James A. Robinson Soroti Peran Pancasila dalam Keberhasilan Pembangunan Indonesia

James A. Robinson Soroti Peran Pancasila dalam Keberhasilan Pembangunan Indonesia
banner 468x60

Jakarta | Peraih Nobel Ekonomi 2024, James A. Robinson, menyampaikan ketertarikannya untuk memahami Pancasila dan filosofi yang melandasi pembentukan Indonesia setelah berakhirnya masa kolonial. Bagi Robinson, Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan gagasan politik dan sosial yang berperan dalam membentuk arah perjalanan Indonesia sebagai negara merdeka. Ketertarikan tersebut muncul karena Pancasila lahir dalam konteks sejarah yang kompleks, ketika masyarakat Indonesia harus membangun identitas bersama di tengah keragaman etnis, agama, bahasa, dan pengalaman politik.

Robinson menilai perjalanan Indonesia pascakolonial merupakan perkembangan yang penting untuk dikaji. Negara ini menghadapi berbagai tantangan pada tahap awal kemerdekaan, termasuk membangun lembaga, menjaga persatuan, serta menciptakan kondisi yang mendukung pembangunan ekonomi dan sosial. Meskipun prosesnya tidak selalu berjalan mulus, Indonesia mampu melewati sejumlah fase perubahan dan mempertahankan kerangka kebangsaan yang relatif kuat. Dalam pandangan Robinson, pengalaman tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana gagasan dasar negara berhubungan dengan kemampuan suatu bangsa untuk menghadapi perubahan dan mendorong pembangunan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Namun, Robinson berhati-hati dalam menempatkan Pancasila sebagai penyebab utama keberhasilan Indonesia. Ia menyatakan belum dapat memastikan apakah Pancasila merupakan penjelasan paling menentukan atas capaian pembangunan tersebut. Menurutnya, masih diperlukan kajian yang lebih mendalam untuk membedakan pengaruh ideologi dari faktor-faktor lain, seperti kualitas institusi, kebijakan ekonomi, kepemimpinan, kondisi global, dan dinamika masyarakat. Kendati demikian, ia memandang hubungan Pancasila dan perkembangan Indonesia sebagai bidang yang layak mendapat perhatian akademik. Pertanyaan mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila diterjemahkan ke dalam institusi dan kebijakan dapat membantu menjelaskan pengalaman Indonesia secara lebih objektif, sekaligus memperkaya pembahasan tentang pembangunan negara-negara pascakolonial.

Perhatian James A. Robinson terhadap Indonesia tidak berhenti pada Pancasila sebagai ideologi yang menjadi dasar kehidupan bernegara. Minat tersebut juga berkaitan dengan karakter Indonesia yang dibentuk oleh keragaman kebudayaan. Dalam konteks ini, ketertarikannya terhadap filosofi pembentukan negara perlu dipahami bersamaan dengan perhatian pada kenyataan bahwa Indonesia memiliki banyak unsur budaya. Pancasila, dengan demikian, hadir dalam pembahasan bukan sebagai gagasan yang berdiri terpisah dari masyarakat, melainkan sebagai bagian dari upaya memahami negara yang berangkat dari latar budaya beragam.

Bahasa dan suku-suku menjadi contoh penting dari keragaman yang melekat pada Indonesia. Keberadaan berbagai bahasa dan suku-suku menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tidak tersusun dari satu unsur budaya yang seragam. Keragaman tersebut menjadi latar yang perlu diperhatikan ketika membahas gagasan mengenai pembentukan negara. Bagi Robinson, pemahaman terhadap Indonesia karena itu tidak cukup hanya melihat ideologi yang digunakan, tetapi juga perlu mempertimbangkan kebudayaan yang menjadi bagian dari kenyataan sosial negara tersebut. Pancasila berkaitan dengan konteks itu karena pembahasannya menyentuh hubungan prinsip bernegara dan masyarakat yang beragam.

Ketertarikan Robinson terhadap peran Pancasila dalam keberhasilan pembangunan Indonesia juga dapat ditempatkan dalam hubungan filosofi negara dan karakter budaya Indonesia. Filosofi pembentukan negara memperoleh makna ketika dikaitkan dengan kondisi masyarakat yang memiliki banyak bahasa, suku-suku, dan unsur kebudayaan. Keragaman ini bukan sekadar latar tambahan, melainkan bagian dari perhatian terhadap cara Indonesia membangun kehidupan bersama. Dengan melihat hubungan tersebut, perhatian Robinson mencakup dua sisi yang saling berkaitan: Pancasila sebagai ideologi serta Indonesia sebagai negara dengan kebudayaan yang sangat beragam. Perspektif ini membantu menjelaskan mengapa pembahasan mengenai Indonesia tidak dapat dipisahkan dari upaya memahami keragaman yang melekat dalam pembentukan dan perkembangan negaranya.

