Transisi Pengelolaan Bandung Zoo Dipastikan Berjalan, Nasib Eks Pekerja Jadi Prioritas

Transisi Pengelolaan Bandung Zoo Dipastikan Berjalan, Nasib Eks Pekerja Jadi Prioritas
banner 468x60

KOTA BANDUNG, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Pemerintah Kota Bandung memastikan masa transisi pengelolaan Bandung Zoo berjalan dengan baik setelah tanggung jawab pengelolaan beralih kepada Faunaland. Peralihan tersebut dipandang sebagai tahapan penting untuk menata kembali operasional kebun binatang, termasuk memastikan koordinasi pemerintah, pengelola baru, serta pihak-pihak yang sebelumnya terlibat. Pemerintah kota tidak ingin proses perubahan berlangsung tanpa arah, terutama karena Bandung Zoo memiliki peran sebagai ruang edukasi, rekreasi, dan konservasi bagi masyarakat.

Penataan masa peralihan menjadi dasar sebelum agenda revitalisasi Bandung Zoo dilanjutkan secara lebih terarah dan berkelanjutan. Pemerintah perlu memastikan berbagai aspek administratif, teknis, dan sosial dapat diselesaikan secara bertahap agar pengelolaan baru mampu berjalan efektif. Dengan demikian, revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembenahan fasilitas atau peningkatan daya tarik kawasan, tetapi juga mempertimbangkan kesinambungan layanan dan dampak perubahan terhadap pihak-pihak yang terdampak.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan bahwa penyelesaian persoalan sosial, khususnya yang berkaitan dengan eks pekerja Bandung Zoo, menjadi salah satu prioritas pemerintah kota. Perubahan pengelolaan berpotensi memengaruhi status, pekerjaan, dan kondisi ekonomi para pekerja yang sebelumnya menjalankan aktivitas di kebun binatang tersebut. Karena itu, pemerintah berupaya memastikan persoalan tersebut dibahas dan ditangani melalui proses yang tertib, dengan memperhatikan kondisi para pekerja serta ketentuan yang berlaku.

Penegasan mengenai nasib eks pekerja menunjukkan bahwa pemerintah tidak menempatkan revitalisasi sebagai satu-satunya perhatian. Sebelum pembangunan dan pembaruan kawasan dilakukan lebih jauh, proses peralihan beserta konsekuensinya perlu ditata terlebih dahulu. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan dasar pengelolaan yang lebih stabil, sekaligus mencegah persoalan sosial berkembang selama masa perubahan. Setelah aspek transisi dapat ditangani, pengembangan Bandung Zoo diharapkan memiliki arah yang lebih jelas, terukur, dan berkelanjutan.

Perubahan pengelolaan Bandung Zoo turut berdampak pada kondisi tenaga kerja yang sebelumnya menjalankan berbagai fungsi di lingkungan kebun binatang tersebut. Berdasarkan data yang tersedia, dari total 121 eks karyawan Bandung Zoo, sebanyak 57 orang tercatat sebagai pekerja terdampak. Data ini menjadi bagian penting dalam pembahasan masa transisi karena keberlanjutan pengelolaan tidak hanya berkaitan dengan aspek kelembagaan, tetapi juga menyangkut kehidupan para pekerja yang selama ini mendukung operasional Bandung Zoo.

Para pekerja terdampak memiliki latar belakang tugas yang beragam. Sebagian berpengalaman dalam perawatan satwa, yaitu pekerjaan yang berhubungan langsung dengan pemeliharaan dan kebutuhan hewan. Selain itu, terdapat pekerja yang menangani kegiatan operasional, sarana dan prasarana, serta pertamanan. Beragamnya bidang tersebut menunjukkan bahwa tenaga kerja eks Bandung Zoo memiliki pengalaman yang mendukung berbagai kebutuhan pengelolaan lingkungan kebun binatang.

Data tersebut juga mencakup pekerja pada bidang nutrisi satwa, pelayanan tiket, dan administrasi. Setiap bidang memiliki peran tersendiri dalam memastikan kegiatan Bandung Zoo dapat berlangsung secara teratur. Perawatan dan nutrisi satwa berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hewan, sedangkan operasional, fasilitas, pertamanan, pelayanan pengunjung, serta administrasi menunjang kegiatan dari sisi teknis dan pelayanan. Karena itu, penanganan terhadap para pekerja terdampak perlu mempertimbangkan keragaman pengalaman serta bidang kerja mereka.

Pemerintah Kota Bandung sedang menyiapkan kesempatan kerja bagi para eks karyawan tersebut sebagai bagian dari penanganan aspek sosial selama masa transisi. Langkah ini menunjukkan bahwa nasib tenaga kerja menjadi salah satu perhatian dalam proses perubahan pengelolaan Bandung Zoo. Kesempatan kerja yang disiapkan diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam merespons dampak sosial yang dirasakan oleh 57 pekerja terdampak, dengan tetap memperhatikan latar belakang dan pengalaman kerja mereka.

