DVI Polda Kalsel Identifikasi 63 Korban KM Virgo Transport, Jatim Terbanyak

DVI Polda Kalsel Identifikasi 63 Korban KM Virgo Transport, Jatim Terbanyak
banner 468x60

BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan telah mengenali 63 jenazah korban kecelakaan KM Virgo Transport 8. Jumlah tersebut merupakan bagian dari 80 jenazah yang telah diterima Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin untuk menjalani proses identifikasi. Perkembangan ini menunjukkan bahwa sebagian besar jenazah yang berada dalam penanganan rumah sakit tersebut telah berhasil diketahui identitasnya.

Dari 63 korban yang telah teridentifikasi, korban asal Jawa Timur menjadi kelompok terbanyak, yakni 28 orang. Data tersebut disampaikan sebagai bagian dari pembaruan proses identifikasi yang dilakukan oleh Tim DVI Polda Kalsel. Penyebutan asal daerah itu memberikan gambaran mengenai sebaran domisili korban yang identitasnya sudah berhasil dipastikan oleh petugas.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol dr Much Sofwan menyampaikan informasi tersebut di Banjarmasin pada Minggu. Keterangan itu memuat perkembangan terkini mengenai jumlah jenazah yang telah dikenali serta total jenazah yang diterima Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Tim DVI masih menjadi pihak yang menangani proses pengenalan dan pencocokan identitas para korban.

Dengan demikian, masih terdapat 17 jenazah dari total 80 jenazah yang belum teridentifikasi. Proses tersebut terus menjadi bagian penting dalam penanganan korban KM Virgo Transport 8. Informasi mengenai 63 jenazah yang telah dikenali dan 28 korban asal Jawa Timur menjadi data utama dalam pembaruan yang disampaikan Polda Kalimantan Selatan melalui keterangan Kabid Dokkes pada Minggu.

Proses identifikasi korban KM Virgo Transport dimulai setelah jenazah para korban ditemukan dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Di rumah sakit tersebut, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan menjalankan tahapan pemeriksaan untuk memastikan identitas setiap korban secara akurat. Proses ini dilakukan dengan mengacu pada data yang tersedia serta prosedur identifikasi korban bencana dan kecelakaan.

Korban pertama yang berhasil dikenali adalah Reyner Fausta Yosilianto. Pria berusia 22 tahun tersebut merupakan warga atau berasal dari Malang, Jawa Timur. Identifikasi terhadap Reyner dilakukan pada Senin, 14 September, menggunakan catatan sidik jari. Pemeriksaan itu menghasilkan kecocokan yang menjadi dasar penetapan identitas korban secara resmi.

Pengenalan terhadap Reyner menjadi tahap awal dalam rangkaian kerja Tim DVI Polda Kalsel untuk mengidentifikasi korban lainnya. Setelah data sidik jari Reyner dicocokkan, tim melanjutkan proses pemeriksaan terhadap jenazah lain yang telah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Setiap hasil identifikasi perlu didukung oleh data yang sesuai agar informasi yang disampaikan kepada pihak terkait memiliki kepastian.

Dalam pelaksanaannya, tim membandingkan data post mortem dari jenazah dengan informasi ante mortem yang dihimpun dari keluarga korban. Data ante mortem menjadi salah satu unsur penting karena memuat keterangan yang dapat membantu mempersempit pencarian identitas. Pencocokan kedua kelompok data tersebut dilakukan secara cermat sebelum identitas korban dinyatakan sesuai.

Identifikasi Reyner Fausta Yosilianto menunjukkan dimulainya proses sistematis DVI Polda Kalsel dalam menangani korban kecelakaan kapal tersebut. Tahapan berikutnya diarahkan untuk mengungkap identitas korban lain melalui pemeriksaan dan pencocokan data yang tersedia. Dengan cara itu, proses identifikasi dapat berlangsung berdasarkan prosedur dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Data asal daerah menunjukkan bahwa 63 korban KM Virgo Transport telah berhasil diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan. Rincian tersebut disusun berdasarkan daerah asal korban yang sudah teridentifikasi, sehingga angka pada setiap wilayah tidak menunjukkan jumlah keseluruhan korban yang berasal dari daerah tersebut.

