Jakarta | Mata uang Asia bergerak beragam pada awal perdagangan pekan, Senin, 12 Oktober 2026. Dolar Amerika Serikat (AS) terkoreksi tipis setelah mencatat penguatan dalam beberapa sesi sebelumnya, tetapi posisinya masih berada di sekitar level tertinggi dalam 18 bulan. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam menentukan arah transaksi, terutama karena tekanan terhadap mata uang regional belum sepenuhnya mereda.
Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.26 WIB, enam dari 10 mata uang Asia tercatat menguat terhadap dolar AS. Sementara itu, tiga mata uang melemah dan satu mata uang bergerak stagnan. Data tersebut menunjukkan bahwa respons pasar di kawasan berlangsung tidak seragam. Pelemahan terbatas pada indeks dolar belum cukup kuat untuk mendorong seluruh mata uang Asia bergerak ke zona positif secara bersamaan.
Perbedaan arah tersebut mencerminkan pengaruh sejumlah faktor domestik dan eksternal yang bekerja secara bersamaan. Selain mengikuti perubahan nilai dolar AS, investor mencermati prospek suku bunga, arus modal, kondisi perdagangan, serta perkembangan ekonomi di masing-masing negara. Mata uang yang menguat memperoleh dukungan dari permintaan terhadap aset regional, sedangkan mata uang yang melemah masih menghadapi tekanan dari kebutuhan dolar dan sikap investor yang cenderung selektif.
Pergerakan awal sesi juga belum dapat menjadi gambaran pasti mengenai arah perdagangan sepanjang hari. Dolar AS yang masih dekat dengan level tertinggi 18 bulan menjaga risiko volatilitas, meskipun koreksi kecil memberikan ruang bagi sebagian mata uang Asia untuk menguat. Dengan demikian, pasar regional memasuki pekan ini dalam kondisi yang terfragmentasi: penguatan terjadi pada sebagian mata uang, sementara lainnya tetap tertekan atau belum menunjukkan perubahan berarti. Perkembangan sentimen global dan data ekonomi berikutnya berpotensi menentukan apakah pola beragam tersebut akan bertahan hingga penutupan perdagangan.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di sejumlah mata uang Asia pada awal perdagangan. Won menguat 0,41% menjadi KRW1.334,9 per dolar AS. Kinerja tersebut menempatkannya di posisi teratas ketika mayoritas mata uang kawasan bergerak positif terhadap dolar AS. Penguatan won mencerminkan posisi yang lebih baik dibandingkan rupiah, yang justru mengalami pelemahan pada sesi perdagangan yang sama.
Setelah won, ringgit Malaysia menguat 0,10%, diikuti dolar Singapura yang naik 0,09%. Yen Jepang bertambah 0,08%, sedangkan dong Vietnam meningkat 0,07%. Baht Thailand juga bergerak di zona positif, meskipun penguatannya relatif terbatas, yakni 0,03%. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar mata uang utama Asia mampu mencatat kenaikan pada awal perdagangan, meski dengan besaran yang berbeda-beda.
Di sisi lain, beberapa mata uang masih berada di bawah tekanan. Dolar Taiwan melemah paling dalam, yaitu 0,11%. Rupiah turut tertekan dengan penurunan 0,06% ke level Rp17.885 per dolar AS. Pelemahan ini membuat rupiah tidak mengikuti penguatan mayoritas mata uang Asia pada awal perdagangan. Yuan China turun tipis 0,01%, sementara peso Filipina bergerak stagnan tanpa perubahan berarti. Perbedaan arah tersebut memperlihatkan bahwa kinerja rupiah relatif lebih lemah dibandingkan won, ringgit, dolar Singapura, yen, dong, dan baht. Tekanan terhadap rupiah juga berlangsung ketika sentimen regional secara umum masih memberikan dukungan bagi sejumlah mata uang Asia, sehingga pergerakannya menjadi salah satu perhatian dalam perdagangan valuta asing kawasan.
Indeks dolar AS, atau DXY, turun 0,07% menjadi 102,145 dalam perdagangan Asia pada pagi itu. Meskipun melemah secara terbatas, posisi tersebut masih berada dekat level tertinggi dalam 18 bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap dolar tetap kuat, terutama ketika pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko global dan mencari aset yang dinilai lebih aman.
Salah satu faktor utama yang menopang mata uang AS adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta kekhawatiran terhadap arah harga energi. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi. Dua kapal tanker juga dilaporkan diserang pada akhir pekan, sehingga risiko gangguan terhadap jalur perdagangan dan infrastruktur energi kembali menjadi perhatian pasar.
Pergerakan dolar tersebut berlangsung meskipun harga minyak Brent justru turun sekitar 1% menjadi US$103,55 per barel. Penurunan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata energi Rusia dan Ukraina pada pekan sebelumnya. Kesepakatan tersebut sempat meredakan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak global, tetapi perkembangan keamanan di Timur Tengah berpotensi membatasi penurunan harga komoditas.
Analis Commonwealth Bank of Australia menilai Houthi kemungkinan terus menyerang aset energi Arab Saudi. Jika serangan berlanjut, risiko pasokan dapat menopang harga minyak sekaligus mempertahankan dukungan bagi dolar AS. Bank tersebut juga menyatakan bahwa belum terlihat terobosan besar dalam upaya perdamaian AS-Iran pada pekan ini. Penilaian itu tetap berlaku meskipun Iran telah mengonfirmasi menerima proposal perdamaian dari AS melalui perantara. Karena itu, pasar masih menunggu bukti konkret mengenai kemajuan diplomatik sebelum mengurangi premi risiko yang melekat pada aset energi dan mata uang AS.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat untuk September yang dijadwalkan pada Rabu. Data inflasi tersebut menjadi salah satu laporan ekonomi penting terakhir yang akan tersedia sebelum rapat kebijakan The Federal Reserve pada akhir Oktober. Karena itu, angka IHK berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, serta mata uang negara-negara Asia, termasuk rupiah, won, dan ringgit.
The Fed menaikkan suku bunga pada September, untuk pertama kalinya sejak 2023. Keputusan tersebut membuat pasar menilai kembali apakah tekanan inflasi masih cukup kuat untuk mendorong kenaikan lanjutan atau justru mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Data September akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan bank sentral AS, terutama setelah sejumlah indikator ekonomi memberikan gambaran yang beragam mengenai ketahanan permintaan dan tekanan harga.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini mencapai 81%, meningkat dari 51% sebulan sebelumnya. Perubahan ekspektasi itu menunjukkan bahwa pasar mulai memperkirakan adanya jeda setelah kenaikan suku bunga pada bulan lalu. Namun, keyakinan tersebut masih dapat berubah apabila inflasi tercatat jauh di atas atau di bawah perkiraan konsensus.
Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi memberi ruang bagi dolar AS untuk mengambil napas setelah menguat dalam beberapa waktu terakhir. Barclays menilai reli dolar dalam jangka pendek berpeluang tertahan, terutama jika data menunjukkan tekanan harga mulai mereda. Selain itu, gejolak besar di pasar obligasi dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat kondisi keuangan global. Situasi tersebut dapat mendorong pejabat The Fed menggunakan nada yang lebih menenangkan menjelang rapat Oktober, khususnya apabila laporan inflasi memperkuat bukti bahwa tekanan harga sedang menurun.
Baca juga: Pergerakan IHSG dan Nilai Tukar Rupiah di Awal Perdagangan | Rupiah Melemah Tipis, Dolar AS Naik Perlahan | Indeks Harga Saham Gabungan Menguat Menuju Level 6.700
















