Jakarta | Sungai Eufrat dan Tigris, dua aliran air yang sejak lama membentuk kehidupan di Mesopotamia, menghadapi tekanan yang kian besar. Sebuah laporan Kementerian Sumber Daya Air yang disebut terbit pada 2021 memperingatkan bahwa kedua sungai itu dapat mengering pada 2040 apabila kecenderungan yang ada terus berlanjut. Angka tersebut merupakan proyeksi, bukan kepastian atau tanggal yang menjamin sungai akan benar-benar kering. Namun, peringatan itu menyoroti risiko serius bagi kawasan yang bergantung pada air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, dan kegiatan ekonomi.
Laporan tersebut mengaitkan penyusutan dengan turunnya permukaan air serta kekeringan yang diperburuk oleh perubahan iklim. Suhu yang meningkat dapat memperbesar penguapan, sementara curah hujan yang berubah dan periode kering berkepanjangan berpotensi mengurangi ketersediaan air. Tekanan dari pemanfaatan air dan pengelolaan lintas wilayah juga dapat memengaruhi aliran. Karena itu, proyeksi menuju 2040 sebaiknya dibaca sebagai peringatan berdasarkan kondisi dan asumsi tertentu, bukan ramalan yang berdiri sendiri. Perkembangan iklim, kebijakan, dan kerja sama pengelolaan sungai dapat mengubah dampak yang akhirnya terjadi.
Peristiwa ini berlangsung di Asia Barat, bukan di Indonesia. Meski demikian, jarak geografis tidak membuat persoalannya kurang relevan bagi pembaca Indonesia. Penyusutan sungai besar memperlihatkan bagaimana perubahan iklim, kekeringan, dan meningkatnya tekanan terhadap sumber air dapat saling berkaitan. Indonesia pun menghadapi tantangan tersendiri dalam menjaga ketersediaan air bersih, menghadapi musim kering, serta melindungi daerah aliran sungai. Kondisi dan penyebab di setiap wilayah tentu berbeda, sehingga pengalaman Mesopotamia tidak dapat disamakan begitu saja dengan keadaan di Nusantara.
Peringatan tersebut juga mengingatkan bahwa sungai bukan sekadar saluran air. Eufrat dan Tigris menopang permukiman serta warisan sejarah yang tumbuh di sepanjang alirannya. Jika debit terus menurun, dampaknya dapat menjalar dari pertanian dan pasokan air hingga ekosistem dan pelestarian situs bersejarah. Memahami proyeksi ini membantu menempatkan krisis air sebagai persoalan lingkungan dan sosial yang memerlukan pemantauan, pengelolaan berkelanjutan, dan perhatian lintas negara. Bagi Indonesia, pelajaran utamanya ialah pentingnya membaca tanda-tanda perubahan sejak dini dan menjaga sumber air sebelum risiko berkembang menjadi krisis yang lebih berat.
Aliran Sungai Eufrat dan Tigris dilaporkan menyusut hampir setengah dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan sebesar ini menunjukkan bahwa sistem sungai yang lama menjadi sumber air utama di kawasan Mesopotamia sedang mengalami tekanan serius. Angka penyusutan tersebut tidak hanya menggambarkan berkurangnya air yang mengalir, tetapi juga menandai perubahan pada sumber daya yang menopang kehidupan masyarakat di sepanjang kedua sungai. Bagi wilayah yang bergantung pada aliran Eufrat-Tigris, berkurangnya pasokan berarti semakin sedikit air tersedia dari sumber yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari.
Gambaran lain tentang besarnya perubahan berasal dari pengamatan satelit. Citra yang merekam periode 2003–2013 menunjukkan kehilangan sekitar 144 kilometer kubik air tawar dari sistem Eufrat-Tigris. Pengukuran dalam skala kawasan ini memberi konteks pada laporan mengenai penyusutan aliran: perubahan bukan sekadar gejala lokal yang terlihat di satu titik, melainkan kehilangan air tawar dalam jumlah besar selama satu dekade. Kedua ukuran tersebut—penurunan aliran yang dilaporkan hampir separuh dan kehilangan air tawar berdasarkan citra satelit—menegaskan skala persoalan yang dihadapi sungai-sungai tersebut.
Sekitar 60 juta orang bergantung pada sistem sungai Eufrat-Tigris, terutama di Turki dan Irak. Ketergantungan dalam jumlah besar itu membuat berkurangnya aliran memiliki arti langsung bagi masyarakat yang mengandalkan air sungai untuk kehidupan. Ketika pasokan menyusut, warga yang bergantung pada sumber tersebut menjadi lebih rentan, sebab ketersediaan air dari sungai yang mereka gunakan tidak lagi sama seperti sebelumnya. Angka 60 juta orang memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak hanya menyangkut kondisi aliran, tetapi juga banyaknya penduduk yang terkait dengannya. Penyusutan hampir setengah dan kehilangan 144 kilometer kubik air tawar karena itu perlu dibaca bersama dengan besarnya ketergantungan masyarakat. Semakin besar perubahan pada aliran, semakin nyata pula kerentanan yang harus dihadapi mereka yang menggantungkan kehidupan pada sungai, khususnya di Turki dan Irak.
