Jejak Baru QRIS Lintas Negara: India, Hong Kong, hingga Arab Saudi

Jejak Baru QRIS Lintas Negara: India, Hong Kong, hingga Arab Saudi
banner 468x60

Jakarta | Perluasan QRIS lintas negara memasuki tahap baru dengan bertambahnya negara yang terhubung dalam ekosistem pembayaran digital Indonesia. Bank Indonesia terus mendorong penggunaan QRIS cross border sebagai sarana transaksi yang praktis, aman, dan semakin mudah diakses oleh masyarakat saat melakukan perjalanan ke luar negeri. Perkembangan ini menunjukkan bahwa QRIS tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembayaran domestik, tetapi juga mulai berperan dalam memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti telah berdiskusi dengan bank sentral India untuk membahas realisasi penerapan QRIS cross border. Pembicaraan tersebut berlangsung sekitar satu bulan sebelum penandatanganan kerja sama dengan Timor Leste. Namun, India masih berada dalam tahap pembicaraan dan belum menjadi bagian dari negara yang secara resmi mengoperasikan layanan QRIS lintas negara. Proses dialog dengan India menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia untuk menjajaki peluang kerja sama pembayaran digital dengan mitra strategis di kawasan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurut Destry, mobilitas wisatawan Indonesia dan India menjadi salah satu alasan penting untuk menghadirkan konektivitas pembayaran tersebut. Wisatawan dari kedua negara membutuhkan transaksi yang lebih mudah dan nyaman, baik ketika berbelanja, menggunakan layanan transportasi, maupun melakukan pembayaran di berbagai destinasi. Sementara itu, Timor Leste resmi menjadi negara ketujuh yang bergabung dalam ekosistem QRIS cross border pada Festival Ekonomi Keuangan Digital, Jumat, 25 September 2026. Bergabungnya Timor Leste memperluas jangkauan pembayaran digital Indonesia sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di kedua negara. Ke depan, pembahasan dengan India dan penjajakan kerja sama dengan negara lain berpotensi memperkuat posisi QRIS sebagai infrastruktur pembayaran regional.

Ekosistem QRIS cross border saat ini telah terhubung secara resmi dengan tujuh negara, membentuk jaringan pembayaran yang semakin luas bagi masyarakat dan pelaku usaha. Konektivitas ini mendukung transaksi inbound, yaitu pembayaran yang dilakukan wisatawan atau pengguna dari luar negeri ketika bertransaksi di Indonesia. Pada saat yang sama, sistem tersebut juga memungkinkan transaksi outbound, sehingga pengguna QRIS di Indonesia dapat melakukan pembayaran pada merchant yang berada di negara mitra.

Tujuh negara yang tercantum dalam koneksi resmi tersebut adalah China, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Timor Leste. Masing-masing koneksi memberikan peluang untuk memperlancar pembayaran lintas negara, khususnya dalam kegiatan pariwisata, perdagangan, pendidikan, serta perjalanan bisnis. Bagi merchant, penerimaan pembayaran melalui jaringan yang saling terhubung dapat mengurangi ketergantungan pada uang tunai dan membantu menciptakan pengalaman transaksi yang lebih praktis bagi pelanggan asing.

Timor Leste menjadi bagian dari daftar negara yang sudah terhubung secara resmi, bersama enam negara lainnya. Posisi ini perlu dibedakan dari sejumlah negara yang sedang dibahas untuk kemungkinan perluasan konektivitas QRIS. India, Hong Kong, dan Arab Saudi belum termasuk dalam koneksi aktif yang telah berjalan. Ketiganya masih berada dalam tahap pembahasan atau penjajakan, sehingga belum dapat disebut sebagai negara mitra QRIS cross border secara resmi.

Pembedaan koneksi aktif dan rencana kerja sama penting untuk menjaga ketepatan informasi. Perkembangan pembahasan memang menunjukkan adanya peluang perluasan jaringan pada masa mendatang, tetapi status resmi hanya berlaku bagi tujuh negara yang telah disebutkan. Dengan demikian, QRIS lintas negara saat ini sudah menyediakan fondasi transaksi inbound dan outbound di Asia, sementara hubungan dengan India, Hong Kong, serta Arab Saudi masih menunggu proses lanjutan sebelum dapat digunakan secara aktif.

