Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono meminta industri pusat data atau data center memperhitungkan kebutuhan air dan dampak lingkungan sebelum membangun fasilitas. Menurutnya, rencana pembangunan perlu disusun dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya di lokasi, agar kegiatan operasional tidak mengabaikan kebutuhan masyarakat maupun keberlanjutan lingkungan. Imbauan itu disampaikan AHY setelah rapat koordinasi swasembada air nasional di kantornya di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Fasilitas data center membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, lain untuk mendukung sistem pendinginan peralatan yang bekerja terus-menerus. Besaran kebutuhan dapat berbeda sesuai skala fasilitas dan teknologi yang digunakan, tetapi penggunaan air tetap perlu menjadi bagian penting dalam kajian sebelum pembangunan dimulai. Perusahaan perlu menghitung kebutuhan operasional secara cermat, sekaligus memahami kapasitas sumber air setempat dan kemungkinan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
Perhatian terhadap kebutuhan tersebut muncul ketika permintaan air dari berbagai pihak terus meningkat. Rumah tangga memerlukan akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, sementara sektor industri lain juga membutuhkan pasokan untuk mendukung kegiatan produksi. Dalam kondisi demikian, pengelolaan air perlu mempertimbangkan beragam kepentingan dan kemampuan sumber daya yang tersedia. Perencanaan pembangunan pusat data sebaiknya tidak hanya berfokus pada kesiapan lahan, energi, dan infrastruktur digital, tetapi juga pada kecukupan air.
AHY menekankan pentingnya perhitungan sejak tahap perencanaan agar pertumbuhan industri berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab. Kajian kebutuhan air dapat membantu pelaku usaha dan pemerintah mengidentifikasi risiko, memilih teknologi yang sesuai, serta menilai langkah pengelolaan yang diperlukan. Dengan begitu, keputusan mengenai lokasi dan skala fasilitas dapat dibuat berdasarkan kondisi setempat, bukan semata-mata pertimbangan investasi. Ketersediaan air bersih bagi warga dan sektor lain juga perlu menjadi perhatian dalam proses tersebut. Pesan ini menjadi relevan seiring berkembangnya layanan digital yang mendorong pembangunan lebih banyak pusat data di berbagai wilayah.
Pembangunan data center perlu direncanakan dengan memperhitungkan kebutuhan sumber daya secara terperinci, bukan hanya melihat kebutuhan fasilitas dan manfaat teknologinya. AHY menekankan bahwa proses pendirian pusat data harus disertai kalkulasi yang cermat mengenai sumber daya yang akan digunakan serta kemungkinan pengaruhnya terhadap lingkungan. Perhatian tersebut penting karena fasilitas semacam ini dapat berhubungan dengan kebutuhan air dan sumber daya lain, sementara ketersediaannya juga menjadi bagian dari kepentingan warga di sekitar lokasi pembangunan.
Dalam pembahasan tersebut, AHY menyampaikan pentingnya perhitungan terperinci sebelum fasilitas didirikan. “Pendirian data center harus dihitung secara detail, termasuk kebutuhan sumber dayanya, dan perlu mempertimbangkan dampak lingkungan yang mungkin muncul,” kata AHY. Penekanan itu menunjukkan bahwa rencana pembangunan perlu memperhatikan kondisi lingkungan sekitar dan tidak mengabaikan potensi dampak terhadap ketersediaan air bersih. Pertimbangan mengenai air menjadi relevan karena pembangunan harus berjalan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat, bukan semata-mata kebutuhan operasional fasilitas.
Pokok mengenai kalkulasi kebutuhan sumber daya dan dampak lingkungan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi. Dalam forum itu, perhatian diarahkan pada perlunya menilai pembangunan secara menyeluruh, termasuk kemungkinan konsekuensinya bagi lingkungan dan akses warga terhadap air bersih. Penekanan pada perhitungan yang terperinci bukan berarti menolak pembangunan data center, melainkan menegaskan perlunya dasar pertimbangan yang memadai sebelum fasilitas dibangun. Dengan demikian, aspek kebutuhan sumber daya dan dampak yang mungkin terjadi dapat menjadi bagian dari pembahasan sejak tahap perencanaan.
Pesan AHY menempatkan ketersediaan air bersih sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika rencana pembangunan dipertimbangkan. Kalkulasi yang cermat dapat membantu memastikan bahwa kebutuhan fasilitas dan kondisi lingkungan sekitar sama-sama diperhitungkan dalam pembahasan. Karena itu, rencana pendirian pusat data sebaiknya tidak dilepaskan dari evaluasi terhadap penggunaan sumber daya serta potensi pengaruhnya bagi warga. Hal tersebut menjadi pokok yang disoroti dalam rapat koordinasi, tanpa mengesampingkan perlunya pembahasan lebih lanjut mengenai dampak yang mungkin muncul.
