Jakarta – Pemerintah Indonesia dan Jepang sepakat melanjutkan pembicaraan terkait pengembangan bersama kapal angkatan laut yang sebelumnya terhenti selama beberapa tahun terakhir. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Menteri Pertahanan Jepang, Jenderal Nakatani, pada Selasa (7/1).


Juru Bicara Kementerian Pertahanan RI, Brigjen Frega Wenas, menyatakan bahwa kedua menteri pertahanan sepakat untuk memperdalam kerja sama di bidang pertahanan, termasuk pengembangan bersama kapal angkatan laut, peralatan militer, dan transfer teknologi.
“Pada prinsipnya, kedua menteri pertahanan menyambut baik kerja sama dalam mempromosikan peralatan militer,” ujar Wenas. “Namun, perlu eksplorasi lebih lanjut mengenai detail pengembangan bersama, apakah akan mencakup kapal angkatan laut atau peralatan pertahanan lainnya.”
Pendekatan Pengembangan Bersama
Jepang saat ini tidak dapat mengekspor fregat atau kapal selam jadi karena pedoman transfer peralatan dan teknologi pertahanan yang berlaku. Oleh karena itu, pengembangan bersama menjadi opsi yang paling memungkinkan untuk mewujudkan transfer teknologi ini.
Menurut laporan media Jepang, Menteri Nakatani telah mengajukan proposal untuk melanjutkan pengembangan bersama kapal perusak, yang sebelumnya mengalami kebuntuan selama beberapa tahun terakhir. Kapal ini didasarkan pada desain kelas Monogami, yang sempat menarik perhatian Presiden Prabowo Subianto ketika menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Kapal kelas Monogami tersebut dirancang dengan keunggulan efisiensi, dapat dioperasikan oleh 90 awak—setengah dari jumlah yang dibutuhkan oleh kapal perusak konvensional.
Namun, negosiasi ini terhenti di era pemerintahan Presiden Joko Widodo karena fokus pemerintah Indonesia saat itu beralih ke pendanaan besar-besaran untuk proyek relokasi ibu kota negara ke Nusantara.
Kerja Sama Global Jepang
Selain Indonesia, Jepang juga mengusulkan pengembangan bersama fregat kelas Monogami kepada Australia dan Jerman. Menurut laporan, pemerintah Canberra diharapkan akan memberikan keputusan akhir mengenai kemitraan ini pada paruh kedua tahun 2025.
Kerja sama pengembangan kapal angkatan laut ini diharapkan dapat memperkuat kemitraan strategis Indonesia-Jepang di bidang pertahanan. Selain itu, proyek ini juga membuka peluang besar bagi transfer teknologi yang dapat meningkatkan kemampuan industri pertahanan dalam negeri Indonesia.
Kesepakatan ini menandai langkah maju dalam hubungan bilateral kedua negara di sektor strategis, sekaligus memperkuat komitmen bersama untuk menjaga stabilitas dan keamanan kawasan Indo-Pasifik.
(Edi D/Red/*)


