Pada 24 September 2026, Bank Indonesia dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) menyepakati nota kesepahaman sebagai landasan untuk memperkuat kerja sama di bidang pembayaran lintas negara berbasis kode QR. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Chief Executive Hong Kong Monetary Authority Eddie Yue. Kesepakatan ini menandai langkah penting dalam mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Hong Kong, khususnya melalui pengembangan infrastruktur pembayaran digital yang dapat mendukung aktivitas ekonomi kedua wilayah.

Ruang lingkup kerja sama tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi kode QR, tetapi juga mencakup penyusunan mekanisme kolaborasi yang efektif. Kedua otoritas akan melanjutkan dialog untuk membahas berbagai aspek teknis, operasional, dan regulasi yang diperlukan. Pembahasan tersebut menjadi tahap penting untuk memahami kesiapan sistem, menetapkan prosedur yang sesuai, serta memastikan bahwa pengembangan konektivitas pembayaran dilakukan dengan memperhatikan keamanan, perlindungan konsumen, dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku di masing-masing yurisdiksi.

Dalam agenda lanjutan, Bank Indonesia dan HKMA juga akan menjajaki skema interoperabilitas pembayaran berbasis QR di Indonesia dan Hong Kong. Penjajakan ini belum berarti bahwa koneksi pembayaran QRIS dengan Hong Kong telah beroperasi, melainkan menunjukkan dimulainya proses pembahasan menuju kemungkinan keterhubungan sistem pada masa mendatang. Melalui mekanisme yang disusun secara bertahap, kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun pembayaran lintas negara yang lebih cepat, terjangkau, transparan, dan inklusif. Manfaatnya diharapkan dapat dirasakan oleh masyarakat, pelaku usaha, serta wisatawan yang melakukan transaksi lintas wilayah, tanpa mengabaikan kebutuhan akan tata kelola dan koordinasi antarlembaga yang kuat.

Arab Saudi menjadi salah satu negara yang diharapkan dapat segera terhubung dalam kerja sama QRIS lintas negara. Harapan tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta, terutama karena konektivitas pembayaran dengan Arab Saudi berpotensi memberikan kemudahan bagi masyarakat Indonesia yang menjalankan ibadah umrah dan haji. Dengan adanya sistem pembayaran yang saling terhubung, kebutuhan transaksi selama berada di Arab Saudi dapat dilakukan secara lebih praktis.

Skema yang diharapkan memungkinkan jemaah melakukan pembayaran langsung melalui ponsel menggunakan saldo yang telah tersedia pada perangkatnya. Dengan demikian, masyarakat tidak harus menukarkan uang terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi. Kemudahan ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada uang tunai dan membuat proses pembayaran dalam berbagai keperluan menjadi lebih sederhana, selama layanan tersebut nantinya telah tersedia dan dapat digunakan di Arab Saudi.

Target Arab Saudi ini berbeda dari sejumlah negara yang telah lebih dahulu terhubung dengan QRIS cross border. Saat ini, terdapat tujuh negara yang sudah memiliki konektivitas tersebut, sedangkan India dan Hong Kong masih berada dalam tahap pembicaraan. Arab Saudi juga masih ditempatkan sebagai harapan kerja sama berikutnya, sehingga belum dapat dipandang sebagai koneksi yang telah berlaku bagi pengguna. Bank Indonesia terus mendorong perluasan konektivitas pembayaran lintas negara agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, termasuk oleh masyarakat yang bepergian untuk keperluan ibadah. Bagi jemaah umrah dan haji, tersedianya pilihan transaksi melalui ponsel dapat menjadi dukungan penting dalam mengelola kebutuhan pembayaran selama berada di luar negeri, tanpa proses penukaran uang di awal.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60