Jakarta | Sejumlah lurah dan juri menyampaikan kesan mereka setelah babak final Benyamin S Award (BSA) 2026. Presentasi final berlangsung di Hotel Ascott Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis, 15 Oktober. Dalam tahap ini, sepuluh finalis mengikuti penilaian presentasi di hadapan para juri. Momen tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian final, sekaligus kesempatan bagi peserta untuk memaparkan hal-hal yang dinilai dalam ajang penghargaan tersebut.
Kesan yang disampaikan para lurah menggambarkan perhatian mereka terhadap pelaksanaan babak final dan pengalaman mengikuti rangkaian penilaian. Sementara itu, para juri memberikan catatan berdasarkan pengamatan mereka selama presentasi. Beragam pandangan ini memperlihatkan bahwa final tidak hanya menjadi waktu untuk menetapkan penilaian, tetapi juga ruang bagi peserta dan penilai untuk melihat proses secara langsung. Setiap finalis mendapat kesempatan menyampaikan presentasinya sebagai bagian dari evaluasi.
Sepuluh peserta yang mencapai tahap akhir menjadi fokus penilaian pada hari tersebut. Mereka menjalani penilaian presentasi, dengan juri menyimak pemaparan masing-masing finalis. Tidak ada rincian tambahan mengenai urutan, durasi, maupun aspek teknis penilaian yang disampaikan dalam informasi acara. Karena itu, catatan mengenai final dapat berangkat dari hal yang telah dipastikan: para finalis tampil dalam sesi presentasi di hadapan juri, sedangkan sejumlah lurah dan juri kemudian menyampaikan kesan mereka.
Pelaksanaan di Hotel Ascott Menteng menandai berlangsungnya tahap penjurian final BSA 2026 di Jakarta Pusat. Kehadiran sepuluh finalis menunjukkan bahwa kompetisi telah memasuki tahap yang melibatkan penilaian langsung atas presentasi peserta. Kesan dari lurah dan juri memberi gambaran tentang suasana setelah sesi tersebut, tanpa mengubah fokus utama acara, yakni proses evaluasi para finalis. Dengan demikian, babak final menjadi titik temu paparan peserta dan perhatian para penilai, sekaligus bagian dari perjalanan penghargaan tahun 2026.
Ali Syahidin, Lurah Sukabumi Utara, Kota Jakarta Barat, hadir pada Final Benyamin S Award 2026 dengan perasaan gugup, tetapi tetap membawa optimisme. Baginya, kesempatan berada di hadapan para juri bukan sekadar penilaian atas kinerja seorang lurah atau capaian administratif kelurahan. Ia merasa sedang membawa aspirasi sekitar 47.000 warga Sukabumi Utara, sehingga tanggung jawab yang diemban melampaui dirinya sendiri. Kesadaran tersebut membuat pengalaman final terasa penting sekaligus menegangkan.
Optimisme Ali bertumpu pada gagasan dan harapan yang disampaikan masyarakat. Warga ingin Sukabumi Utara bertransformasi menjadi kampung wisata global budaya Sukabumi Utara. Harapan itu menggambarkan keinginan untuk mengembangkan identitas budaya setempat agar semakin dikenal, sekaligus menjadikannya bagian dari kehidupan dan daya tarik lingkungan. Dalam membawa pesan tersebut, Ali tidak hanya menyampaikan agenda pemerintahan, tetapi juga aspirasi warga mengenai arah perubahan yang mereka inginkan.
Transformasi menuju kampung wisata global budaya, menurut pandangan yang dibawanya, memerlukan keterlibatan masyarakat dan perhatian pada kualitas lingkungan sehari-hari. Cita-cita tersebut tidak terpisah dari upaya membangun kawasan yang bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Karena itu, pesan warga berkaitan dengan perubahan yang lebih luas daripada pencitraan atau kegiatan sesaat. Tujuannya adalah mendorong lingkungan yang lebih baik, sekaligus membuka ruang bagi budaya Sukabumi Utara untuk hadir dan berkembang.
Ali juga memandang Benyamin S Award bukan sebagai tujuan akhir. Penghargaan ini menjadi stimulus agar warga semakin bersemangat melanjutkan kerja bersama dan mewujudkan harapan mereka. Pengakuan pada tahap final dapat memberi dorongan, tetapi keberhasilan yang penting tetap terletak pada perubahan nyata di lingkungan. Dengan membawa aspirasi puluhan ribu warga, Ali menempatkan penghargaan sebagai pemantik untuk menjaga partisipasi masyarakat dan melanjutkan ikhtiar menjadikan Sukabumi Utara bersih, nyaman, indah, serta sejahtera.
