Patrolihukum.net — Asal-usul Gajah Mada, tokoh legendaris dari Kerajaan Majapahit, telah lama menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Berbagai naskah kuno dan interpretasi sejarawan memberikan pandangan yang berbeda mengenai asal-usul Mahapatih yang terkenal ini.
Dalam Naskah Babad asal Bali, seperti Kitab Usana Jawa, disebutkan bahwa Gajah Mada lahir di Bali. Sementara itu, Muhammad Yamin, seorang sejarawan asal Sumatra, berpendapat bahwa Gajah Mada berasal dari Sumatra, terpesona oleh kejayaan Majapahit.

Namun, penemuan Prasasti Gajah Mada, atau dikenal juga sebagai Prasasti Singasari, memberikan petunjuk baru yang lebih mendekati kebenaran mengenai asal-usul Gajah Mada. Prasasti ini dibuat sendiri oleh Gajah Mada pada tahun 1214 Saka atau 1351 Masehi, ketika ia menjabat sebagai Mahapatih Amangkubhumi Majapahit. Prasasti ini berisi tentang “Parwira Chatiya”, sebuah peringatan penghormatan kepada Tribhuawana Tunggadewi dan leluhur Majapahit yang telah dicandikan.
Menurut para ahli, tafsir dari Prasasti Singasari mengungkapkan bahwa Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon, cucu dari Raja Kertanegara Singasari. Hal ini menunjukkan bahwa Gajah Mada dan Tribhuawana Tunggadewi (Ratu Majapahit) masih memiliki hubungan darah dengan Prabu Kertanegara. Tribhuawana Tunggadewi adalah anak dari Raden Wijaya, dengan istrinya Gayatri, yang juga merupakan anak dari Prabu Kertanegara.
Dengan demikian, perjuangan Gajah Mada tidak dimulai dari nol karena ia memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan (darah biru). Kariernya sebagai prajurit Bhayangkara juga dimulai melalui jalur nepotisme. Ketika Gajah Mada menyelamatkan Jaya Negara, ia baru berusia sekitar 20 tahun, yang berarti pada usia 15 hingga 16 tahun, ia sudah mulai berkarier sebagai prajurit Bhayangkara, dengan jabatan bekel atau kepala regu.
Menurut temuan-temuan sejarah terkini, Gajah Mada diyakini lahir pada tahun 1299 dan wafat pada tahun 1364 Masehi, dengan usia 65 tahun. Penemuan ini memberikan pemahaman baru dan lebih mendalam mengenai tokoh besar yang telah membawa Kerajaan Majapahit ke puncak kejayaannya. (**)
















