Karhutla Mengancam Habitat dan Keselamatan Satwa Liar di Indonesia

Karhutla Mengancam Habitat dan Keselamatan Satwa Liar di Indonesia
banner 468x60

Yogyakarta | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang di Indonesia tidak hanya menghanguskan vegetasi dan menimbulkan krisis asap. Peristiwa ini juga mengancam satwa liar yang bergantung pada hutan dan lahan basah sebagai tempat mencari makan, berlindung, berkembang biak, serta membesarkan anak. Ketika api meluas, satwa dapat kehilangan habitat dalam waktu singkat, sementara asap dan panas mengganggu pergerakan serta kondisi kesehatannya. Dampaknya tidak berhenti saat api padam: kerusakan lingkungan dapat mengurangi ketersediaan pakan dan tempat hidup untuk waktu yang panjang.

Persoalan urgensi pencegahan dini, perlindungan habitat, dan keselamatan satwa tersebut dibahas jajaran dewan guru besar Universitas Gadjah Mada dalam UGM Podcast yang disiarkan pada Kamis (15/10). Pembahasan ini menempatkan karhutla sebagai masalah ekologis yang berkaitan erat dengan keanekaragaman hayati, bukan semata-mata bencana yang terlihat dari luasnya lahan terbakar atau pekatnya kabut asap. Satwa liar sering kali tidak dapat menghindari kobaran api, khususnya ketika habitatnya terfragmentasi atau jalur untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman terbatas.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Gangguan terhadap satu habitat juga dapat memengaruhi hubungan antarmakhluk hidup di dalam ekosistem. Hilangnya tumbuhan sebagai sumber pakan dan tempat berlindung berisiko menekan populasi satwa, mengubah pola pergerakan, dan meningkatkan persaingan di area yang belum terbakar. Dalam kondisi tertentu, satwa yang terusir dapat mendekati permukiman atau berhadapan dengan manusia, sehingga menimbulkan risiko tambahan bagi kedua pihak. Karena itu, penanganan dampak karhutla perlu mempertimbangkan keselamatan satwa sejak tahap sebelum, selama, dan sesudah kebakaran.

Pencegahan dini menjadi langkah penting untuk mengurangi kemungkinan api meluas dan menekan kerusakan habitat. Pemantauan wilayah rawan, respons cepat terhadap titik api, serta perlindungan kawasan penting bagi satwa dapat membantu membatasi dampak. Upaya penyelamatan juga perlu dilakukan secara terencana agar satwa yang terdampak dapat ditangani dengan aman. Dengan perhatian yang menyeluruh terhadap habitat dan kehidupan liar, pengendalian karhutla dapat diarahkan bukan hanya untuk mengurangi kebakaran dan asap, tetapi juga menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia.

Raden Wisnu Nurcahyo, guru besar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM sekaligus pemerhati satwa liar, menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan menghilangkan kebutuhan dasar yang menopang kehidupan satwa. Dampaknya tidak terbatas pada kerusakan pepohonan yang terlihat setelah api padam. Satwa memerlukan tempat bernaung untuk berlindung dari cuaca dan ancaman, habitat yang menyediakan ruang hidup, serta sumber makanan yang dapat dijangkau. Ketika unsur-unsur tersebut musnah, satwa kehilangan kondisi penting untuk bertahan dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Di berbagai kehilangan itu, sumber pakan menjadi persoalan utama yang ditekankan Wisnu. Api dapat memusnahkan tumbuhan, buah, biji, dedaunan, maupun organisme lain yang menjadi bagian dari makanan satwa. Sesudah kebakaran, ketersediaan pakan di kawasan terdampak dapat turun tajam, sementara satwa harus mencari makan di lingkungan yang telah berubah. Keterbatasan ini menambah tekanan terhadap individu dan kelompok satwa yang sebelumnya bergantung pada habitat tersebut. Kerusakan tempat berlindung dan ruang hidup memperparah keadaan, tetapi hilangnya makanan secara langsung menghambat pemenuhan kebutuhan dasar mereka.

Kebakaran juga berdampak pada tumbuhan yang memiliki fungsi lebih dari sekadar menyediakan pakan atau tutupan. Sebagian tanaman dimanfaatkan satwa untuk perilaku pengobatan mandiri, yakni ketika satwa menggunakan bahan alami tertentu sebagai bagian dari upaya merawat kondisi tubuhnya. Jika tanaman semacam itu ikut terbakar, pilihan yang tersedia bagi satwa untuk melakukan perilaku tersebut turut berkurang. Dengan demikian, hilangnya vegetasi dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan satwa sekaligus. Dampak karhutla perlu dipahami sebagai kerusakan terhadap jaringan kebutuhan ekologis: tempat bernaung, habitat, makanan, dan tanaman yang mendukung perilaku alami. Pemulihan kawasan karenanya penting agar kebutuhan tersebut dapat tersedia kembali bagi satwa liar.

