Raffi Ahmad Dorong Anak Muda Hadapi AI dengan Percaya Diri dan Berkarya

Raffi Ahmad Dorong Anak Muda Hadapi AI dengan Percaya Diri dan Berkarya
banner 468x60

Jakarta | Raffi Ahmad menyampaikan pesan agar anak muda tidak perlu takut menghadapi kemajuan kecerdasan buatan (AI). Pesan tersebut ditujukan kepada peserta Indonesia Youth Summit (IYS) 2026, yang berkumpul untuk membahas peran dan tantangan generasi muda. Dalam pandangan Raffi, kemunculan teknologi baru memang dapat memunculkan pertanyaan tentang perubahan cara bekerja dan berkarya. Namun, perkembangan itu tidak seharusnya membuat anak muda kehilangan keberanian untuk melangkah. Mereka tetap perlu percaya diri, memahami perubahan yang terjadi, dan terus mengembangkan kemampuan serta gagasan mereka.

Pernyataan itu disampaikan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Jumat. Dalam acara tersebut, Raffi, yang menjabat Staf Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, hadir bersama Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir. Keduanya menanggapi pertanyaan moderator mengenai tantangan yang dihadapi generasi muda di tengah perkembangan AI. Pertanyaan itu menempatkan kemajuan teknologi sebagai salah satu isu yang perlu dipikirkan peserta, bukan semata-mata sebagai ancaman. Respons Raffi menekankan perlunya melihat kemampuan manusia ketika membicarakan teknologi yang dibuat dan digunakan oleh manusia.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Raffi menjelaskan bahwa AI diciptakan oleh manusia, sedangkan manusia memiliki hati dan AI tidak. Perbedaan tersebut menjadi inti dari pesannya: kecerdasan buatan dapat berkembang sebagai teknologi, tetapi ia tidak memiliki hati sebagaimana manusia. Karena itu, menurut pesan yang ia sampaikan, anak muda tidak perlu merasa gentar seolah-olah teknologi sepenuhnya menggantikan nilai dan kemampuan manusia. Penjelasan tersebut tidak meniadakan besarnya perubahan yang dibawa AI, melainkan mengingatkan bahwa manusia tetap memiliki sisi yang berbeda dari mesin.

Bagi peserta IYS 2026, dorongan itu mengarah pada sikap yang terbuka dan yakin saat berhadapan dengan perubahan. Anak muda dapat terus berkarya sambil mempelajari teknologi, tanpa membiarkan rasa takut menghambat kreativitas atau partisipasi mereka. Pesan Raffi mengajak generasi muda untuk menempatkan AI sebagai bagian dari perkembangan zaman, sekaligus menyadari keunikan manusia yang ia tekankan. Dengan demikian, pembahasan tentang AI tidak hanya berpusat pada kemampuan mesin, tetapi juga pada bagaimana manusia membawa hati, gagasan, dan karya dalam menghadapi masa depan.

Raffi Ahmad menilai perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini terasa di berbagai bidang kehidupan, termasuk industri perfilman dan hiburan. Teknologi ini tidak lagi hanya dibicarakan sebagai alat bantu di balik layar, tetapi juga hadir dalam karya yang dapat dijumpai langsung oleh masyarakat. Di media sosial, misalnya, mulai beredar film maupun serial pendek yang menampilkan tokoh-tokoh seolah hidup dan diperankan oleh figur buatan AI. Kehadiran konten semacam itu menunjukkan bahwa proses penciptaan karakter dan penyajian cerita dapat berubah seiring semakin mudahnya teknologi diakses.

Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan tentang posisi manusia dalam industri kreatif. Pembuat konten digital, sineas, penulis, animator, hingga para pekerja kreatif lainnya dapat merasa khawatir ketika melihat AI mampu menghasilkan gambar, suara, atau adegan dalam waktu singkat. Sebagian mungkin membayangkan bahwa teknologi akan mengambil alih tugas-tugas yang selama ini membutuhkan keahlian, pengalaman, dan kerja sama banyak orang. Kekhawatiran itu semakin kuat ketika karya berbasis AI tampak semakin meyakinkan dan beredar luas, sementara batas produksi manusia dan produksi mesin tidak selalu mudah dikenali oleh penonton.

Dalam konteks diskusi tersebut, kekhawatiran para pelaku kreatif perlu dipahami sebagai tanggapan terhadap perubahan yang sedang berlangsung, bukan sebagai kepastian bahwa pekerjaan manusia akan hilang. AI dapat memengaruhi cara karya dibuat, mempercepat tahapan tertentu, atau membuka pilihan baru dalam bercerita, tetapi hasil kreatif tetap berkaitan dengan gagasan, pertimbangan, dan pengalaman manusia. Karena itu, pembicaraan mengenai teknologi ini tidak semestinya hanya berpusat pada ancaman penggantian tenaga kerja. Perlu pula diperhatikan bagaimana pekerja dapat beradaptasi, memahami kemampuan dan keterbatasan AI, serta menentukan penggunaannya secara bertanggung jawab. Pandangan Raffi menempatkan perubahan tersebut sebagai isu nyata yang patut dibahas, sekaligus mengingatkan bahwa dampaknya terhadap profesi kreatif tidak dapat disimpulkan secara tergesa-gesa.

