Radja Nainggolan Kenang Peluang yang Terlewat untuk Berseragam Garuda

Radja Nainggolan Kenang Peluang yang Terlewat untuk Berseragam Garuda
banner 468x60

Jakarta | Radja Nainggolan kembali mengungkapkan penyesalannya karena tidak pernah membela tim nasional Indonesia ketika masih aktif sebagai pesepak bola. Dalam wawancara dengan media Belanda, mantan pemain AS Roma dan tim nasional Belgia tersebut mengenang kembali peluang yang pernah terbuka untuk mengenakan seragam Garuda. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pilihan karier internasionalnya masih menjadi hal yang ia pikirkan hingga saat ini.

Menurut pandangan Radja sekarang, dirinya pernah memiliki kesempatan untuk memperkuat Indonesia. Peluang tersebut tersedia ketika ia masih aktif bermain dan masih dapat menentukan negara yang ingin dibelanya di level internasional. Namun, kesempatan itu tidak diambil ketika situasinya masih terbuka. Ia menyampaikan kembali hal tersebut sebagai sebuah penyesalan atas keputusan yang pernah dibuat dalam perjalanan kariernya.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Radja dikenal sebagai pemain yang pernah memperkuat AS Roma dan tim nasional Belgia. Meski demikian, dalam wawancara tersebut ia kembali menyoroti kemungkinan yang berkaitan dengan Indonesia, negara yang memiliki hubungan dengan dirinya. Ia menilai peluang untuk bermain bagi Indonesia pernah ada, tetapi tidak berlanjut menjadi kenyataan karena keputusan tersebut tidak diambil pada waktu yang tepat.

Pengakuan itu menjadi inti dari penyesalan Radja mengenai pilihan karier internasionalnya. Ia tidak menyatakan bahwa peluang tersebut masih dapat diwujudkan, melainkan mengingat kembali kesempatan yang pernah tersedia saat dirinya masih aktif bermain. Dengan demikian, pernyataannya menegaskan bahwa membela Indonesia pernah menjadi salah satu kemungkinan dalam perjalanan internasionalnya, meskipun pada akhirnya ia tidak pernah tampil untuk tim nasional Indonesia.

Sikap Radja Nainggolan terhadap Indonesia mengalami perubahan besar dalam rentang waktu yang cukup panjang. Ketika pertama kali datang ke Indonesia pada 2013, ia masih berada dalam masa kejayaan karier dan belum melihat alasan untuk mempertimbangkan tim nasional Indonesia. Pada periode tersebut, sepak bola Indonesia belum memberikan kesan yang cukup kuat baginya. Karena itu, gagasan untuk berseragam Garuda tidak pernah menjadi bagian dari pikirannya.

Pandangan tersebut berubah setelah Radja memperoleh kesempatan bermain untuk Bhayangkara FC. Pengalaman itu datang ketika masa terbaik kariernya mulai berlalu, tetapi justru membawanya lebih dekat dengan sepak bola Indonesia serta kehidupan di dalamnya. Setelah merasakan langsung atmosfer kompetisi, lingkungan klub, dan sambutan masyarakat, ia mulai menilai Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Kesempatan membela Bhayangkara FC membuatnya menyadari bahwa keputusan pada masa lalu mungkin tidak sepenuhnya menggambarkan potensi pengalaman yang dapat ia jalani bersama Indonesia.

Pada usia 38 tahun, Radja juga mengaku melihat berbagai hal secara berbeda. Usia dan perjalanan panjang membuatnya menilai kembali pilihan-pilihan yang pernah diambil, termasuk karier internasionalnya bersama Belgia. Ia pernah menjadi bagian dari generasi kuat Belgia, tetapi perjalanan tersebut berakhir di bawah pelatih Roberto Martinez. Pengalaman itu membuatnya merefleksikan kemungkinan lain yang dahulu tidak terpikirkan, termasuk peluang untuk memperkuat negara yang memiliki hubungan keluarga dengannya.

Dalam refleksinya, Radja menyampaikan bahwa ia merasa dapat menjalani karier internasional selama 15 tahun sebagai pemain Indonesia. Pernyataan itu menggambarkan besarnya penyesalan terhadap peluang yang terlewat, bukan sekadar keinginan untuk mengubah sejarah. Setelah membela Bhayangkara FC, ia memahami bahwa keterikatan dengan Indonesia dapat memiliki makna yang lebih kuat daripada penilaiannya ketika pertama kali berkunjung. Perubahan sikap tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman langsung mampu mengubah perspektif seorang pemain terhadap pilihan karier dan identitas sepak bolanya.

