Kabupaten Aceh Tenggara | Hujan deras yang berlangsung dalam waktu lama kembali memicu banjir dan longsor di Aceh Tenggara sejak Jumat, 9 Oktober 2026. Dampaknya dirasakan langsung oleh warga, terutama karena genangan merendam lahan pertanian dan sejumlah titik longsor mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut juga menghambat lalu lintas pada jalan nasional Kutacane–Blangkejeren, jalur penting yang menghubungkan kawasan di wilayah tersebut.
Air yang meluap dari kawasan terdampak menggenangi lahan pertanian, sehingga kegiatan warga di area tersebut terganggu. Lahan yang terendam tidak dapat dimanfaatkan seperti biasa selama genangan masih ada. Dampak terhadap pertanian menjadi salah satu perhatian karena kawasan itu digunakan masyarakat untuk menjalankan kegiatan usaha tani. Namun, tingkat kerusakan maupun luas lahan yang terdampak belum dirinci dalam informasi yang tersedia.
Selain banjir, kerusakan tanggul turut menjadi bagian dari dampak yang dilaporkan. Tanggul yang rusak membuat kawasan di sekitarnya menghadapi gangguan akibat aliran air dan genangan. Sementara itu, longsor terjadi di sekitar ruas jalan nasional Kutacane–Blangkejeren. Material longsoran dan kondisi jalan yang terdampak menghambat pergerakan kendaraan, sehingga perjalanan pada jalur tersebut tidak berjalan lancar.
Gangguan di jalan nasional berpengaruh terhadap mobilitas warga dan pengguna jalan yang melintas Kutacane dan Blangkejeren. Kendaraan perlu menghadapi hambatan di area yang terdampak longsor, sementara banjir juga mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lahan pertanian. Rangkaian dampak tersebut menunjukkan bagaimana hujan berkepanjangan dapat mengganggu kehidupan warga sekaligus akses transportasi di Aceh Tenggara.
Banjir dan longsor kembali terjadi setelah curah hujan tinggi berlangsung lama. Kerusakan tanggul, genangan di lahan pertanian, serta hambatan pada jalan nasional menjadi dampak utama yang dilaporkan. Informasi ini menggambarkan gangguan terhadap kegiatan warga dan lalu lintas, tanpa menyebutkan rincian lebih lanjut mengenai besaran kerusakan atau durasi penanganan. Warga dan pengguna jalan di sekitar lokasi pun menghadapi dampak bencana pada aktivitas mereka.
Catatan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebut banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tenggara berdampak pada 783 kepala keluarga atau sebanyak 2.787 jiwa. Angka tersebut menggambarkan jumlah warga yang terdampak di sejumlah wilayah setelah bencana mengganggu permukiman, akses jalan, dan kegiatan masyarakat. Meski demikian, hingga pendataan tersebut disampaikan, tidak ada laporan warga yang mengungsi maupun korban jiwa akibat kejadian itu.
Wilayah terdampak tersebar di beberapa kecamatan. BPBA mencatat Desa Kati Maju di Kecamatan Ketambe, Desa Pulonas Baru di Kecamatan Lawe Bulan, dan Desa Pulo Latong di Kecamatan Babussalam. Dampak juga dilaporkan terjadi di sembilan desa di Kecamatan Bambel. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa gangguan tidak hanya terpusat pada satu titik, sehingga penanganan dan pemantauan perlu menjangkau beberapa kawasan sekaligus. Kondisi setiap desa dapat berbeda, bergantung pada tingkat genangan dan dampak terhadap fasilitas setempat.
Selain rumah dan lahan, banjir turut memengaruhi fasilitas yang dibutuhkan warga. Arus air menggerus hingga menghanyutkan intake sumber air bersih Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lawe Harum milik PDAM Tirta Agara. Kerusakan pada bagian pengambilan air itu berpotensi mengganggu pelayanan air bersih, sehingga kondisi sarana dan langkah pemulihannya menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah serta pengelola layanan.
Genangan juga dilaporkan mengenai gudang logistik BPBD dan fasilitas SMPIT Al Khansa. Tergenangnya gudang dapat mempersulit penyimpanan maupun penyaluran perlengkapan penanganan bencana apabila kondisi darurat berlanjut. Sementara itu, dampak di lingkungan sekolah membuat pemeriksaan fasilitas pendidikan diperlukan sebelum kegiatan belajar dapat berlangsung secara aman. Belum adanya laporan pengungsian dan korban jiwa menjadi catatan penting, tetapi tidak menghapus kebutuhan untuk terus memantau kondisi warga, akses jalan, serta sarana publik yang terdampak. Pendataan lanjutan dapat membantu memastikan kebutuhan tiap wilayah dan menentukan prioritas perbaikan setelah banjir surut.Banjir yang melanda Kecamatan Bambel dan Lawe Sumur di Aceh Tenggara turut menggenangi lahan pertanian, termasuk area tanaman padi dan jagung. Dampak pada sawah dan kebun tersebut menjadi perhatian karena lahan yang terendam berpotensi mengganggu kegiatan budidaya serta memengaruhi kondisi tanaman. Data yang disampaikan mengenai luas terdampak perlu dibaca sesuai rincian masing-masing kecamatan dan jenis komoditas, tanpa menganggap seluruh area memiliki tingkat kerusakan yang sama. Informasi yang tersedia mencatat luasan lahan terdampak, tetapi tidak merinci besarnya kerugian panen atau kondisi setiap petak setelah banjir surut.
