Probolinggo, Patrolihukum.net – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo terus memperkuat upaya pelestarian budaya lokal melalui kegiatan literasi berbasis kearifan lokal. Salah satunya diwujudkan lewat Literasi Budaya Suronan Perpustakaan yang digelar di Aula Pustakaloka Dispersip Kabupaten Probolinggo, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo, Ulfiningtyas, dan diikuti sekitar 70 peserta yang terdiri atas pelajar serta mahasiswa. Program ini menjadi bagian dari edukasi budaya yang dikemas secara interaktif agar lebih mudah dipahami generasi muda.

Selama kegiatan berlangsung, peserta diajak mengikuti Mamacah Ogem bersama Didik, perangkat Desa Bago, Kecamatan Besuk. Selain itu, peserta juga memperoleh pengalaman belajar melalui edukasi melukis menggunakan ampas kopi yang dipandu dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Seni dan Arsitektur Islam Universitas Zainul Hasan Genggong. Seluruh rangkaian acara dipandu oleh Cak Amir dari Relima Kabupaten Probolinggo.
Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo, Ulfiningtyas, mengatakan kegiatan Literasi Budaya Suronan merupakan salah satu langkah nyata untuk menjaga eksistensi sejarah dan budaya daerah agar tetap dikenal oleh generasi penerus di tengah perkembangan zaman.
“Kegiatan ini bertujuan memelihara dan mengenalkan sejarah serta budaya kita kepada generasi penerus agar tetap terjaga, tidak luntur maupun punah, sehingga dapat diketahui secara turun-temurun,” ujarnya.
Menurut Ulfi, perpustakaan saat ini memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding sekadar tempat membaca dan meminjam buku. Perpustakaan juga menjadi ruang belajar yang inklusif dengan menghadirkan berbagai kegiatan literasi berbasis budaya, seni, hingga pengembangan keterampilan masyarakat.
“Perpustakaan bukan hanya tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga menjadi wadah pembelajaran yang inklusif. Di sini masyarakat dapat mengikuti berbagai kegiatan, termasuk literasi budaya seperti yang kita laksanakan hari ini,” katanya.
Ia menjelaskan, sasaran utama kegiatan tersebut adalah peserta didik usia sekolah, khususnya tingkat SD dan SMP. Momentum awal tahun ajaran baru dimanfaatkan untuk menanamkan budaya literasi melalui metode pembelajaran yang kreatif, edukatif, dan menyenangkan.
Lebih lanjut, Ulfi mengungkapkan Dispersip Kabupaten Probolinggo telah mengembangkan berbagai program Sekolah Literasi, mulai dari kelas tari, parenting, public speaking, kewirausahaan hingga robotika. Beragam program tersebut dirancang untuk memperkuat fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat bagi masyarakat.
“Kami ingin anak-anak mengenal budaya khas Kabupaten Probolinggo dan memiliki kepedulian untuk ikut melestarikannya. Literasi memiliki makna yang luas, tidak hanya membaca buku, tetapi juga memahami sejarah, budaya, seni, serta berbagai keterampilan sebagai bekal menghadapi masa depan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, Dispersip Kabupaten Probolinggo berharap budaya lokal, khususnya tradisi Suronan, dapat terus diwariskan kepada generasi muda sekaligus memperkuat karakter pelajar yang mencintai budaya daerah di tengah derasnya arus modernisasi.
Penulis: Bambang
Editor: Redaksi


























3 Komentar