Jawa Timur berada pada urutan pertama dengan 28 korban yang sudah teridentifikasi. Jumlah ini merujuk secara khusus pada korban yang data asal daerahnya telah dipastikan berasal dari Jawa Timur dalam proses identifikasi. Dengan demikian, angka 28 merupakan jumlah korban teridentifikasi dari Jawa Timur, bukan jumlah keseluruhan korban dari wilayah tersebut.

Urutan berikutnya ditempati Jawa Tengah dengan 16 korban yang sudah teridentifikasi. Data ini mencatat korban yang asal daerahnya telah diketahui dan dikategorikan sebagai warga atau berasal dari Jawa Tengah. Sebagaimana rincian wilayah lainnya, angka tersebut hanya mencakup korban yang telah teridentifikasi dalam proses DVI.

Kalimantan Selatan tercatat sebanyak delapan korban yang sudah teridentifikasi. Rincian ini menunjukkan jumlah korban teridentifikasi yang asal daerahnya tercatat dari Kalimantan Selatan, bukan keseluruhan korban yang mungkin berasal dari wilayah tersebut. Penyebutan angka tersebut mengikuti hasil pendataan identitas yang telah dilakukan.

Sementara itu, Jawa Barat berada pada urutan berikutnya dengan enam korban yang sudah teridentifikasi. Angka enam merupakan jumlah korban teridentifikasi dengan asal daerah Jawa Barat berdasarkan data DVI yang tersedia. Seluruh rincian daerah tersebut disampaikan sebagai bagian dari data korban yang telah teridentifikasi, bukan sebagai gambaran jumlah total korban dari masing-masing daerah asal.

Secara berurutan, daerah asal korban yang sudah teridentifikasi adalah Jawa Timur dengan 28 orang, Jawa Tengah dengan 16 orang, Kalimantan Selatan dengan delapan orang, dan Jawa Barat dengan enam orang. Data ini terbatas pada identitas korban yang telah berhasil dikenali dan dicatat oleh petugas.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan masih melanjutkan proses identifikasi terhadap 17 jenazah korban KM Virgo Transport. Jenazah-jenazah tersebut masih menjalani tahapan pemeriksaan dan pencocokan data untuk memastikan identitas masing-masing secara akurat. Proses ini dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan seluruh informasi yang tersedia, baik dari kondisi jenazah maupun data keluarga korban.

Dalam tahapan tersebut, tim juga melakukan pengambilan dan pemeriksaan sampel DNA. Apabila diperlukan, sampel DNA akan dikirimkan ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri di Jakarta untuk menjalani analisis lebih lanjut. Pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu bagian penting dalam proses identifikasi, terutama ketika pencocokan data lain belum menghasilkan kepastian.

Perwakilan Tim DVI, Much Sofwan, meminta keluarga korban untuk tetap bersabar selama seluruh proses berlangsung. Menurutnya, setiap jenazah memerlukan penanganan sesuai prosedur agar hasil identifikasi dapat dipastikan dan disampaikan dengan tepat kepada keluarga. Karena itu, keluarga diharapkan terus memberikan data ante mortem yang dibutuhkan, termasuk informasi medis, ciri-ciri khusus, maupun bahan pembanding untuk pemeriksaan DNA.

Tim DVI tetap bekerja tanpa libur, termasuk pada Sabtu dan Minggu, guna mempercepat setiap tahapan yang memungkinkan. Ketika jenazah diterima, petugas segera melakukan pemeriksaan serta mencocokkannya dengan data ante mortem yang telah dikumpulkan dari keluarga. Langkah tersebut dilakukan secara berkelanjutan bersama pemeriksaan post mortem dan analisis pendukung lainnya.

Dengan demikian, pekerjaan identifikasi terhadap 17 jenazah yang masih menunggu hasil terus berjalan. Tim tetap mengolah seluruh data dan melaksanakan pemeriksaan sesuai standar yang berlaku, sementara hasil akhir untuk jenazah yang belum teridentifikasi masih menunggu penyelesaian setiap tahapan pemeriksaan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60