Jakarta | Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran kementerian menggenjot ekspor nasional menjelang akhir 2026. Arahan ini menempatkan perdagangan luar negeri sebagai salah satu perhatian pemerintah dalam menjaga dan memperkuat kinerja perekonomian. Kementerian terkait diharapkan bekerja secara terarah untuk mendukung pelaku usaha agar mampu memasarkan produk Indonesia ke berbagai pasar. Dorongan tersebut berlaku bagi seluruh sektor usaha, bukan hanya bidang tertentu. Dengan cakupan yang luas, kebijakan ini diharapkan membuka ruang bagi beragam produk dan jasa untuk berkontribusi terhadap ekspor nasional.
Manufaktur termasuk sektor yang perlu memperoleh perhatian dalam upaya tersebut. Produk industri memiliki peran penting dalam memperluas ragam barang yang dapat ditawarkan kepada pembeli luar negeri. Karena itu, penguatan ekspor perlu melibatkan koordinasi lintas kementerian serta dukungan yang relevan bagi dunia usaha. Pemerintah dapat mendorong terciptanya kondisi yang membantu perusahaan menjaga kapasitas produksi, memenuhi kebutuhan pasar, dan meningkatkan daya saing. Namun, pelaksanaan arahan tetap perlu menyesuaikan keadaan setiap sektor dan kemampuan pelaku usaha. Pendekatan menyeluruh memberi kesempatan agar potensi ekspor dari berbagai bidang dapat dikembangkan secara seimbang.
Fokus utama arahan Presiden adalah memperkuat kinerja ekspor, bukan menetapkan angka sasaran yang tidak tersedia. Jajaran kementerian perlu menerjemahkan dorongan tersebut ke dalam langkah kerja yang mendukung kegiatan ekspor dan menanggapi kebutuhan dunia usaha. Upaya itu mencakup perhatian terhadap peluang pasar, kesiapan produk, serta koordinasi kebijakan yang berkaitan dengan perdagangan. Hasilnya akan bergantung pada pelaksanaan yang konsisten dan kerja sama pemerintah dengan pelaku usaha. Dengan menempatkan peningkatan ekspor sebagai agenda bersama menjelang akhir 2026, pemerintah berupaya memperkuat kontribusi berbagai sektor terhadap perdagangan nasional sekaligus menjaga agar kebijakan tetap berorientasi pada hasil dan kondisi nyata di lapangan.
Arahan untuk mendorong ekspor menjadi salah satu pokok pembahasan dalam pertemuan tim ekonomi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 19 Oktober 2026. Pertemuan tersebut mempertemukan Presiden dengan jajaran ekonomi pemerintah untuk meninjau perkembangan kebijakan dan kondisi perekonomian. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kemudian menyampaikan keterangan mengenai hasil pembahasan kepada publik. Penjelasan itu memberi gambaran mengenai perhatian pemerintah terhadap kinerja ekspor sekaligus situasi ekonomi nasional pada periode menjelang akhir tahun.
Dalam konteks tersebut, pembicaraan mengenai ekspor ditempatkan sebagai bagian dari agenda ekonomi yang lebih luas. Pemerintah meninjau arah upaya peningkatan kinerja perdagangan luar negeri, sementara tim ekonomi menyampaikan perkembangan terkini yang menjadi bahan evaluasi. Pertemuan ini juga membahas perkembangan perekonomian nasional menjelang penutupan tahun, ketika berbagai indikator dan pelaksanaan kebijakan perlu dicermati secara berkala. Dengan demikian, agenda rapat tidak terbatas pada satu sektor, tetapi mencakup penilaian terhadap kondisi ekonomi secara menyeluruh.
Keterangan Airlangga setelah pertemuan menjadi saluran untuk menyampaikan pokok hasil diskusi pemerintah kepada masyarakat. Informasi yang disampaikan membantu menjelaskan fokus pembahasan Presiden bersama tim ekonomi, termasuk perhatian terhadap ekspor serta perkembangan ekonomi dalam negeri. Pertemuan di Istana Negara juga menunjukkan bahwa koordinasi Presiden dan para pejabat ekonomi menjadi bagian dari proses pemantauan kebijakan. Evaluasi diperlukan agar pemerintah dapat memahami perkembangan yang sedang berlangsung dan mempertimbangkan tindak lanjut sesuai kebutuhan.
