Operasi Udara Terkendala Asap, Lima Helikopter Belum Bisa Padamkan Karhutla Sumsel

Operasi Udara Terkendala Asap, Lima Helikopter Belum Bisa Padamkan Karhutla Sumsel
banner 468x60

Palembang | Lima helikopter water bombing bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) belum dapat diterbangkan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Armada tersebut merupakan bagian dari satuan tugas udara penanganan karhutla yang disiapkan untuk mendukung operasi pemadaman dari udara. Namun, seluruh helikopter masih menunggu kondisi yang memungkinkan sebelum menjalankan misi.

Pada Selasa, 13 Oktober, lima helikopter itu berada dalam kondisi siaga di Palembang. Kesiagaan tersebut menunjukkan bahwa armada telah disiapkan untuk bergerak ketika situasi penerbangan dinilai aman. Dalam operasi water bombing, helikopter memerlukan jarak pandang yang memadai agar penerbangan, penentuan arah, serta pelaksanaan penjatuhan air dapat berlangsung secara terukur dan tidak membahayakan kru maupun pihak lain di area operasi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Asap menjadi kendala utama yang menyebabkan armada belum bisa diterbangkan. Jarak pandang di area operasi terlalu rendah sehingga penerbangan tidak dapat dilakukan untuk sementara waktu. Kondisi ini membatasi pergerakan satuan tugas udara, meskipun lima helikopter bantuan BNPB telah berada dalam status siaga. Penundaan tersebut juga menegaskan bahwa aspek keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan penting dalam pengerahan armada pemadaman karhutla. Helikopter baru dapat digunakan setelah jarak pandang memenuhi persyaratan yang diperlukan. Selama kondisi asap masih menghalangi pandangan, armada tetap menunggu di Palembang sambil memantau perkembangan situasi dan peluang penerbangan yang lebih aman. Dengan demikian, bantuan udara yang diharapkan dapat mempercepat pemadaman belum bisa dimanfaatkan pada waktu tersebut karena hambatan visibilitas di wilayah operasi.

Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan rencana pengoperasian lima helikopter untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terpaksa dibatalkan. Armada tersebut sebelumnya telah disiapkan untuk diterbangkan menuju sejumlah titik yang terpantau mengalami kebakaran, terutama lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Menurut Ferdian, keputusan pembatalan diambil setelah kondisi jarak pandang kembali memburuk akibat kepulan asap. Situasi tersebut dinilai membahayakan keselamatan penerbangan karena pilot akan mengalami kesulitan dalam melakukan navigasi, menemukan titik sasaran, serta menjaga jarak aman selama operasi berlangsung. Pertimbangan keselamatan menjadi prioritas sebelum helikopter dikerahkan untuk melakukan pemadaman melalui udara.

Ferdian menambahkan, pihaknya akan terus memantau perkembangan jarak pandang di sekitar lokasi karhutla. Penilaian kondisi tersebut akan dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan perubahan arah angin, ketebalan asap, dan tingkat keamanan di jalur penerbangan. Apabila visibility dinilai telah membaik dan memenuhi persyaratan keselamatan, lima helikopter yang telah disiapkan akan kembali dipertimbangkan untuk diterbangkan.

Hingga waktu yang memungkinkan, upaya pemantauan dan penanganan tetap dilakukan dengan menyesuaikan kondisi lapangan. Pengoperasian helikopter akan dilaksanakan setelah tim memastikan seluruh faktor keselamatan terpenuhi, sehingga dukungan pemadaman dari udara dapat berlangsung efektif tanpa menambah risiko bagi personel yang terlibat.

Hambatan penerbangan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan tidak hanya terjadi pada 13 Oktober. Menurut Ferdian, gangguan tersebut telah berlangsung sejak Kamis, 8 Oktober, ketika kondisi atmosfer di sekitar lokasi kejadian mulai menyulitkan pelaksanaan operasi udara. Perubahan situasi berlangsung dinamis dari hari ke hari, sehingga jadwal penerbangan tidak dapat dilakukan secara normal dan harus menyesuaikan kondisi lapangan.

Ferdian menjelaskan bahwa jarak pandang atau visibility di area karhutla berubah-ubah. Pada waktu tertentu, kondisi tersebut masih memungkinkan helikopter melakukan penerbangan, tetapi pada beberapa hari lainnya asap begitu pekat sehingga seluruh helikopter sama sekali tidak dapat mengudara. Situasi ini membuat pelaksanaan operasi pemadaman dari udara bergantung pada penilaian keamanan secara berkala, bukan hanya pada kesiapan armada maupun kebutuhan untuk segera menjangkau titik api.

Penerbangan water bombing juga sempat dilakukan dari Bangka Belitung sebagai bagian dari upaya mendukung penanganan karhutla. Namun, pelaksanaannya menghadapi kendala karena langit di sekitar titik kebakaran tertutup asap tebal. Kondisi tersebut membatasi kemampuan kru untuk melihat area sasaran secara jelas dan menentukan jalur penerbangan yang aman. Karena itu, jarak pandang di lokasi kejadian menjadi pertimbangan utama sebelum operasi udara dijalankan. Setiap penerbangan perlu menunggu kondisi yang memenuhi batas keselamatan, termasuk saat helikopter harus mendekati kawasan yang diselimuti asap. Dinamika visibility ini menjelaskan mengapa lima helikopter yang disiapkan belum dapat beroperasi secara terus-menerus untuk mendukung pemadaman karhutla di Sumsel.

Meskipun operasi pemadaman melalui udara untuk sementara terkendala asap dan jarak pandang, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap berlangsung melalui satgas darat. Personel di lapangan terus dikerahkan untuk memantau, mengisolasi, serta memadamkan titik api yang terdeteksi. Upaya tersebut menjadi penting karena kondisi cuaca kering dan angin dapat mempercepat penyebaran api, terutama pada lahan gambut dan area dengan vegetasi mudah terbakar.

Empat wilayah menjadi fokus penanganan, yakni Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Satgas darat bekerja dengan menyesuaikan strategi terhadap kondisi masing-masing lokasi. Selain melakukan pemadaman langsung, petugas juga berupaya mencegah api meluas dengan membuat sekat bakar dan membasahi area yang berpotensi kembali terbakar. Koordinasi antarpersonel terus dilakukan agar sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara efektif, khususnya di wilayah yang memiliki lebih dari satu titik panas.

Ferdian menyampaikan bahwa medan menjadi salah satu kendala utama dalam operasi tersebut. Sebagian lokasi sulit dijangkau kendaraan maupun personel karena akses terbatas, kontur lahan berat, dan kondisi permukaan yang tidak mendukung pergerakan cepat. Ketersediaan air juga semakin terbatas. Sungai dan kanal mulai mengering sehingga petugas harus menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan sumber air bagi proses pemadaman. Keadaan ini membuat pekerjaan satgas darat membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.

Pemadaman dari udara sebenarnya dapat membantu menjangkau area yang sulit diakses tim darat, sekaligus mempercepat pembasahan pada titik api yang luas. Namun, lima helikopter yang disiapkan masih menunggu kondisi jarak pandang yang aman untuk beroperasi. Keselamatan awak dan ketepatan sasaran menjadi pertimbangan utama sebelum penerbangan dilanjutkan. Sambil menanti cuaca membaik, satgas darat tetap menjalankan pemantauan dan pemadaman di wilayah prioritas.

Baca juga: Kesiap Siagaan Babinsa Bersama Tim Gabungan Padamkan Karhutla Di Buluqsen | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Operasi Pencarian Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60