Jakarta | Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto melanjutkan kebijakan hilirisasi sebagai bagian dari agenda pembangunan ekonomi. Pernyataan itu disampaikan Luhut di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Ia juga mengungkapkan rencana Presiden untuk meresmikan hilirisasi kratom dan kemenyan pada 2027. Rencana tersebut menempatkan dua komoditas yang berasal dari sektor pertanian dan perkebunan dalam pembahasan mengenai pengolahan hasil di dalam negeri.
Hilirisasi umumnya merujuk pada upaya meningkatkan nilai suatu komoditas melalui proses pengolahan sebelum dipasarkan, bukan hanya menjualnya sebagai bahan mentah. Dalam konteks kratom dan kemenyan, rencana peresmian pada 2027 menunjukkan bahwa pemerintah ingin membawa pengembangan kedua komoditas itu ke tahap yang lebih terarah. Namun, pernyataan Luhut sebagaimana disampaikan di Istana tidak merinci bentuk fasilitas, skala industri, lokasi, ataupun tahapan pelaksanaan yang akan ditempuh. Rincian kebijakan masih perlu merujuk pada penjelasan resmi berikutnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan kesinambungan arah kebijakan pemerintahan sebelumnya dan pemerintahan Prabowo, menurut Luhut. Dengan melanjutkan hilirisasi, pemerintah berupaya mendorong agar manfaat ekonomi dari komoditas nasional tidak berhenti pada penjualan bahan dasar. Untuk sektor pertanian, pengolahan dapat berkaitan dengan penguatan rantai pasok, peningkatan kegiatan usaha, dan penciptaan nilai tambah di tingkat domestik. Hasil akhirnya akan bergantung pada rancangan program, kesiapan pelaku usaha, serta aturan yang mengatur produksi dan perdagangan.
Rencana peresmian kratom dan kemenyan pada 2027 karena itu menjadi agenda yang perlu dicermati dalam perkembangan hilirisasi nasional. Peresmian dapat menandai dimulainya atau diperkenalkannya inisiatif pengolahan, tetapi informasi yang tersedia dari pernyataan Luhut belum menjelaskan makna operasionalnya secara terperinci. Pemerintah diharapkan menyampaikan lebih lanjut mengenai tujuan, mekanisme, dan pihak yang terlibat agar arah program dapat dipahami oleh masyarakat dan pelaku sektor terkait. Sampai ada keterangan tambahan, pokok yang telah disampaikan adalah bahwa Presiden Prabowo meneruskan kebijakan hilirisasi dan berencana meresmikan pengembangan hilirisasi kedua komoditas tersebut pada 2027.
Rencana hilirisasi yang disiapkan pemerintah untuk 2027 mencakup kratom dan kemenyan, dua komoditas yang ditempatkan dalam sektor pertanian. Agenda ini mengarah pada pengembangan hasil komoditas agar dapat diolah lebih lanjut, bukan hanya dipasarkan sebagai bahan mentah. Penyebutan keduanya menunjukkan bahwa pembahasan hilirisasi tidak terbatas pada satu jenis tanaman atau satu wilayah. Kratom dan kemenyan menjadi bagian dari rencana yang lebih luas mengenai penguatan nilai tambah produk pertanian. Dalam menyampaikan agenda tersebut, Luhut juga mengaitkannya dengan rencana peresmian pusat riset pengurutan genom di Toba, Sumatera Utara. Hubungan rencana pengembangan komoditas dan fasilitas riset itu memberi konteks tentang perhatian pemerintah terhadap penelitian serta pengolahan sumber daya hayati. Namun, keterangan yang disampaikan tidak merinci tahapan teknis hilirisasi, bentuk produk yang akan dikembangkan, ataupun jadwal pelaksanaan setiap program. Karena itu, rencana 2027 dapat dipahami sebagai arah kebijakan yang mencakup komoditas pertanian dan dukungan riset, sementara rincian lanjutan masih perlu menunggu penjelasan resmi.
Pusat riset yang dimaksud berfokus pada genome sequencing, atau pengurutan genom. Fasilitas tersebut direncanakan berada di Toba, Sumatera Utara, dan akan diresmikan menurut rencana yang dikaitkan Luhut dengan agenda hilirisasi. Pengurutan genom merupakan istilah yang merujuk pada proses membaca susunan materi genetik. Dalam konteks ini, penyebutan pusat riset menjadi bagian dari gambaran mengenai infrastruktur penelitian yang disiapkan pemerintah. Belum ada rincian dalam keterangan tersebut mengenai kapasitas pusat, jenis penelitian yang akan diprioritaskan, ataupun kaitan langsung hasil risetnya dengan kratom dan kemenyan. Oleh sebab itu, keduanya sebaiknya dipahami sebagai agenda yang disebut bersama, bukan sebagai bukti bahwa satu fasilitas tertentu telah menghasilkan produk atau temuan untuk kedua komoditas itu. Lokasi di Toba juga menempatkan rencana fasilitas ini di Sumatera Utara, sedangkan kratom yang disebut Luhut banyak terdapat di Kalimantan. Informasi tersebut memperlihatkan cakupan geografis yang berbeda lokasi pusat riset dan salah satu komoditas yang dibahas. Kemenyan turut masuk dalam cakupan komoditas pertanian yang hendak dihilirisasi, meskipun keterangan yang tersedia tidak menjelaskan wilayah asal, volume produksi, atau rencana pengolahannya secara khusus.
