Patrolihukum.net — Gajah Mada, Mahapatih terkemuka Kerajaan Majapahit yang terlibat dalam peristiwa kontroversial Perang Bubat, mengakhiri hidupnya dengan moksa setelah dikepung oleh pasukan elite Majapahit. Peristiwa ini menandai akhir dari perjalanan panjangnya sebagai tokoh utama dalam sejarah Majapahit.
Perang Bubat, yang terjadi karena gagalnya rencana pernikahan Raja Hayam Wuruk, membuat Gajah Mada menjadi sorotan dan dikritik oleh pejabat istana. Dituduh sebagai dalang peristiwa tersebut, pasukan Majapahit diperintahkan untuk menangkapnya.

Menghadapi pengepungan, Gajah Mada memilih jalan spiritual dengan melakukan moksa, suatu konsep dalam tradisi Hindu-Jawa yang melambangkan pencapaian kesempurnaan spiritual. Dalam ritual yang disaksikan dari kejauhan oleh pasukan yang mengepungnya, Gajah Mada bermeditasi hingga akhirnya menghilang dari dunia ini.
Spekulasi dan legenda mengelilingi kepergiannya, dengan beberapa kisah yang mengatakan bahwa ia meninggalkan pesan-pesan terakhir, sementara yang lain percaya bahwa ia mengutuk para penuduhnya. Namun, satu hal yang pasti, kepergiannya meninggalkan kekosongan besar dalam kepemimpinan Majapahit yang harus diisi oleh Raja Hayam Wuruk dan pejabat istana.
Warisan Gajah Mada sebagai seorang pemimpin visioner dan perjuangannya untuk menyatukan Nusantara tetap hidup dalam sejarah dan budaya Indonesia. Namanya akan selalu dikenang sebagai simbol keberanian dan dedikasi untuk kejayaan Majapahit.
(Edi D/Red/**)
