Ketika kebakaran hutan dan lahan meluas, asap tebal menjadi ancaman langsung bagi satwa liar. Partikel dan gas dari pembakaran dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama saat hewan terpapar dalam waktu lama atau tidak mampu meninggalkan kawasan terdampak. Satwa yang bergerak di dekat permukaan tanah, berlindung di liang, atau hidup di tajuk yang dipenuhi asap dapat kesulitan menemukan udara yang lebih bersih. Gangguan pernapasan dapat melemahkan tubuh dan menghambat kemampuan mereka untuk bergerak, mencari makan, maupun menghindari bahaya lain. Anak satwa dan individu yang sudah lemah mungkin lebih rentan, meskipun tingkat dampaknya berbeda menurut jenis, kondisi, dan lamanya paparan.

Bahaya tidak selalu berakhir ketika api terlihat padam. Bara dapat bertahan atau tertutup lapisan tanah, abu, dan vegetasi hangus, sehingga keberadaannya sulit dikenali. Satwa yang melintas berisiko menginjak bagian yang masih panas dan mengalami luka bakar pada telapak kaki atau bagian tubuh lainnya. Cedera seperti ini dapat membuat mereka kesulitan berjalan, menjauh dari area terbakar, atau mencari sumber makanan. Dalam kondisi tersebut, luka juga dapat memperbesar kerentanan terhadap infeksi dan mengurangi peluang satwa untuk bertahan hidup. Karena bara tersembunyi tidak mudah terlihat, risiko tetap ada di lokasi yang sekilas tampak aman bagi manusia maupun satwa.

Dampak fisik kebakaran tidak selalu dapat diamati secara langsung. Banyak satwa diperkirakan mati di bagian dalam hutan yang sulit dijangkau petugas, baik karena paparan asap, luka bakar, maupun kondisi lain yang berkaitan dengan kebakaran. Bangkai atau individu yang tidak mampu bergerak mungkin berada jauh dari jalur yang dapat dilalui tim pemantau. Akibatnya, kematian tersebut berpotensi tidak terdeteksi dan tidak tercatat dalam pendataan lapangan. Perkiraan ini tidak berarti bahwa semua satwa di kawasan terbakar mati; sebagian dapat menghindar, berpindah, atau bertahan di tempat berlindung. Namun, sulitnya menjangkau wilayah terdampak membuat gambaran lengkap tentang korban satwa liar kerap tidak tersedia, sehingga angka yang tercatat belum tentu mencerminkan seluruh dampak sebenarnya.

Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda, dampaknya tidak berhenti pada pohon yang terbakar atau kawasan yang berubah menjadi abu. Kerusakan ekosistem menghilangkan tempat berlindung, sumber air, serta tumbuhan dan satwa lain yang menjadi bagian dari rantai makanan. Bagi satwa liar, kehilangan unsur-unsur tersebut dapat membuat habitat yang sebelumnya menyediakan kebutuhan hidup tidak lagi mampu mendukung mereka. Dalam keadaan demikian, satwa bisa terdorong meninggalkan kawasan yang rusak dan mencari ruang lain untuk bertahan hidup.

Perpindahan itu dapat membawa satwa mendekati permukiman dan lahan pertanian warga. Saat sumber pakan di habitatnya berkurang atau tidak tersedia, satwa mungkin mencari makanan di tempat yang lebih mudah dijangkau, termasuk area yang dikelola manusia. Kehadiran satwa liar di sekitar rumah atau kebun dapat menimbulkan kekhawatiran bagi warga, terutama jika aktivitas satwa beririsan dengan kegiatan sehari-hari dan sumber penghidupan. Pada saat yang sama, satwa yang telah kehilangan habitatnya menghadapi tekanan baru ketika harus bergerak di lingkungan yang asing atau berdekatan dengan manusia.

Kondisi tersebut meningkatkan potensi konflik manusia dan satwa liar. Interaksi yang sebelumnya jarang terjadi dapat menjadi lebih mungkin ketika kebakaran merusak habitat dan mendorong satwa mencari makan di luar kawasan alaminya. Risiko ini bukan semata-mata persoalan keberadaan satwa di dekat warga, melainkan juga cerminan dari kerusakan ruang hidup yang membuat manusia dan satwa semakin sering berhadapan. Karena itu, penanganan karhutla perlu memberi perhatian mendesak pada pencegahan sejak dini, perlindungan habitat, dan keselamatan satwa.

Baca juga: Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla | Komitmen Bersama untuk Keselamatan Sepak Bola di Jawa Tengah | Kekeringan Mengancam Jakarta, Warga Dihimbau Berhemat Air

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60