Henny Mahrojah, Lurah Kebon Sirih, Jakarta Pusat, mengakui bahwa dirinya sempat merasa gugup menjelang presentasi dalam Final Benyamin S Award 2026. Situasi penilaian dan kesempatan untuk memaparkan kondisi wilayah di hadapan para juri membuatnya perlu menyiapkan diri. Namun, rasa gugup itu tidak berlangsung lama. Saat mulai menyampaikan salam pembuka, Henny merasakan semangatnya perlahan meningkat. Momen sederhana tersebut membantunya memasuki suasana presentasi dan melanjutkan penyampaian dengan lebih mantap.
Pengalaman itu menjadi bagian penting dari keikutsertaannya dalam ajang tersebut. Henny tidak hanya menghadapi kesempatan untuk berbicara di hadapan juri, tetapi juga memperoleh ruang untuk menerima pandangan mengenai lingkungan Kebon Sirih. Setelah seluruh presentasi selesai, ia merasa lega. Perasaan itu muncul setelah melewati tahap yang sebelumnya membuatnya tegang dan berhasil menyampaikan paparan hingga tuntas. Bagi seorang lurah, proses tersebut sekaligus menghadirkan kesempatan untuk mendengar penilaian dari pihak lain terhadap kondisi wilayah yang dipimpinnya.
Henny menyebut para juri memberikan sejumlah catatan yang dapat menjadi bahan perbaikan lingkungan ke depan. Salah satu tantangan yang disampaikan kepadanya adalah menjadikan wilayah Kebon Sirih lebih sehat dan indah. Catatan tersebut menunjukkan adanya harapan terhadap kualitas lingkungan, sekaligus menjadi masukan yang perlu diperhatikan setelah kompetisi berakhir. Henny menerima pandangan para juri sebagai pengingat bahwa upaya menjaga dan memperbaiki lingkungan tetap membutuhkan perhatian. Ia tidak merinci program atau rencana tertentu sebagai tindak lanjut, tetapi menegaskan bahwa masukan tersebut berkaitan dengan arah perbaikan wilayah. Dengan demikian, pengalaman presentasi yang semula disertai kegugupan berakhir dengan rasa lega dan sejumlah catatan untuk dipertimbangkan. Bagi Henny, masukan juri memberi gambaran tentang tantangan yang masih perlu dihadapi Kebon Sirih, terutama dalam mewujudkan lingkungan yang lebih sehat serta indah bagi warganya.
Penilaian terhadap sepuluh finalis Benyamin S Award 2026 tidak hanya melihat gagasan yang disampaikan, tetapi juga cara para lurah mempersiapkan dan menjelaskan programnya. Wicaksono Sarosa, director dan chief knowledge officer Ruang Waktu, menilai para peserta secara umum telah menyiapkan presentasi dengan baik dan mengikuti arahan yang diberikan. Persiapan tersebut memberi dasar bagi juri untuk memahami program, capaian, serta pendekatan yang hendak ditawarkan masing-masing wilayah.
Meski demikian, kualitas penyampaian para finalis beragam. Sebagian mampu menguraikan materi dengan lancar, sedangkan beberapa peserta masih membaca bahan presentasi. Perbedaan itu menjadi catatan tersendiri karena penyampaian yang jelas membantu juri menangkap konteks dan alasan di balik suatu program. Namun, presentasi bukan satu-satunya sumber penilaian. Juri juga perlu menggali lebih jauh persoalan yang dihadapi wilayah, potensi yang tersedia, dan hal-hal penting yang belum muncul dalam paparan peserta.
Tantangan tersebut menuntut juri untuk mengajukan pertanyaan yang dapat membuka gambaran lebih lengkap tentang kondisi di lapangan. Sebuah program mungkin terlihat kuat dalam paparan, tetapi masih perlu dipahami bagaimana pelaksanaannya, siapa yang terlibat, serta apakah manfaatnya dirasakan warga. Sebaliknya, potensi lokal yang belum tergarap atau kendala yang belum sempat dijelaskan juga dapat memberi konteks penting. Proses tanya jawab karena itu menjadi bagian dari upaya menilai kepemimpinan dan kemampuan lurah membaca kebutuhan wilayahnya.
Pengamat tata kota Yayat Supriyatna menyoroti keberanian lurah dalam menentukan arah perubahan: berinovasi untuk menjawab persoalan setempat atau sekadar menjalankan aturan yang sudah ada. Kepatuhan terhadap ketentuan tetap penting, tetapi kemajuan wilayah juga membutuhkan inisiatif, gagasan, dan kepemimpinan yang mampu menggerakkan berbagai pihak. Menurutnya, perubahan sebaiknya tumbuh dari kekuatan masyarakat, bukan hanya bergantung pada aparat. Peran lurah menjadi penting untuk membuka ruang partisipasi, mendorong kerja bersama, dan membuat warga menjadi bagian dari proses pembangunan.
Catatan para juri tersebut melengkapi rangkaian seleksi, festival, dan presentasi final Benyamin S Award.
