Luhut menggambarkan kratom sebagai tanaman yang banyak terdapat di Kalimantan dan dapat menjadi bahan obat. Pernyataan itu menerangkan alasan kratom disebut dalam pembicaraan mengenai pemanfaatan komoditas, tanpa menguraikan klaim medis atau penggunaan tertentu. Dengan demikian, informasi yang dapat dicatat terbatas pada keberadaan tanaman tersebut di Kalimantan dan kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan obat. Keterangan itu tidak dengan sendirinya menjelaskan proses pengolahan, standar produk, ataupun bentuk hasil hilirisasi yang akan dituju. Kratom dan kemenyan sama-sama masuk dalam rencana, tetapi uraian tentang kratom lebih spesifik karena menyebut wilayah persebarannya serta potensi sebagai bahan. Untuk kemenyan, penyebutan yang tersedia menegaskan posisinya sebagai komoditas pertanian dalam agenda tersebut. Rencana peresmian pusat riset di Toba menjadi unsur lain yang disampaikan bersama pembahasan ini. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada penjelasan program, pelaksanaan, dan informasi teknis yang diumumkan pemerintah. Sampai rincian itu tersedia, pokok informasinya adalah rencana hilirisasi pada 2027 mencakup dua komoditas pertanian, sementara Luhut menghubungkannya dengan fasilitas pengurutan genom yang direncanakan di Sumatera Utara serta menggambarkan kratom sebagai tanaman Kalimantan yang dapat menjadi bahan obat.
Luhut menilai hilirisasi kratom dan kemenyan berpeluang menghasilkan nilai ekonomi yang sangat besar, bahkan berpotensi mencapai puluhan miliar dolar. Namun, angka tersebut bukan nilai pasti yang dapat langsung dipastikan sejak awal. Besaran manfaatnya, menurut Luhut, tetap bergantung pada kondisi dan luas pasar yang dapat dijangkau, termasuk permintaan terhadap produk olahan, kemampuan industri memenuhi kebutuhan pembeli, serta perkembangan perdagangan di dalam dan luar negeri. Karena itu, perkiraan tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran potensi, bukan proyeksi pendapatan yang sudah terjamin.
Penilaian Luhut itu menempatkan kratom dan kemenyan sebagai komoditas yang dapat memberi nilai tambah lebih tinggi apabila tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Pengolahan di dalam negeri membuka peluang untuk menghasilkan produk lanjutan dan memperluas manfaat ekonomi sepanjang rantai produksi. Meski demikian, potensi tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan pembentukan pasar dan kesiapan industri. Nilai puluhan miliar dolar yang disebutkan akan bergantung pada seberapa besar pasar yang terbentuk dan seberapa jauh produk hasil olahan dapat diterima. Dengan demikian, besaran nilai yang dikemukakan masih terkait erat dengan peluang komersial yang dapat dikembangkan.
Sebagai pembanding, Luhut mengaitkan rencana ini dengan hilirisasi nikel yang mulai digencarkan sekitar sepuluh tahun sebelumnya, pada masa pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo. Perbandingan itu menunjukkan bahwa pengembangan hilirisasi dipandang sebagai proses jangka panjang: kebijakan dan investasi perlu diikuti pembangunan kapasitas pengolahan serta perluasan pasar. Namun, kratom dan kemenyan memiliki karakter komoditas dan dinamika pasar tersendiri, sehingga pengalaman nikel tidak serta-merta memastikan hasil yang sama. Baik perbandingan dengan nikel maupun perkiraan potensi puluhan miliar dolar tersebut merupakan pandangan Luhut. Realisasinya akan ditentukan oleh perkembangan pasar dan pelaksanaan hilirisasi, bukan semata-mata oleh besarnya perkiraan awal.
Luhut menyebut Presiden Prabowo Subianto bersedia meresmikan agenda hilirisasi kratom dan kemenyan pada Maret 2027. Rencana tersebut masih bergantung pada kesiapan berbagai unsur yang diperlukan, sehingga tanggal itu menjadi target, bukan kepastian bahwa peresmian telah berlangsung.
Baca juga: Prabowo Menyoroti Pakar yang Disangka Mengkritik Tanpa Dasar | Apresiasi Prabowo terhadap Gubernur DKI Jakarta