Pemerintah Kota Bandung menyiapkan tindak lanjut penempatan kerja bagi eks karyawan Bandung Zoo bersama Faunaland. Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana, menyatakan bahwa proses tersebut akan dilakukan secara terukur dengan mengacu pada hasil asesmen yang disusun Faunaland. Asesmen itu menjadi salah satu dasar untuk memetakan peluang kerja sesuai kompetensi, pengalaman, serta kemampuan setiap pekerja. Data tersebut tidak hanya digunakan untuk melihat kesesuaian individu dengan posisi yang tersedia, tetapi juga menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebutuhan penempatan secara realistis dan berkelanjutan.

Faunaland telah menyepakati rencana penempatan bersama pemerintah kota dengan mempertimbangkan dua aspek utama, yakni kompetensi para pekerja dan kebutuhan tenaga kerja pada setiap perangkat daerah. Dengan pendekatan tersebut, penempatan tidak dilakukan secara seragam, melainkan disesuaikan dengan kualifikasi, pengalaman, dan jenis pekerjaan yang diperlukan. Hasil asesmen diharapkan dapat membantu menentukan bidang tugas yang paling relevan, sekaligus memberikan gambaran mengenai peluang kerja yang dapat diikuti oleh masing-masing eks karyawan. Pemerintah kota juga akan mencermati ketersediaan posisi agar proses penempatan berjalan sesuai kebutuhan organisasi.

Pola penempatan yang direncanakan mencakup tenaga outsourcing atau kontrak perorangan, bergantung pada kebutuhan dan mekanisme yang berlaku. Skema tersebut akan dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan administratif, persyaratan pekerjaan, serta prosedur pengadaan tenaga kerja pada perangkat daerah terkait. Karena itu, hasil asesmen Faunaland berfungsi sebagai rujukan awal, bukan satu-satunya penentu, dalam proses seleksi dan penempatan. Pemerintah Kota Bandung bersama Faunaland akan melanjutkan koordinasi agar informasi mengenai persyaratan, posisi, dan tahapan berikutnya dapat disampaikan secara jelas kepada para eks karyawan. Langkah ini ditujukan untuk memastikan transisi pengelolaan Bandung Zoo tetap memperhatikan keberlanjutan kesempatan kerja bagi mereka.

Faunaland menyatakan kesiapan untuk menata pengelolaan Bandung Zoo menjelang pelaksanaan revitalisasi dan pembukaan kembali bagi masyarakat. General Manager Faunaland, Dwiki G Prakoso, menjelaskan bahwa persiapan tersebut tidak hanya berfokus pada kawasan dan fasilitas yang akan digunakan pengunjung. Penataan organisasi juga menjadi bagian penting agar seluruh kegiatan dapat berjalan secara terarah, memiliki pembagian tanggung jawab yang jelas, serta mendukung pengelolaan secara berkelanjutan.

Menurut Dwiki, kesiapan organisasi diperlukan untuk memastikan pengelolaan Bandung Zoo dapat berlangsung secara konsisten setelah proses transisi selesai. Aspek tersebut mencakup penyesuaian kerja, koordinasi antarpihak, dan penguatan sistem yang mendukung operasional kawasan. Dengan penataan yang dilakukan secara bertahap, pengelola baru dapat mempersiapkan kebutuhan pengelolaan secara lebih menyeluruh, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan perawatan kawasan dan satwa.

Faunaland juga menyampaikan penghargaan terhadap kontribusi para pekerja lama Bandung Zoo. Di tengah masa penutupan dan proses peralihan pengelolaan, mereka tetap menjaga kawasan serta memastikan perawatan satwa berjalan. Peran tersebut dinilai penting karena keberlangsungan pemeliharaan satwa membutuhkan perhatian dan tanggung jawab yang dilakukan secara rutin. Penghargaan itu menjadi bagian dari perhatian Faunaland terhadap pengalaman dan kontribusi pekerja yang selama ini terlibat dalam pengelolaan kebun binatang.

Setelah transisi tertata, Faunaland akan melanjutkan proses revitalisasi Bandung Zoo sesuai dengan persiapan yang telah disusun. Penataan kawasan, fasilitas, dan organisasi akan menjadi bagian yang saling mendukung dalam membangun pengelolaan yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian, langkah menuju pembukaan kembali tetap ditempatkan dalam rangkaian persiapan yang mempertimbangkan kondisi kawasan, kebutuhan satwa, kesiapan operasional, serta keberlanjutan pengelolaan bersama.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60