Eufrat dan Tigris merupakan dua sungai utama Asia Barat yang bermula di Pegunungan Anatolia, di wilayah Turki. Dari kawasan tinggi tersebut, keduanya bergerak umumnya ke arah tenggara, melintasi Turki, Suriah, dan Irak. Jalur ini menghubungkan lanskap pegunungan dengan dataran rendah yang luas dan kering. Eufrat memiliki panjang sekitar 2.800 kilometer, sementara Tigris membentang kira-kira 1.900 kilometer. Angka tersebut menggambarkan skala sungai yang melintasi beberapa negara dan menopang kehidupan jutaan orang. Walaupun keduanya berbagi sumber wilayah dan arah aliran umum, karakter arusnya berbeda. Tigris dikenal memiliki arus lebih deras, sedangkan Eufrat menempuh jalur lebih panjang sebelum keduanya bertemu di selatan Irak.
Setelah pertemuan itu, aliran gabungan membentuk Sungai Shatt al-Arab, yang kemudian bermuara di Teluk Persia. Sepanjang jalurnya, sungai-sungai ini membawa air dan endapan tanah menuju dataran yang secara alami memiliki curah hujan terbatas. Daerah di Eufrat dan Tigris dikenal sebagai Mesopotamia, istilah yang merujuk pada wilayah di dua sungai. Kawasan tersebut menjadi bagian penting dari Fertile Crescent, atau Bulan Sabit Subur, bentang lahan melengkung yang membentang di Asia Barat. Kesuburannya tidak merata, tetapi dataran banjir dan tanah yang menerima endapan sungai menyediakan kondisi yang mendukung budidaya tanaman. Sungai juga memberi akses air bagi manusia dan ternak di lingkungan yang kering.
Ketersediaan air dan tanah subur membantu masyarakat menetap serta mengembangkan pertanian di kawasan ini. Sekitar 10.000 tahun lalu, praktik pertanian dan pengelolaan air mulai berkembang di sejumlah bagian Fertile Crescent. Seiring waktu, kebutuhan mengalirkan air ke lahan mendorong penggunaan saluran dan sistem irigasi. Upaya tersebut memungkinkan masyarakat memanfaatkan air sungai secara lebih teratur, terutama ketika hujan tidak mencukupi. Permukiman dapat tumbuh di dekat lahan pertanian, sementara hasil panen mendukung kehidupan komunitas yang semakin besar. Karena itu, Eufrat dan Tigris bukan sekadar jalur air, melainkan unsur penting yang membentuk pola hidup dan sejarah Mesopotamia. Pemahaman tentang geografi keduanya menjelaskan mengapa perubahan pada aliran sungai dapat berdampak luas terhadap penduduk dan warisan kawasan tersebut.
Lembah Eufrat dan Tigris menyediakan air, tanah subur, serta jalur pengangkutan yang mendukung tumbuhnya masyarakat menetap di Mesopotamia. Banjir musiman membawa endapan yang menyuburkan lahan, sementara kanal dan tanggul membantu mengatur aliran air untuk pertanian. Pengelolaan irigasi memerlukan kerja bersama dan pencatatan hasil panen, sehingga sungai turut membentuk kehidupan ekonomi, pemerintahan, dan kebudayaan kawasan tersebut. Hubungan ini tidak berarti bahwa lingkungan selalu mudah dikendalikan; banjir, kekeringan, dan perubahan aliran tetap menjadi tantangan bagi penduduk.
Di wilayah inilah peradaban Sumeria, Babilonia, dan Asyur berkembang. Kota Uruk tumbuh di kawasan Sumeria, Babilon menjadi pusat penting kerajaan Babilonia, dan Niniwe dikenal sebagai salah satu pusat utama Asyur. Ketiganya berada di kawasan yang terhubung dengan jaringan sungai dan kanal. Kota-kota itu menjadi tempat berlangsungnya perdagangan, kegiatan keagamaan, administrasi, serta pertukaran pengetahuan. Letak di dekat air mendukung kehidupan perkotaan, meskipun setiap kota juga bergantung pada pengaturan sumber daya dan hubungan dengan wilayah sekitarnya.
Kebutuhan mengelola pertanian, pajak, perdagangan, dan pembangunan mendorong berkembangnya pencatatan.
Baca juga: Dampak Kekeringan Meluas di Kabupaten Bogor dan Ancaman Pasokan Air di Jakarta-Bekasi | Korupsi Pajak di Bogor: Ancaman Warga untuk Menolak Bayar Pajak | Profil Victor Dethan: Menghadapi Ancaman di Media Sosial















