpun dengan lebih teratur. Salah satu usulan yang dibahas ialah penerbitan peta wisata Jakarta, yang dapat membantu masyarakat mengenali beragam tujuan dan layanan di berbagai wilayah. Peta tersebut masih merupakan rencana, sehingga belum dapat diperlakukan sebagai produk yang telah tersedia atau bisa diakses publik.
Selain informasi pariwisata, rencana pengumpulan data juga mencakup taman yang beroperasi selama 24 jam serta informasi mengenai kebersihan dan sampah. Keterangan tentang jam operasional taman berpotensi membantu warga memilih ruang publik sesuai kebutuhan, sementara data kebersihan dapat memberi gambaran mengenai kondisi dan penanganan sampah. Agar informasi tersebut berguna, proses penghimpunannya perlu dilakukan secara konsisten dan melibatkan sumber yang memahami keadaan di lapangan. Gagasan ini berkaitan dengan peran lurah dalam membantu menyampaikan informasi wilayah, sekaligus mendorong koordinasi antarpihak supaya data yang dihimpun lebih lengkap dan dapat diperbarui.
Data wisata, ruang publik, dan kebersihan itu direncanakan terintegrasi agar dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, bukan tersimpan terpisah pada masing-masing unit. Menurut gagasan yang disampaikan Tona, akses melalui satu platform data bersama dapat memudahkan pencarian dan penggunaan informasi lintas kebutuhan. Warga dapat memperoleh gambaran tentang layanan dan kondisi kota, sedangkan perangkat daerah maupun mitra berpeluang menggunakan data sebagai bahan koordinasi dan perencanaan. Namun, platform tersebut juga masih berupa rencana, bukan sistem yang telah diluncurkan. Tahap berikutnya perlu mencakup penyelarasan jenis data, penanggung jawab pemutakhiran, serta tata cara akses. Dengan landasan yang jelas, inisiatif BSA 2026 diharapkan dapat mendukung pengelolaan informasi Jakarta secara lebih terbuka, terhubung, dan bermanfaat bagi berbagai pengguna.
Perjalanan Jakarta menuju kota global tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kota yang mampu bersaing di tingkat dunia juga membutuhkan tata kelola yang dekat dengan warga, layanan publik yang tanggap, serta lingkungan sosial yang kuat. Dalam konteks itu, Benyamin S Award (BSA) berpotensi menjadi salah satu penggerak perubahan, dengan mendorong lurah mengembangkan inovasi dan menggunakan data terpadu untuk mengenali kebutuhan masyarakat secara lebih tepat.
Kontribusi tersebut dapat semakin berarti ketika Jakarta bersiap menyambut peringatan 500 tahun. Momentum bersejarah itu memberi ruang untuk menilai kemajuan kota sekaligus menetapkan arah pembangunan berikutnya. Jika penghargaan mendorong praktik kelurahan yang efektif, pelajaran dari berbagai wilayah dapat membantu pemerintah memperbaiki pelayanan dan memperluas solusi yang sesuai dengan kondisi setempat. Dengan demikian, modernisasi tidak hanya tampak pada wajah fisik kota, tetapi juga dirasakan warga dalam kehidupan sehari-hari.
Tona menekankan bahwa ambisi menjadi kota global sebaiknya berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas asli Jakarta. Kemajuan tidak perlu menghapus keberagaman budaya, sejarah, kebiasaan, dan karakter lingkungan yang membentuk kota ini. BSA dapat memberi perhatian pada inisiatif yang merawat kekhasan tersebut, sembari memperkuat kekompakan antarwarga. Kolaborasi lintas komunitas dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar dapat menjadi bagian penting dari ukuran keberhasilan, bukan sekadar capaian administratif.
Ke depan, Tona berharap BSA dapat diperluas dan direplikasi di wilayah lain, dengan penyesuaian terhadap kebutuhan dan karakter masing-masing daerah.
Baca juga: Persija Jakarta Terpaksa Bermarkas di Bali | Peluang Karir di Jakarta Pusat: Job Fair 2026 Hadir dengan Banyak Lowongan | Pertarungan Sengit: Persija Jakarta Vs. Persib Bandung di Super League 2026/2027
