Rapat tersebut sekaligus berlangsung dalam konteks evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo. Peninjauan ini memberi ruang bagi tim ekonomi untuk melihat perjalanan kebijakan serta kondisi nasional selama periode tersebut, termasuk menjelang akhir tahun. Pembahasan arahan ekspor dan perkembangan ekonomi menjadi unsur penting dalam evaluasi, karena keduanya berkaitan dengan agenda pemerintah untuk menjaga aktivitas ekonomi dan memperkuat kinerja perdagangan. Melalui pertemuan berkala seperti ini, pemerintah dapat menyelaraskan penilaian atas situasi terkini dan menyampaikan hasil pembahasan secara terbuka melalui keterangan pejabat terkait.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah meninjau sejumlah indikator yang menjadi dasar untuk membaca kondisi perekonomian nasional dan menentukan langkah kebijakan berikutnya. Pembahasan mencakup laju pertumbuhan ekonomi, perkembangan inflasi, keadaan makro sektor perbankan, serta realisasi investasi. Keempat indikator ini memberi gambaran mengenai daya tahan ekonomi, stabilitas harga, ketersediaan pembiayaan, dan keberlanjutan kegiatan usaha. Penilaian secara menyeluruh diperlukan agar respons pemerintah dapat disesuaikan dengan perubahan kondisi di dalam maupun luar negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kondisi perekonomian nasional relatif stabil. Pernyataan tersebut menjadi konteks bagi pemerintah untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat, sekaligus memastikan aktivitas ekonomi tetap bergerak. Stabilitas tidak hanya ditentukan oleh satu angka pertumbuhan, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan tekanan harga, menjaga fungsi intermediasi perbankan, dan mendorong investasi agar masuk ke sektor-sektor produktif. Karena itu, perkembangan masing-masing indikator terus dipantau dalam koordinasi kebijakan antarlembaga.
Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu perhatian utama karena berkaitan dengan aktivitas produksi, konsumsi, perdagangan, dan penciptaan lapangan kerja. Sementara itu, perkembangan inflasi ditelaah untuk memastikan perubahan harga tetap terkendali dan tidak mengurangi daya beli secara berlebihan. Dari sisi perbankan, kondisi makro sektor tersebut penting untuk menilai ketahanan sistem keuangan serta kelancaran penyaluran kredit kepada dunia usaha. Realisasi investasi juga dievaluasi sebagai penanda minat penanaman modal dan kapasitas ekonomi untuk memperluas produksi.
Pemerintah berupaya mempertahankan momentum pertumbuhan melalui koordinasi lintas sektor. Sinergi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan pelaku usaha diharapkan membantu mengidentifikasi hambatan serta mempercepat tindak lanjut kebijakan. Pada saat yang sama, optimalisasi kinerja sektor produktif menjadi langkah penting untuk memperkuat kontribusi industri, perdagangan, pertanian, dan kegiatan ekonomi lainnya. Upaya ini diarahkan agar peluang investasi dapat dimanfaatkan, kapasitas usaha meningkat, dan aktivitas ekonomi tetap berlanjut. Dengan pemantauan indikator yang konsisten, pemerintah dapat menyesuaikan langkah secara terukur tanpa mengabaikan stabilitas makroekonomi.
Pemerintah berupaya menjaga laju ekspor dengan mengidentifikasi hambatan yang dapat mengurangi kemampuan pelaku usaha menembus pasar internasional. Berbagai persoalan yang mengganggu kegiatan produksi maupun distribusi akan dipetakan untuk menentukan langkah penanganan yang sesuai. Pendekatan ini diperlukan agar kendala yang berpotensi menahan pengiriman barang dapat ditangani secara terarah, bukan dibiarkan berlarut-larut hingga berdampak pada kinerja perdagangan nasional.
Penanganan tersebut akan ditempuh melalui mekanisme debottlenecking, yakni upaya mengurai hambatan usaha yang menghambat aktivitas ekonomi. Presiden menugaskan satuan tugas untuk menjalankan peran tersebut, termasuk mendorong koordinasi dalam mengidentifikasi persoalan dan mempercepat tindak lanjutnya. Dengan adanya penugasan, pemerintah berharap kendala yang dihadapi dunia usaha dapat memperoleh perhatian lintas pihak dan solusi yang relevan. Langkah ini juga ditujukan untuk mendukung kelancaran kegiatan produksi serta menjaga kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
Sektor manufaktur menjadi salah satu perhatian dalam upaya tersebut. Sektor ini memiliki potensi untuk meningkatkan kontribusi produksi dalam negeri dalam perdagangan internasional, sekaligus memperluas nilai tambah dari kegiatan ekonomi di dalam negeri. Penguatan manufaktur dan penyelesaian hambatan usaha diharapkan dapat berjalan beriringan, sehingga kapasitas produksi dapat menopang peluang ekspor. Namun, dorongan terhadap perdagangan luar negeri tetap perlu diselaraskan dengan kondisi ekonomi nasional secara menyeluruh.
Pemerintah berharap penguatan ekspor berlangsung bersama stabilitas makroekonomi dan dapat mendukung momentum pertumbuhan nasional hingga akhir tahun. Keseimbangan tersebut penting agar peningkatan aktivitas perdagangan tidak mengabaikan ketahanan ekonomi, sementara prospek pertumbuhan tetap terjaga. Harapan itu disampaikan dalam keterangan pers yang dihadiri Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, serta Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi.
Baca juga: Pemerintah Dukung Penanganan Kasus Penyulundupan Kacang Tanah di Jakarta | Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia: Hasil Pertemuan Terkini | Tindakan Pemerintah Diperlukan untuk Lindungi Petambak Udang Nasional