Raffi Ahmad mengajak generasi muda untuk menghadapi perkembangan kecerdasan buatan dengan percaya diri, bukan dengan rasa takut. Menurut pesan yang disampaikannya, teknologi AI dapat membantu manusia dalam berbagai kegiatan, tetapi tetap memiliki perbedaan mendasar dengan manusia: manusia mempunyai hati atau nurani, sedangkan AI tidak. Perbedaan tersebut menjadi alasan agar anak muda tidak merasa bahwa kehadiran teknologi akan menghapus nilai dari karya manusia. Sebaliknya, mereka dapat terus mengembangkan kemampuan dan memanfaatkan perubahan sebagai bagian dari lingkungan yang terus bergerak.

Dalam pandangannya, hati memiliki peran penting dalam proses berkarya. Karya yang berangkat dari hati dan dibuat dengan sungguh-sungguh dapat menyentuh hati orang lain. Hubungan emosional pencipta dan orang yang menerima karya itu merupakan sisi kemanusiaan yang ditekankan Raffi. Karena itu, ia mendorong anak muda untuk tidak hanya mengejar hasil atau mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjaga ketulusan dalam proses mereka. Pesan tersebut menempatkan kreativitas manusia sebagai sesuatu yang tetap bermakna di tengah pemakaian AI, tanpa menafikan perubahan yang dibawa oleh teknologi.

Ajakan itu disampaikan kepada peserta IYS yang berasal dari berbagai provinsi. Raffi mendorong mereka untuk terus belajar dan berkarya dengan hati. Belajar menjadi bekal untuk memahami perubahan serta mengembangkan kemampuan, sementara berkarya memberi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ia mengingatkan bahwa latar belakang daerah yang beragam bukan alasan untuk berhenti mengasah diri. Peserta dapat terus bertumbuh melalui proses belajar dan mempertahankan unsur hati dalam setiap karya yang dibuat. Dengan demikian, mereka didorong untuk menyambut perkembangan AI secara percaya diri sekaligus tetap mengandalkan nilai kemanusiaan yang tidak dimiliki teknologi tersebut. Pesan ini menegaskan pentingnya terus berkarya tanpa kehilangan ketulusan, serta melihat kemampuan manusia sebagai pembeda ketika teknologi semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 merupakan program Kementerian Pemuda dan Olahraga yang dirancang sebagai ruang pembinaan bagi generasi muda. Kegiatan ini diikuti 160 peserta utama yang terpilih melalui proses seleksi dari seluruh provinsi di Indonesia. Keberagaman latar belakang peserta memberi kesempatan untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan perspektif dari berbagai daerah dalam satu forum. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga diharapkan terlibat aktif dalam rangkaian pembelajaran dan pertukaran pandangan.

Tujuan utama program ini adalah membangun karakter sekaligus memperkuat kapasitas kepemimpinan anak muda. Pembinaan berlangsung sekitar 10 hari dengan susunan kegiatan yang menggabungkan diskusi, pengembangan keterampilan, dan ruang untuk menunjukkan karya. Melalui proses tersebut, peserta dapat berlatih menyampaikan gagasan, mendengarkan sudut pandang berbeda, bekerja sama, serta memahami tantangan yang dihadapi masyarakat. Pengalaman intensif ini juga membantu mereka mengenali potensi diri dan tanggung jawab sebagai bagian dari generasi yang turut menentukan arah masa depan.

Ragam agenda IYS 2026 mencakup forum diskusi, pameran usaha, eksplorasi teknologi, serta pembahasan digitalisasi dan kesehatan mental. Peserta juga mengikuti kompetisi pidato dan debat yang mendorong kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, dan menyusun argumen. Di sisi lain, panggung ekspresi kreatif menyediakan ruang untuk menampilkan karya dan bakat. Perpaduan kegiatan itu memungkinkan peserta belajar dari beragam bidang, mulai dari kepemimpinan dan kewirausahaan hingga pemanfaatan teknologi dan kesejahteraan diri.

Rangkaian tersebut sejalan dengan pesan Raffi Ahmad agar anak muda menghadapi kemajuan teknologi dengan percaya diri terus belajar dan tetap.

Baca juga: Pelda Pur Abdul Latif Dorong Generasi Muda Mengamalkan Nilai-Nilai Pancasila | Profil Guruh Soekarno, Berkarya di Seni hingga Politik

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60