Published: Edi D
Kyiv, Patrolihukum.net – Pada Rabu, 1 Mei 2024, Rusia melancarkan serangan rudal balistik ke Odesa, Ukraina, yang mengakibatkan kebakaran hebat di gudang Nova Poshta, perusahaan logistik terbesar di Ukraina. Serangan tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga memicu perdebatan mengenai senjata dan taktik baru yang digunakan oleh Rusia.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh media Ukraina pada Jumat (3/1/2025), Rusia diduga menggunakan teknologi peperangan elektronik canggih untuk mengecoh sistem pertahanan udara Ukraina. Para analis militer menduga bahwa Rusia meluncurkan sejumlah target tak dikenal dengan kecepatan yang sangat tinggi, antara 7.500 hingga 8.000 km/jam. Kecepatan ini berada di antara kecepatan rudal balistik Iskander-M dan rudal hipersonik Kinzhal, dua senjata yang diketahui Rusia miliki.
Namun, surat kabar Focus mengungkapkan bahwa fenomena yang tercatat di radar Ukraina ini merupakan hasil dari operasi peperangan elektronik Rusia, yang dirancang untuk membingungkan sistem radar pertahanan udara Ukraina. Operasi ini mencakup peluncuran rudal balistik Iskander-M ke Provinsi Chernihiv di utara Ukraina, yang diharapkan dapat menutupi jejak serangan sebenarnya.
Komando Angkatan Udara Ukraina mengkonfirmasi bahwa Rusia melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi dengan tiga rudal balistik Iskander-M yang diarahkan ke Provinsi Chernihiv. Selain itu, tiga rudal jelajah taktis Kh-59/69 juga ditembakkan ke Provinsi Dnipro. Tak hanya itu, pasukan Rusia juga meluncurkan 32 drone Geran serta pesawat umpan dan lima rudal S-300 yang telah dikonversi untuk tujuan serangan.
Dalam responsnya, pasukan pertahanan udara Ukraina berhasil menembak jatuh tiga rudal Kh-59/69 dan 13 drone, meskipun 19 pesawat umpan yang digunakan Rusia tidak menimbulkan kerusakan signifikan. Serangan rudal di Chernihiv menyebabkan satu korban jiwa dan lima lainnya terluka. Sementara itu, serangan drone di Kyiv juga mengakibatkan lima warga sipil terluka.
Pejabat Ukraina menyebutkan bahwa Rusia kini telah mengembangkan taktik peperangan elektronik yang semakin canggih. Salah satu teknologi yang digunakan adalah pemancaran gelombang elektromagnetik untuk mensimulasikan keberadaan rudal hipersonik Kinzhal, yang dapat menyebabkan kebingunguan lebih lanjut bagi sistem pertahanan udara Ukraina.
Perang informasi dan teknologi ini semakin memperlihatkan betapa pentingnya adaptasi strategi militer di tengah perkembangan pesat teknologi peperangan yang semakin kompleks. Dengan serangan dan taktik yang semakin terkoordinasi serta penggunaan peperangan elektronik, Rusia jelas berusaha menguji batas kemampuan pertahanan udara Ukraina.




























