Asap Kebakaran Amazon Mengingatkan pada Karhutla di Indonesia

Asap Kebakaran Amazon Mengingatkan pada Karhutla di Indonesia
banner 468x60

Jakarta | Kebakaran hutan di Amazon, Brasil, meluas ketika kekeringan ekstrem mengeringkan vegetasi dan membuat api lebih mudah menyebar. Kondisi kering tersebut diperparah oleh El Niño, yang berkaitan dengan pola cuaca lebih panas dan minim hujan di sejumlah kawasan. Asap tebal dari kebakaran kemudian menyelimuti berbagai wilayah, mengganggu aktivitas masyarakat dan menurunkan kualitas udara. Peristiwa ini mengingatkan pada pengalaman Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika musim kering memperbesar risiko api serta paparan asap. Namun, kebakaran yang dibahas terjadi di Amazon, Brasil, bukan di Indonesia; kemiripannya terletak pada ancaman kekeringan, api yang meluas, dan dampak asap terhadap kesehatan serta kehidupan sehari-hari.

Citra satelit NASA bertanggal 12 Oktober 2026 memperlihatkan asap yang berasal dari kebakaran di Amazon bagian tengah dan timur. Kepulan asap tampak berada pada kedua sisi Sungai Amazon, menunjukkan luasnya kawasan yang terdampak. Citra satelit membantu menggambarkan sebaran asap dari atas, tetapi dampaknya paling nyata dirasakan oleh penduduk yang menghirup udara tercemar. Di Manaus, salah satu kota besar di kawasan tersebut, konsentrasi PM2.5 tercatat melampaui 135 mikrogram per meter kubik. Partikel halus ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan, sehingga paparan pada tingkat tinggi menjadi perhatian kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Buruknya kualitas udara mendorong pembatalan sejumlah kegiatan di Manaus. Beberapa sekolah menghentikan kegiatan, sementara acara publik dan pertandingan atau kegiatan olahraga juga dibatalkan. Langkah tersebut menunjukkan bagaimana asap kebakaran dapat mengubah rutinitas masyarakat, bahkan ketika api berada jauh dari pusat kota. Pemantauan mutu udara dan informasi yang mudah diakses menjadi penting agar warga dapat membatasi paparan, terutama saat kadar partikel meningkat. Pengalaman di Amazon juga menegaskan bahwa penanganan kebakaran tidak cukup berfokus pada pemadaman setelah api membesar. Pencegahan, kesiapan menghadapi kekeringan, perlindungan kesehatan, serta penyampaian peringatan dini diperlukan untuk mengurangi dampak. Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat atas risiko karhutla yang berulang, tanpa mencampuradukkan lokasi maupun penyebab khusus setiap kejadian.

Douglas Morton, ilmuwan di Goddard Space Flight Center milik NASA, memandang kebakaran hutan tropis sebagai bagian dari rangkaian kejadian yang dapat muncul di berbagai belahan dunia. Dalam menanggapi kebakaran yang kini melanda Amazon, ia menghubungkannya dengan pengalaman kebakaran besar yang sebelumnya terjadi di Indonesia. Morton menyebut kebakaran di negara bagian Pará dan Amazonas sebagai “domino kedua” yang tumbang. Ungkapan tersebut menggambarkan cara ia melihat pola kebakaran lintas wilayah, bukan bukti bahwa kebakaran di Indonesia secara langsung memicu kebakaran di Amazon.

Konteks Indonesia yang disampaikan dalam laporan ini menunjukkan bahwa kebakaran telah berlangsung sejak Agustus 2026. Memasuki Oktober, ratusan rumah dilaporkan hancur dan asap menyelimuti sejumlah pulau. Dampak tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran tropis bukan hanya persoalan luas area hutan yang terbakar, tetapi juga ancaman langsung bagi permukiman, kesehatan, dan aktivitas masyarakat. Asap yang melintasi pulau-pulau juga menunjukkan bagaimana dampak kebakaran dapat menjangkau wilayah yang jauh dari titik api.

Morton turut melihat pola serupa pada periode 2015–2016, kemudian kembali pada 2023. Pengamatannya menempatkan kebakaran di kawasan tropis dalam konteks kejadian yang berulang dan tersebar, meskipun penyebab serta kondisi setiap kebakaran dapat berbeda. Karena itu, perbandingan Indonesia dan Amazon lebih tepat dipahami sebagai peringatan tentang kemunculan pola kebakaran di sejumlah kawasan, bukan sebagai kesimpulan adanya hubungan sebab-akibat di peristiwa tertentu. Perspektif tersebut menegaskan perlunya memperhatikan perkembangan kebakaran secara lintas negara, sekaligus menilai setiap kejadian berdasarkan kondisi lokalnya. Dengan cara itu, perhatian pada kemiripan pola tidak mengaburkan perbedaan ekologi, cuaca, penggunaan lahan, dan faktor lain yang memengaruhi kebakaran di masing-masing wilayah.

