Palembang | Palembang, Sumatera Selatan, kembali tertutup kabut asap tebal pada Selasa, 13 Oktober 2026. Asap mulai tampak sejak pagi dan membuat pandangan di sejumlah bagian kota berkurang. Hingga siang hari, lapisan asap tersebut belum menunjukkan tanda-tanda menipis. Kondisi ini menjadi perhatian warga yang menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah jarak pandang yang terbatas.
Ketebalan asap juga membuat Jembatan Ampera hampir hilang dari pandangan. Ikon Palembang itu tidak terlihat jelas sebagaimana biasanya karena tertutup lapisan kabut yang semakin pekat. Pemandangan tersebut menggambarkan kuatnya dampak kabut asap yang dirasakan masyarakat secara langsung, terutama ketika warga melihat perubahan jarak pandang sejak pagi hingga memasuki siang.
Kabut asap yang menyelimuti Palembang ini merupakan bagian dari kondisi yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Dalam perkembangannya, keadaan tersebut kini disebut semakin memburuk. Warga kembali menghadapi udara yang dipenuhi asap dan pandangan yang tidak leluasa, sementara aktivitas di dalam kota tetap berlangsung. Situasi pada Selasa siang memperlihatkan bahwa kabut asap belum berakhir dan masih menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat Palembang.
Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Palembang semakin memengaruhi jarak pandang di dalam kota. Lapisan asap tampak membuat suasana perkotaan menjadi lebih buram, terutama ketika pengguna jalan melihat objek dari kejauhan. Kondisi tersebut tidak hanya mengurangi kejelasan pemandangan, tetapi juga menyulitkan masyarakat mengenali kendaraan, bangunan, dan berbagai tanda visual di sepanjang perjalanan.
Jembatan Ampera, salah satu ikon utama Palembang, dilaporkan hampir tidak terlihat dari kejauhan akibat pekatnya kabut asap. Biasanya tampak menonjol di atas Sungai Musi, jembatan tersebut kini terlihat samar dan seolah menyatu dengan latar kota yang tertutup asap. Pemandangan ini menunjukkan bahwa penurunan visibilitas telah terasa nyata, bukan hanya di area sekitar sumber asap, melainkan juga di kawasan perkotaan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Sejumlah ruas jalan utama juga mengalami kondisi serupa. Pandangan yang terbatas dapat membuat pengguna jalan lebih sulit memperkirakan keberadaan kendaraan lain, mengenali perubahan situasi di depan, atau mengantisipasi pergerakan dari arah berbeda. Karena itu, masyarakat yang tetap harus bepergian perlu meningkatkan kewaspadaan selama berada di jalan. Kehati-hatian menjadi penting untuk mengurangi risiko kecelakaan ketika jarak pandang menurun, sementara kondisi lalu lintas tetap berlangsung. Kabut asap yang semakin tebal turut menuntut perhatian lebih dari seluruh pengguna jalan agar perjalanan dapat berlangsung dengan aman dan tidak menambah risiko bagi pengguna lainnya.
Kabut asap yang menyelimuti Palembang tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga mulai dirasakan langsung oleh warga dalam aktivitas sehari-hari. Udara yang dipenuhi asap membuat sejumlah masyarakat merasa tidak nyaman ketika berada di luar ruangan. Kondisi tersebut terlihat dari keluhan mengenai mata perih, sesak napas, serta tenggorokan yang terasa kering. Gangguan ini dirasakan ketika warga berangkat bekerja, beraktivitas di lingkungan tempat tinggal, maupun melintas di sejumlah ruas jalan yang tertutup asap.
Jembatan Ampera yang biasanya menjadi salah satu penanda penting Kota Palembang juga semakin sulit terlihat. Pekatnya kabut membuat bangunan tersebut hampir menghilang dari pandangan, terutama dari lokasi yang berada cukup jauh. Berkurangnya jarak pandang turut membuat perjalanan masyarakat perlu dilakukan dengan lebih hati-hati karena objek di depan tidak selalu dapat terlihat dengan jelas.
Iwan, warga Palembang, mengatakan bahwa kondisi asap pada hari itu semakin parah. Ia menyebut Jembatan Ampera tidak terlihat akibat pekatnya kabut asap. Iwan juga merasakan mata yang sakit dan sesak napas ketika menghadapi kondisi tersebut. Kesaksiannya menggambarkan bagaimana kabut asap tidak hanya menjadi persoalan pemandangan kota, tetapi telah mengganggu kenyamanan warga dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
Warga berharap pemerintah segera menyelesaikan masalah kebakaran hutan dan lahan yang menjadi sumber kabut asap. Penanganan yang cepat dan menyeluruh dinilai penting agar kualitas udara dapat membaik dan masyarakat tidak terus-menerus terpapar kondisi yang mengganggu. Dengan berkurangnya asap, warga berharap aktivitas harian dapat kembali berlangsung normal, perjalanan menjadi lebih aman, serta pemandangan kota dan Jembatan Ampera kembali terlihat jelas.
Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mulai terlihat pada meningkatnya gangguan kesehatan masyarakat. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Ira Primadesa, menyampaikan bahwa hingga September 2026 tercatat 52.483 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di provinsi tersebut. Jumlah itu dipengaruhi oleh buruknya kualitas udara akibat karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Sumsel selama musim kemarau 2026.
Kondisi udara yang memburuk membuat warga perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika asap semakin pekat dan jarak pandang menurun. Masyarakat yang mengalami gejala ISPA atau gangguan kesehatan lain akibat paparan asap dapat memanfaatkan posko kesehatan yang dioptimalkan oleh Dinas Kesehatan Kota Palembang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, dr Fenty Aprina, mengatakan di Palembang pada Senin, 12 Oktober, bahwa posko kesehatan tersedia di 18 kecamatan. Fasilitas tersebut dapat digunakan warga yang mengalami ISPA maupun keluhan kesehatan yang berkaitan dengan kabut asap. Posko beroperasi selama 24 jam dengan dukungan tenaga medis dari sejumlah puskesmas.
Pendirian posko disesuaikan dengan lokasi karhutla serta kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak. Langkah tersebut dilakukan agar akses pertolongan kesehatan tetap tersedia ketika kualitas udara menurun dan risiko gangguan pernapasan meningkat. Selain posko di tingkat kecamatan, enam puskesmas juga disiagakan untuk memberikan pelayanan selama 24 jam bagi warga yang mengalami gejala ISPA.
Penguatan layanan kesehatan ini menjadi bagian dari penanganan pemerintah daerah terhadap dampak karhutla. Dengan tersedianya posko dan puskesmas yang siaga sepanjang waktu, warga memiliki pilihan untuk memperoleh pemeriksaan ketika mengalami keluhan akibat asap. Data kasus ISPA dan kondisi kualitas udara terus menjadi perhatian dalam menentukan penyesuaian layanan di wilayah Palembang dan Sumatera Selatan.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah
