Pemerintah perlu memastikan bahwa pembangunan data center dan kegiatan ekonomi digital tidak mengurangi akses masyarakat terhadap air bersih. Dalam menanggapi kebutuhan fasilitas digital yang terus berkembang, AHY menekankan pentingnya memperhitungkan dampak penggunaan air sejak tahap perencanaan. Kebutuhan industri patut dipenuhi melalui tata kelola yang jelas, bukan dengan membebankan tekanan tambahan kepada warga di sekitar lokasi. Karena itu, penilaian terhadap sumber air, kapasitas pasokan, serta kebutuhan setempat perlu menjadi bagian dari keputusan pembangunan. Pendekatan ini membantu pemerintah mengenali potensi benturan kepentingan lebih awal dan menentukan langkah pengelolaan yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Pembagian air, menurut perhatian tersebut, perlu dilakukan secara proporsional dengan mempertimbangkan beragam kebutuhan. Rumah tangga membutuhkan pasokan yang aman dan memadai untuk minum, sanitasi, serta kegiatan sehari-hari. Pertanian dan peternakan juga bergantung pada ketersediaan air untuk menjaga produksi pangan dan keberlangsungan usaha. Pada saat yang sama, industri memerlukan air sebagai salah satu sumber daya penunjang operasional. Pengaturan yang adil tidak berarti semua sektor memperoleh jumlah yang sama, melainkan memastikan alokasi mempertimbangkan urgensi, dampak sosial, ketersediaan sumber, dan efisiensi penggunaan. Pemerintah daerah dan pengelola terkait dapat menggunakan data kebutuhan serta kondisi pasokan untuk merancang pembagian yang transparan, termasuk menetapkan prioritas ketika sumber daya terbatas.
Perhatian terhadap pengelolaan air menjadi semakin relevan seiring pertumbuhan penduduk dan ekspansi ekonomi digital. Jumlah penduduk yang bertambah dapat meningkatkan kebutuhan layanan dasar, sementara perkembangan pusat data dan usaha pendukung teknologi berpotensi menambah konsumsi air untuk operasional maupun sistem pendinginan. Perubahan kebutuhan tersebut perlu dipahami sebagai tantangan perencanaan, bukan bukti bahwa suatu krisis air telah terjadi. Pemerintah dapat mendorong pemantauan pemakaian, penggunaan teknologi yang lebih efisien, pemanfaatan kembali air yang memungkinkan, serta konsultasi dengan masyarakat. Dengan memperhitungkan kebutuhan warga dan sektor produktif secara bersamaan, pembangunan fasilitas digital dapat dirancang agar manfaat ekonomi tetap berjalan tanpa mengabaikan akses air bersih dan keberlanjutan pengelolaan sumber daya di tingkat lokal.
Besaran konsumsi air pada setiap pusat data tidak seragam. Kebutuhan tersebut dapat berbeda menurut kapasitas fasilitas, jumlah perangkat yang beroperasi, tingkat pemanfaatan komputasi, serta sistem pendingin yang digunakan. Karena itu, angka penggunaan air dari satu lokasi tidak dapat serta-merta dijadikan patokan untuk seluruh proyek. Pengembang dan pemerintah perlu menilai kebutuhan berdasarkan rancangan dan kondisi masing-masing fasilitas, termasuk sumber air yang tersedia serta kebutuhan masyarakat di sekitarnya.
AHY mendorong agar pertimbangan lingkungan dimasukkan sejak tahap awal perencanaan dan pembangunan pusat data, bukan baru ditangani setelah fasilitas mulai beroperasi. Kajian mengenai kebutuhan air, dampak terhadap sumber daya setempat, dan pilihan teknologi yang lebih efisien sebaiknya menjadi bagian dari proses perancangan. Perencanaan dini juga memberi ruang untuk menentukan lokasi dan infrastruktur pendukung secara lebih cermat, sekaligus mengantisipasi potensi persaingan penggunaan air dengan rumah tangga, pertanian, maupun layanan publik.
Dalam pelaksanaannya, kebutuhan operasional pusat data perlu dipantau secara berkala agar penggunaan air tetap sejalan dengan daya dukung lingkungan. Transparansi mengenai konsumsi dan langkah penghematan dapat membantu pemerintah, pengelola, serta warga memahami dampak fasilitas tersebut. Upaya efisiensi dapat disesuaikan dengan kapasitas dan karakteristik teknologi yang digunakan, tanpa mengabaikan keandalan layanan digital. Dengan pengelolaan yang terukur, pertumbuhan fasilitas dapat direncanakan secara bertanggung jawab dan risiko tekanan berlebihan pada pasokan lokal dapat dikurangi.
Akselerasi industri digital perlu berjalan beriringan.
Baca juga: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Terhadap Wilayah Depok dan Bogor | Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Terhadap Warga Depok dan Bogor | Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau Terhadap Pembelajaran di Depok
















