Wamen UMKM Dorong AI untuk Penjualan dan Efisiensi, Bukan Sekadar Konten Viral

Wamen UMKM Dorong AI untuk Penjualan dan Efisiensi, Bukan Sekadar Konten Viral
banner 468x60

Jakarta | Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Helvi Yuni Moraza mengingatkan pelaku UMKM agar pemanfaatan media sosial dan kecerdasan buatan (AI) tidak berhenti pada upaya mengejar popularitas atau membuat konten viral. Dalam Indonesia Digital Meetup 2026 di SMESCO Indonesia, Jakarta, Kamis (15/10/2026), ia menekankan bahwa teknologi seharusnya mendukung kebutuhan usaha yang nyata: melayani pelanggan dengan lebih baik, mempercepat akses ke pasar, meningkatkan peluang penjualan, serta membuat kegiatan operasional lebih efisien.

Pesan tersebut mengarahkan pelaku usaha untuk melihat kanal digital sebagai bagian dari sistem bisnis, bukan hanya ruang promosi. Konten yang ramai ditonton memang dapat memperluas perhatian terhadap suatu produk, tetapi perhatian itu belum tentu berujung pada transaksi. Karena itu, penggunaan platform digital perlu disertai langkah yang memudahkan calon pembeli memperoleh informasi, mengajukan pertanyaan, memahami pilihan produk, dan menyelesaikan pembelian. Respons yang cepat dan jelas juga membantu menjaga kepercayaan pelanggan setelah transaksi berlangsung.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ukuran keberhasilan digital, menurut penekanan Helvi, tidak semata-mata terletak pada jumlah pengikut, luas jangkauan, atau banyaknya interaksi. Pelaku UMKM perlu menilai apakah aktivitas digital benar-benar menghasilkan konversi penjualan, memperbaiki komunikasi dengan pelanggan, dan memperkuat sistem usaha. Indikator tersebut membuat evaluasi lebih dekat dengan tujuan bisnis, sekaligus membantu pemilik usaha menentukan kanal dan strategi yang layak dipertahankan. Dengan demikian, angka popularitas tetap dapat menjadi informasi, tetapi bukan satu-satunya tolok ukur untuk mengambil keputusan.

AI pun dapat dipertimbangkan berdasarkan manfaat praktisnya bagi proses usaha. Teknologi ini relevan ketika membantu pelaku UMKM menghemat waktu, menata pekerjaan, atau merespons kebutuhan pelanggan secara lebih teratur—bukan hanya saat menghasilkan materi yang menarik perhatian. Pendekatan yang berorientasi pada layanan dan transaksi mendorong pelaku usaha menghubungkan promosi, komunikasi, dan operasional. Pada akhirnya, pemanfaatan digital yang efektif adalah yang dapat diterjemahkan menjadi pengalaman pelanggan lebih baik dan kegiatan bisnis yang berjalan lebih efisien, sesuai kapasitas serta kebutuhan masing-masing UMKM.

Data yang disampaikan Helvi menunjukkan bahwa pengenalan terhadap kecerdasan buatan telah meluas di kalangan generasi muda dan pelaku usaha. Lebih dari 90 persen dari kelompok tersebut telah mengenal teknologi AI. Angka ini menandakan bahwa AI bukan lagi sesuatu yang asing bagi banyak orang yang aktif dalam lingkungan usaha dan digital. Namun, tingkat pengenalan itu belum sejalan dengan pemanfaatan yang benar-benar mendukung kegiatan bisnis. Kesenjangan tersebut terlihat ketika hanya sekitar 15 persen yang menggunakan AI secara produktif untuk membantu bisnis. Artinya, mengetahui keberadaan teknologi belum dengan sendirinya menjadikan teknologi itu bagian dari proses kerja yang menghasilkan dukungan nyata bagi usaha mereka.

Helvi menekankan bahwa tingginya aktivitas digital tidak otomatis mendatangkan monetisasi. Kehadiran di ruang digital atau intensitas menggunakan teknologi belum tentu berujung pada nilai ekonomi bagi usaha. Yang menjadi perhatian bukan semata-mata apakah pelaku usaha mengenal AI, melainkan apakah mereka mampu memanfaatkannya secara produktif untuk mendukung bisnis. Perbedaan mengenal dan menggunakan secara produktif ini penting karena angka pengenalan yang tinggi dapat memberi kesan bahwa adopsi AI sudah luas. Data tersebut justru menunjukkan masih adanya jarak pengetahuan tentang teknologi dan penerapannya dalam proses usaha yang berorientasi pada penjualan maupun efisiensi.