Data Institut Meteorologi Nasional Brasil menunjukkan bahwa Manaus mengalami defisit curah hujan yang tajam pada periode menjelang kebakaran hutan Amazon. Pada Agustus, jumlah hujan tercatat 95 persen di bawah tingkat normal. Kondisi belum banyak membaik pada September, ketika curah hujan masih 60 persen lebih rendah dari biasanya. Angka tersebut menggambarkan betapa keringnya kawasan itu selama musim kebakaran berlangsung. Ketika hujan jauh berkurang, kelembapan tanah dan vegetasi menurun, sementara daun, ranting, serta bahan organik lain dapat mengering. Bahan-bahan kering ini lebih mudah tersulut dan memungkinkan api menyebar lebih cepat daripada dalam keadaan hutan yang lembap. Karena itu, kekeringan menjadi faktor penting yang meningkatkan kerentanan hutan Amazon terhadap kebakaran, meskipun tidak dengan sendirinya menjelaskan dari mana setiap api bermula.

Menurut bahan yang tersedia, sebagian besar kebakaran di kawasan Amazon berkaitan dengan aktivitas manusia. Sambaran petir menyumbang kurang dari satu persen sebagai pemicu api. Perbedaan ini penting untuk memahami bahwa cuaca kering memperbesar risiko, tetapi sumber penyalaan yang dominan sering kali berasal dari kegiatan manusia. Api digunakan, lain, untuk membuka lahan pertanian atau mengelola padang penggembalaan. Praktik tersebut dapat dilakukan untuk membersihkan vegetasi atau menyiapkan area bagi kegiatan produksi. Dalam kondisi basah, api mungkin lebih mudah dikendalikan; sebaliknya, saat lingkungan mengering, bara dan nyala api dapat bertahan serta bergerak lebih jauh. Dengan demikian, interaksi musim kering dan penggunaan api di lahan menjadi unsur penting dalam terjadinya kebakaran yang meluas.

Api yang awalnya dinyalakan untuk keperluan pengelolaan lahan dapat lepas kendali, terutama ketika curah hujan rendah dan vegetasi sekitar telah mengering. Dari area pertanian atau padang penggembalaan, api kemudian dapat menjalar ke tumbuhan hutan yang kering di sekitarnya. Penyebaran semacam ini membuat batas lahan yang dikelola dan hutan alami menjadi rentan, serta menyulitkan upaya pemadaman ketika api sudah meluas. Data curah hujan di Manaus memberi gambaran tentang kondisi yang mendukung penyebaran tersebut, sementara besarnya peran aktivitas manusia menunjukkan perlunya perhatian pada cara api digunakan. Pengawasan pembakaran, pencegahan penyalaan yang tidak terkendali, serta kesiapsiagaan selama musim kering dapat membantu menekan risiko. Namun, langkah-langkah itu perlu mempertimbangkan bahwa vegetasi yang mengering akibat kekurangan hujan tetap mudah terbakar dan dapat mempercepat penjalaran api.

Shane Coffield, peneliti University of Maryland yang bekerja bersama NASA Goddard, memperkirakan terdapat sekitar 50 hingga 70 kebakaran tak terkendali di wilayah Santarém, Brasil. Perkiraan ini menunjukkan bahwa situasi di lapangan mungkin lebih serius daripada yang terlihat dalam data pemantauan satelit. Angka kebakaran yang tercatat tidak selalu menggambarkan keseluruhan kejadian, terutama ketika kondisi atmosfer dan vegetasi menghambat pengamatan.

Berdasarkan analisis Coffield, jumlah kebakaran di kawasan Santarém sekitar 40 persen lebih banyak daripada yang terdeteksi oleh FIRMS, sistem pemantauan kebakaran aktif. Perbedaan tersebut berkaitan dengan keterbatasan pengamatan dari satelit. Asap tebal dan awan dapat menutupi titik api, sementara kanopi pohon yang rapat juga menghalangi sensor melihat kebakaran di bawahnya. Karena itu, data FIRMS berguna untuk mengidentifikasi kejadian, tetapi jumlah yang ditampilkan dapat lebih rendah daripada jumlah kebakaran sebenarnya. Perkiraan lapangan dan pemeriksaan tambahan menjadi penting untuk memahami skala masalah dengan lebih utuh.

Risiko kebakaran juga diperkirakan bergerak ke wilayah lain. Morton memperingatkan bahwa gelombang kebakaran berikutnya berpotensi melanda Roraima, Pará bagian utara, Amapá, Venezuela, Guyana, dan Suriname pada November hingga Desember. Perluasan risiko ini membuat kesiapsiagaan dan pencegahan pembakaran lahan semakin mendesak.

Baca juga: Relawan Pemadam Kebakaran Jakarta Hadapi Ancaman Kebakaran di Musim Kemarau | Wakapolri: Green Policing Hadir Saat Karhutla dan Kejahatan Lingkungan Makin Kompleks | Cegah Karhutla, Polres Bondowoso Patroli Kawasan Hutan, Ingatkan Sanksi Hukum Pembakar Hutan

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60