Hal lain yang membuat Radja Nainggolan semakin menyesal adalah besarnya fanatisme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola. Menurutnya, antusiasme tersebut terlihat jelas ketika tim nasional menghadapi Vietnam atau Irak. Ia memperkirakan pertandingan melawan kedua negara itu dapat dihadiri sekitar 70 ribu penonton, meskipun ia menilai Vietnam dan Irak bukan tim besar.

Radja juga mengamati bahwa banyak uang beredar dalam sepak bola Indonesia. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang menarik, terutama ketika melihat dukungan finansial dan komersial yang mengelilingi para pemain. Dalam pengamatannya, sejumlah pemain bahkan dikaitkan dengan merek-merek mewah seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex sebagai sponsor.

Perbandingan itu kemudian diarahkan Radja kepada pemain internasional seperti Ivar Jenner. Ia menyebut bahwa Jenner hanya bermain untuk Jong Utrecht, tetapi tetap dapat memperoleh perhatian dalam konteks sepak bola Indonesia. Penyebutan tersebut menggambarkan cara Radja melihat perbedaan posisi seorang pemain di kompetisi Eropa dan besarnya sorotan yang dapat diterima ketika memiliki keterkaitan dengan tim nasional Indonesia.

Pengalaman serta pengamatannya membuat Radja menilai Indonesia memiliki lingkungan sepak bola yang sangat berbeda. Di satu sisi, ia melihat fanatisme penonton melalui potensi kehadiran sekitar 70 ribu orang dalam pertandingan melawan Vietnam atau Irak. Di sisi lain, ia memperhatikan perputaran uang dan kehadiran merek seperti Louis Vuitton, Hublot, serta Rolex di sekitar pemain. Hal-hal tersebut menjadi bagian dari alasan yang membuat peluang mengenakan seragam Garuda terus ia kenang.

Kekaguman Radja Nainggolan terhadap Indonesia tidak semata-mata berkaitan dengan sepak bola. Pengalamannya selama berada di Indonesia membuat ia melihat langsung kehidupan sosial yang menurutnya memiliki keunikan tersendiri. Ia terkesan menyaksikan orang-orang dari latar belakang ekonomi berbeda dapat berada dalam ruang yang sama dan berinteraksi tanpa sekat yang berarti. Bagi Radja, pemandangan tersebut terasa berbeda dari apa yang selama ini ia amati di sejumlah negara Eropa, ketika jarak sosial kelompok kaya dan masyarakat berpenghasilan rendah cenderung lebih terlihat.

Radja menggambarkan suasana yang ia temui pada siang hari. Di dekat gedung apartemen yang menjulang tinggi, sejumlah orang duduk dengan mengenakan kemeja dan dasi. Tidak jauh dari tempat itu, terdapat masyarakat yang mendorong gerobak sambil menjual makanan. Kedua kelompok tersebut tetap berada di lingkungan sosial yang sama tanpa menunjukkan batas yang kaku. Pemandangan itu menjadi pengalaman yang membekas bagi Radja karena memperlihatkan sisi Indonesia yang hangat, terbuka, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia merasa nyaman berada dalam suasana tersebut, termasuk ketika menikmati makanan di warung sederhana.

Kenyamanan itu turut memperkuat penyesalannya karena dahulu tidak sempat mengenakan seragam tim nasional Indonesia. Radja menyadari bahwa keputusan dalam perjalanan karier sepak bolanya telah membuat peluang tersebut berlalu. Jika dapat mengulang waktu, ia mengaku tidak akan ragu untuk membela Garuda. Baginya, kesempatan bermain untuk Indonesia bukan hanya persoalan pertandingan atau prestasi, melainkan juga bentuk kedekatan dengan masyarakat dan negara yang telah memberinya pengalaman berkesan. Namun, keinginan itu kini hanya menjadi angan-angan. Peluang Radja untuk memperkuat tim nasional Indonesia sudah tertutup, sehingga harapan yang pernah ada tidak lagi dapat diwujudkan di lapangan.

Baca juga: Dampak Krisis Pangan dan Peluang Ketahanan Pangan Tradisional

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60