Patrolihukum.net — Imigran Yaman, khususnya kaum Ba’alawi, memiliki cerita kelam yang jarang terungkap di Bumi Nusantara. Mereka dibawa oleh Penjajah Hindia Belanda dengan tujuan imperialisme dan politik rasisme.
Sejarah mencatat bahwa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengalami “traumatik” akibat serangkaian perlawanan pribumi Nusantara. Perlawanan ini mengakibatkan kebangkrutan besar-besaran dan terpecahnya Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menjadi beberapa bagian, termasuk Luxenburg dan Belgia, serta beberapa daerahnya yang dianeksasi oleh negara lain di Eropa.

Untuk meredam perlawanan tersebut, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melakukan politik rasisme melalui segregasi kelas. Mereka melabeli clan Ba’alawi yang bukan Dzuriah Rosul menjadi Dzuriah Rosul untuk menenangkan perlawanan, terutama dari umat Islam yang tersebar di berbagai kesultanan di Nusantara.
Kolonial Hindia Belanda kemudian mendatangkan imigran yang siap bermigrasi secara besar-besaran dengan iming-iming yang sangat menggiurkan. Imigran Yaman mau menempuh risiko berpindah dari negeri asalnya yang jauh dengan alasan kondisi negeri Yaman yang sangat miskin serta jaminan kemakmuran dan fasilitas dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
William Shakespeare pernah berkata, “Tamu yang tak diundang, sering kali disambut baik ketika mereka pergi.” Ungkapan ini menggambarkan perasaan masyarakat pribumi terhadap imigran yang datang tanpa diundang, namun dengan tujuan dan latar belakang yang kontroversial. Ini bukan masalah pribadi atau dendam, tetapi perlu dipahami oleh masyarakat luas agar mereka benar-benar merdeka di negerinya sendiri. (**)
