Di Kecamatan Bambel, lahan tanaman padi yang terdampak tercatat seluas 74,5 hektare. Selain itu, banjir juga menggenangi 43,24 hektare tanaman jagung di kecamatan tersebut. Kedua komoditas itu menunjukkan bahwa dampak tidak hanya menyentuh area persawahan, tetapi juga lahan jagung yang menjadi bagian dari kegiatan pertanian setempat. Sementara itu, di Kecamatan Lawe Sumur, lahan padi yang terdampak mencapai 36 hektare. Rincian ini menggambarkan sebaran dampak pada dua kecamatan, dengan angka yang berbeda menurut lokasi dan jenis tanaman. Belum ada rincian tambahan dalam data yang menyebutkan berapa bagian tanaman yang rusak atau apakah seluruh lahan mengalami kerusakan serupa.
Angka total dalam bahan laporan tidak sepenuhnya sama. Laporan menyebut luas lahan pertanian terdampak mencapai 154,74 hektare. Namun, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Bahron Bakti, mencantumkan total 153,74 hektare dalam pernyataannya. Kedua angka tersebut perlu disampaikan sebagaimana tercatat, karena sumber yang tersedia menunjukkan perbedaan satu hektare dan tidak menyediakan penjelasan untuk menyelaraskannya. Dengan demikian, rincian lahan di Bambel dan Lawe Sumur tetap dapat dikemukakan secara terpisah, sedangkan total keseluruhan sebaiknya dikaitkan secara jelas dengan sumber masing-masing. Kepastian mengenai luasan akhir maupun kondisi tanaman memerlukan pembaruan data dari pihak terkait. Bagi petani, pendataan lanjutan dapat membantu menentukan kebutuhan penanganan, tetapi informasi yang ada belum memuat hasil pemeriksaan tersebut.
Material longsor yang menutup badan jalan Kutacane–Blangkejeren menghambat pergerakan kendaraan dari kedua arah. Ruas tersebut tidak dapat dilalui dengan lancar karena timbunan tanah dan material lain memenuhi bagian jalan, sehingga arus lalu lintas tersendat dan kemacetan panjang terjadi. Kendaraan yang hendak melintas harus menghadapi hambatan di lokasi, sementara upaya pembukaan akses menjadi bagian penting dari penanganan darurat. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak longsor tidak hanya mengenai lingkungan sekitar, tetapi juga mengganggu konektivitas antarwilayah dan perjalanan masyarakat.
Tim reaksi cepat dikerahkan untuk mendata kondisi di lokasi terdampak dan mendukung langkah penanganan. Satu unit ekskavator digunakan untuk membersihkan material longsoran yang menutup jalan Kutacane–Blangkejeren agar akses dapat dipulihkan. Di sekitar jembatan bailey Pulo Latong, petugas mengeruk serta membersihkan kayu gelondongan yang berada di aliran air. Pembersihan tersebut dilakukan sebagai bagian dari penanganan kondisi aliran di sekitar jembatan. Sementara itu, endapan lumpur yang menutupi ruas Pulonas Baru–Lawe Rutung juga dibersihkan. Penanganan di beberapa titik ini menyasar hambatan yang berbeda, mulai dari timbunan longsor, kayu, hingga lumpur.
Selain membersihkan jalan dan aliran air, alat berat dikerahkan untuk menangani tanggul yang jebol. Pekerjaan mencakup penutupan bagian tanggul yang rusak, pengerukan serta normalisasi sungai, dan penguatan tanggul di sejumlah titik. Langkah-langkah tersebut ditujukan untuk menangani kerusakan sekaligus memperbaiki kondisi sungai dan struktur penahan di area terdampak. Pembersihan material dan pekerjaan pada tanggul dilakukan sebagai respons darurat terhadap gangguan yang muncul setelah banjir dan longsor.
Baca juga: Proyek Pagar Kantor Bupati Aceh Tamiang Disorot, Plang Nilai Kontrak Tak Terpasang, Pemerhati Desak Kajati Aceh Turun Tangan | Tingkatkan Ketahanan Pangan, Kompi Produksi Kodim 0808/Blitar Aktif Kelola Pertanian, Peternakan Kambing dan Perikanan | RAPI Langsa Temukan Tumpukan Kayu dan Sampah Bendung Krueng Langsa, Banjir Rendam Sejumlah Gampong
