Dalam pandangan James A. Robinson, pengalaman Indonesia perlu dibaca melalui perbandingan dengan negara-negara pascakolonial lain, termasuk Nigeria dan Republik Demokratik Kongo. Ketiga negara tersebut sama-sama mewarisi persoalan besar dari masa penjajahan. Pemerintahan kolonial dibangun melalui struktur yang bersifat ekstraktif, yakni penguasaan sumber daya dan tenaga masyarakat demi kepentingan penguasa. Struktur itu juga ditopang oleh kekerasan, ketimpangan, serta berbagai bentuk pemaksaan untuk mengendalikan penduduk. Karena itu, kemerdekaan tidak secara otomatis menghapus warisan kelembagaan yang telah terbentuk selama kolonialisme.

Perbedaannya tampak pada proses pembentukan negara setelah masa penjajahan berakhir. Robinson menilai bahwa Indonesia menunjukkan keberhasilan yang sangat besar dalam membangun negara yang relatif mampu mempertahankan kesatuan politik dan mengembangkan institusi nasional. Proses tersebut berlangsung di tengah keragaman etnis, agama, bahasa, dan wilayah yang luas. Dalam konteks ini, Pancasila dapat dipahami sebagai salah satu unsur penting yang menyediakan kerangka bersama bagi kehidupan bernegara. Nilai-nilainya membantu menawarkan dasar identitas politik yang melampaui kepentingan kelompok dan menjadi rujukan dalam merumuskan tujuan kolektif.

Perbandingan dengan Nigeria dan Republik Demokratik Kongo tidak berarti bahwa sejarah ketiga negara dapat disederhanakan menjadi pertentangan keberhasilan dan kegagalan. Masing-masing memiliki kondisi sosial, politik, ekonomi, serta pengalaman kolonial yang berbeda. Namun, keberadaan Pancasila ikut membedakan pengalaman Indonesia karena menyediakan bahasa politik yang dapat digunakan untuk mengikat keragaman dan mendukung pembentukan negara. Penekanan Robinson terletak pada besarnya capaian Indonesia dibandingkan banyak pengalaman negara-negara di Afrika, bukan pada klaim bahwa Pancasila merupakan satu-satunya penyebab keberhasilan tersebut. Stabilitas relatif, kepemimpinan politik, pilihan kelembagaan, dinamika masyarakat, dan faktor sejarah lainnya juga perlu diperhitungkan dalam penilaian yang seimbang.

James A. Robinson menekankan bahwa pembangunan negara tidak hanya bergantung pada kebijakan ekonomi, investasi, atau kapasitas administratif. Menurutnya, proses tersebut memerlukan fondasi ideologi yang kuat agar arah pembangunan memiliki pijakan yang jelas. Ideologi berfungsi sebagai kerangka yang membantu masyarakat dan institusi memahami tujuan bersama, menentukan prioritas, serta membangun legitimasi bagi berbagai upaya pembangunan. Tanpa dasar yang kokoh, pembangunan berisiko berjalan tanpa arah yang konsisten karena tidak ditopang oleh kesepahaman mengenai nilai dan tujuan yang hendak dicapai.

Dalam pandangan Robinson, fondasi yang kuat juga berkaitan dengan kemampuan suatu negara membangun institusi dan menjaga kesinambungan proses pembangunan. Dasar ideologis tidak dipahami sekadar sebagai gagasan abstrak, melainkan sebagai unsur yang memengaruhi cara negara mengatur hubungan pemerintah, masyarakat, dan lembaga-lembaga publik. Karena itu, pengalaman Korea Selatan dan negara-negara lain dapat digunakan sebagai contoh untuk memahami bagaimana sebuah fondasi dibangun dan kemudian berperan dalam mendukung perubahan ekonomi serta kelembagaan. Perbandingan tersebut membantu melihat bahwa keberhasilan pembangunan berkaitan dengan konteks sejarah dan nilai yang menjadi landasannya.

Pandangan itu disampaikan Robinson dalam diskusi yang diselenggarakan Dewan Ekonomi Nasional bersama Prasasti Center for Policy Studies pada Senin, 12 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, ia menempatkan ideologi sebagai salah satu unsur penting dalam menjelaskan perjalanan pembangunan suatu negara. Penekanannya berada pada kebutuhan akan dasar yang kokoh, bukan semata-mata pada hasil pembangunan atau ukuran pertumbuhan ekonomi. Dengan kerangka tersebut, pembahasan mengenai peran Pancasila ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yaitu bagaimana suatu ideologi dapat menjadi fondasi bagi pembentukan arah, nilai, dan institusi yang menopang pembangunan negara.

Baca juga: Komsos Koramil 1710-03/Kuala Kencana Dan Syukuran Selesainya Pembangunan Jembatan Garuda | Pembangunan Jembatan Modular di Lolomoyo Gunungsitoli

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60