Kabupaten Lebak | Seorang warga Kabupaten Lebak, Muhammad Deni, 38 tahun, meninggal dunia setelah tertimbun longsoran tanah saat menggali sumur. Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Minggu (11/10) sekitar pukul 07.30 WIB. Insiden itu menimpa Deni ketika proses penggalian telah mencapai kedalaman sekitar 15 meter.
Longsoran tanah secara tiba-tiba menimbun korban yang berada di dalam lubang sumur. Kedalaman penggalian tersebut membuat korban berada jauh di bawah permukaan tanah ketika material longsor jatuh dan menutup area tempatnya bekerja. Akibat kejadian itu, Deni tidak dapat menyelamatkan diri dan akhirnya meninggal dunia.
Muhammad Deni diketahui merupakan warga Malimping, Kabupaten Lebak. Peristiwa ini menjadi insiden fatal dalam pekerjaan penggalian sumur, terutama karena korban tertimbun saat berada di kedalaman 15 meter. Kejadian tersebut berlangsung pada pagi hari, sekitar pukul 07.30 WIB, ketika aktivitas penggalian sedang dilakukan.
Informasi mengenai insiden itu menempatkan longsoran tanah sebagai penyebab utama korban tertimbun. Deni dilaporkan meninggal dunia setelah tubuhnya tertutup material tanah dari longsoran yang terjadi di dalam area penggalian. Peristiwa tersebut kemudian menjadi perhatian karena penggalian sumur berakhir dengan hilangnya nyawa warga setempat.
Korban yang berusia 38 tahun itu merupakan warga Malimping yang saat kejadian sedang menggali sumur hingga kedalaman 15 meter. Longsoran yang terjadi pada Minggu pagi menyebabkan Deni tertimbun dan tidak dapat keluar dari lubang penggalian. Insiden tersebut menegaskan akibat fatal yang dapat terjadi ketika pekerjaan penggalian berlangsung di kedalaman tertentu dan material tanah mengalami longsor secara mendadak.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa kecelakaan tersebut terjadi ketika korban masih berada di dalam sumur untuk melakukan penggalian. Pada saat proses itu berlangsung, bagian dinding sumur tiba-tiba runtuh. Material tanah dari dinding kemudian jatuh ke dalam ruang sumur dan menimpa korban yang berada di bawahnya.
Menurut penjelasan Al Amrad, posisi korban yang berada di dalam sumur membuatnya tertimbun oleh longsoran tanah tersebut. Reruntuhan tidak hanya menutup area tempat korban bekerja, tetapi juga menghalangi ruang geraknya. Akibat tertimbun material, korban tidak mampu menyelamatkan diri atau keluar dari dalam sumur ketika tanah dari dinding terus memenuhi bagian bawahnya.
Dengan demikian, mekanisme kecelakaan bermula dari runtuhnya tanah pada dinding sumur saat penggalian masih dilakukan. Tanah yang longsor langsung masuk ke dalam sumur dan menimbun korban yang berada di dalamnya. Al Amrad menegaskan bahwa korban kemudian tidak dapat melepaskan diri dari material tanah yang menutupinya. Penjelasan tersebut menggambarkan bahwa korban berada dalam kondisi terperangkap setelah dinding sumur mengalami keruntuhan, sehingga proses penyelamatan harus dilakukan terhadap seseorang yang tertimbun di ruang sempit dan dipenuhi material longsoran.
Tim SAR gabungan melakukan evakuasi korban secara bertahap setelah warga tersebut tertimbun longsoran tanah saat menggali sumur. Proses pengangkatan tidak dapat dilakukan secara terburu-buru karena material tanah yang menimbun korban berada di dalam ruang sempit dan memiliki risiko kembali bergerak. Setiap bagian tanah diangkat perlahan agar kondisi di sekitar korban tetap dapat dipantau sepanjang proses penyelamatan.
Pengangkatan material dilakukan sedikit demi sedikit, dengan perhatian pada kestabilan dinding sumur dan posisi korban. Petugas terlebih dahulu menangani tanah yang memungkinkan untuk dipindahkan, kemudian melanjutkan penggalian menuju bagian tubuh korban secara hati-hati. Tahapan tersebut dilakukan untuk menghindari tekanan tambahan terhadap korban serta mencegah longsoran baru yang dapat menghambat proses evakuasi.
Di tengah proses pengangkatan, petugas juga memperkuat dinding sumur. Penguatan ini menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko runtuh susulan ketika tanah di sekitar lokasi mulai dibuka. Dinding yang diperkuat membantu menjaga ruang kerja tetap lebih stabil, sehingga petugas dapat melanjutkan pemindahan material dengan tingkat kehati-hatian yang diperlukan.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa evakuasi tidak hanya berfokus pada pengangkatan korban, tetapi juga pada keselamatan selama seluruh tahapan berlangsung. Petugas perlu memastikan kondisi lokasi cukup aman sebelum memindahkan bagian tanah berikutnya. Apabila terdapat tanda-tanda pergerakan tanah atau perubahan pada dinding sumur, proses dapat dilakukan secara lebih perlahan untuk mengurangi bahaya bagi petugas dan korban.
Setelah material yang menimbun korban berhasil disingkirkan secara bertahap dan kondisi dinding dinilai lebih terkendali, evakuasi dilanjutkan hingga korban dapat diangkat dari dalam sumur. Pendekatan ini diperlukan karena setiap tindakan di lokasi longsoran memiliki potensi risiko. Penguatan dinding menjadi bagian dari prosedur keselamatan selama pengangkatan, sekaligus mendukung kelancaran penanganan korban oleh tim SAR gabungan.
Proses evakuasi terhadap Muhammad Deni berlangsung lebih dari 13 jam. Upaya pengangkatan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi tanah dan ruang di dalam sumur. Petugas serta warga yang terlibat harus bekerja dengan hati-hati agar proses evakuasi dapat berjalan aman dan tidak menimbulkan longsoran susulan. Lamanya penanganan membuat proses tersebut baru selesai pada malam hari.
Berdasarkan keterangan Al Amrad, korban akhirnya berhasil diangkat dari dalam sumur. Jasad Muhammad Deni dibawa ke permukaan sekitar pukul 22.30 WIB. Saat ditemukan dan berhasil dievakuasi, korban berada dalam kondisi meninggal dunia. Waktu pengangkatan itu menandai berakhirnya proses pencarian dan evakuasi yang berlangsung sejak kejadian dilaporkan.
Setelah jasad berada di permukaan, penanganan korban dilanjutkan sesuai prosedur yang berlaku. Petugas memastikan proses evakuasi selesai sebelum korban dibawa untuk penanganan lebih lanjut. Keterangan mengenai waktu pengangkatan tersebut disampaikan Al Amrad sebagai bagian dari perkembangan terakhir penanganan insiden di lokasi. Dengan demikian, seluruh rangkaian evakuasi korban dari dalam sumur telah dilakukan hingga tahap pengangkatan pada malam hari.
Baca juga: Diduga Berujung Beda Pilihan Politik, 4 Kader Posyandu Paya Bujok Teungoh Diberhentikan, Camat Diminta Sikapi | Pencurian Motor di Margonda Berujung Tangkap