Pesan Helvi juga menempatkan AI sebagai alat yang dapat dikuasai pelaku UMKM, bukan sebagai pengganti pengusaha. Kehadiran teknologi ini tidak berarti peran pemilik usaha menjadi hilang. Namun, pelaku usaha yang menguasai AI berpotensi melampaui pelaku usaha yang tidak menggunakannya. Karena itu, pembahasan AI bagi UMKM perlu bergerak dari sekadar pengenalan menuju pemanfaatan yang produktif untuk bisnis. Fokusnya bukan hanya membuat aktivitas digital terlihat ramai, tetapi memastikan penggunaan AI mendukung usaha. Kesenjangan lebih dari 90 persen yang mengenal teknologi dan sekitar 15 persen yang memanfaatkannya secara produktif menunjukkan pentingnya perubahan tersebut, tanpa menganggap pengenalan saja sebagai ukuran keberhasilan.

Digitalisasi UMKM menjadi agenda penting karena sektor ini merupakan salah satu penopang utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang disampaikan dalam bahan, Indonesia memiliki sekitar 57 juta UMKM. Usaha-usaha tersebut menyerap hingga 97 persen tenaga kerja dan menyumbang sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto nasional. Besarnya kontribusi itu menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas UMKM dapat berdampak luas, mulai dari penguatan kesempatan kerja hingga pertumbuhan ekonomi. Karena itu, pemanfaatan teknologi tidak hanya relevan bagi perusahaan besar, tetapi juga diperlukan agar pelaku usaha kecil dapat memperluas pasar, memperbaiki produktivitas, dan menjaga keberlanjutan bisnis di tengah persaingan yang terus berkembang.

Urgensi transformasi digital juga berkaitan dengan sasaran ekonomi jangka panjang pemerintah. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029 sebagai bagian dari upaya menuju Indonesia Emas 2045. Untuk mendukung sasaran tersebut, produktivitas dan daya saing pelaku usaha perlu ditingkatkan, termasuk melalui akses yang lebih mudah terhadap teknologi dan layanan pendukung. Digitalisasi dapat membantu UMKM mengelola kegiatan usaha dengan lebih efisien, menjangkau calon pelanggan melalui kanal yang sesuai, serta menggunakan data untuk memahami kebutuhan pasar. Namun, adopsi teknologi perlu diarahkan pada manfaat nyata bagi operasional dan penjualan. Pendekatan tersebut membuat transformasi digital lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari pengusaha, bukan sekadar mengikuti tren.

Salah satu bentuk dukungan pemerintah adalah Sapa UMKM, layanan satu pintu yang dirancang untuk memudahkan pengusaha mengakses berbagai layanan melalui satu akun. Dengan sistem ini, pelaku usaha tidak perlu berulang kali mendaftar ketika membutuhkan layanan yang berbeda. Penyederhanaan akses dapat mengurangi hambatan administratif dan membantu UMKM menemukan dukungan yang tersedia dengan lebih praktis. Basis data Sapa UMKM mencakup 12,7 juta pelaku usaha, sementara lebih dari 37.000 UMKM aktif menggunakan layanan tersebut. Angka itu memperlihatkan jangkauan platform sekaligus menunjukkan ruang untuk meningkatkan partisipasi. Agar manfaatnya semakin luas, pendampingan dan sosialisasi tetap penting, sehingga pelaku usaha memahami layanan yang relevan dan dapat memanfaatkannya untuk memperkuat kegiatan bisnis.

Pemerintah menetapkan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2026 sebesar Rp295 triliun dengan suku bunga tetap 6 persen. Skema pembiayaan ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi pelaku UMKM yang membutuhkan modal untuk memperkuat kegiatan usaha. Helvi mengimbau agar fasilitas tersebut dimanfaatkan secara produktif dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan usaha, bukan sekadar digunakan tanpa perencanaan yang jelas. Dengan perhitungan yang matang, pembiayaan dapat mendukung pengembangan usaha sekaligus membantu pelaku UMKM menjaga keberlanjutan arus kas.

Pemanfaatan KUR, menurut Helvi, dapat diarahkan untuk investasi yang menunjang operasional dan penjualan. Pelaku usaha, misalnya, bisa mempertimbangkan sistem kasir digital untuk mencatat transaksi, memantau persediaan, dan memahami pola pembelian pelanggan. Teknologi operasional lain juga dapat membantu proses kerja menjadi lebih tertata dan efisien. Sebelum mengambil pembiayaan, UMKM sebaiknya menilai manfaat investasi, biaya penggunaan dan pemeliharaan, serta kesiapan tim dalam mengoperasikan perangkat atau layanan tersebut. Pilihan teknologi perlu menjawab kebutuhan nyata agar dana usaha digunakan secara tepat guna.

Penggunaan AI dan teknologi digital juga perlu disertai perhatian terhadap etika dan keamanan. Helvi mengingatkan pelaku UMKM untuk menjaga keamanan siber, melindungi data pribadi konsumen, dan memastikan informasi pelanggan dikelola secara bertanggung jawab.

Baca juga: Purbaya Dicopot Prabowo, Ucapannya Soal “Negara Bukan Ladang Jarahan” Kembali Viral | Kasus Penjualan Kerbau Titipan Berujung Masalah Hukum

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60