Menu

Mode Gelap
TNI AD Berjuang Bersama Rakyat, Kodim 0820 Peringati Hari Juang Ke-79 Polsek Widang Tingkatkan Patroli di Perbatasan Jelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 Advokat Muda Salamul Huda Nahkodai GP Ansor Kota Probolinggo Masa Khidmat 2024-2029 88 Karateka Ikuti Ujian Kenaikan Tingkat Kodim 1009/Tanah Laut Peringatan Hari Juang Kartika TNI AD Ke-79, Dandim Tanah Laut Ajak Rakyat Bersama TNI Jaga NKRI HUT Ke-10 Sanggar Seni Reog Singo Lawu: Dukungan PKB Marelan

Opini

“Yakuza Maneges” Menggema di Kediri: Antara Stigma Mafia, Dakwah Jalanan, dan Perlawanan terhadap Penghakiman Sosial

badge-check


“Yakuza Maneges” Menggema di Kediri: Antara Stigma Mafia, Dakwah Jalanan, dan Perlawanan terhadap Penghakiman Sosial Perbesar

KEDIRI — Di tengah gelombang pro kontra yang mengiringi kemunculan sebuah organisasi dengan nama tak lazim, suara dukungan justru datang dari kalangan praktisi hukum. Dedy Luqman Hakim menyatakan dukungan penuh terhadap berdirinya organisasi Yakuza Maneges yang dipimpin Den Gus Thuba di Kediri, Jawa Timur.

Organisasi yang resmi dideklarasikan pada 9 Mei 2026 itu kini menjadi sorotan publik. Nama “Yakuza” yang identik dengan organisasi mafia Jepang memantik berbagai persepsi liar di tengah masyarakat.

“Yakuza Maneges” Menggema di Kediri: Antara Stigma Mafia, Dakwah Jalanan, dan Perlawanan terhadap Penghakiman Sosial

Namun di balik kontroversi tersebut, terdapat narasi berbeda yang coba dibangun: sebuah gerakan sosial dan dakwah yang mengusung semangat perubahan hidup.

Menurut Dedy Luqman Hakim, masyarakat seharusnya tidak tergesa-gesa memberikan stigma negatif sebelum memahami filosofi dan tujuan organisasi tersebut secara utuh.

“Pro kontra itu hal yang biasa dalam dinamika sosial. Tetapi jangan langsung menghakimi. Cermati dengan bijak dan tetap mengedepankan sikap saling menghormati,” tegas Dedy saat memberikan keterangan di Kediri.

Dalam penjelasannya, Dedy mengungkapkan bahwa istilah “Yakuza Maneges” bukanlah simbol kriminalitas sebagaimana persepsi publik selama ini. Ia menyebut nama tersebut justru memiliki makna filosofis mendalam.

“Yakuza Maneges berarti Yang Awalnya Kotor, Ujungnya Zuhud Abadi. Filosofi ini menggambarkan perjalanan seseorang dari kehidupan kelam menuju perubahan yang lebih baik, lebih spiritual, dan lebih bermanfaat bagi sesama,” jelasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi jawaban atas kritik yang mempertanyakan penggunaan istilah “Yakuza” dalam organisasi tersebut. Dedy menilai, simbol itu sengaja dihadirkan sebagai bentuk pendekatan sosial kepada kelompok masyarakat yang selama ini sering dipandang sebelah mata.

Ia menegaskan, Yakuza Maneges hadir bukan untuk membangun ketakutan, melainkan menjadi ruang pembinaan bagi mereka yang ingin berhijrah dan memperbaiki diri.

“Ini bukan organisasi kekerasan. Justru dijadikan simbol dakwah, persaudaraan, dan gerakan sosial untuk merangkul semua kalangan, termasuk mereka yang sering disebut ‘santri jalur kiri’,” ujarnya.

Sementara istilah “Maneges”, lanjut Dedy, berasal dari akar kata bahasa Jawa teges yang berarti jelas. Secara filosofis, “Maneges” dimaknai sebagai upaya mencari kejelasan, menegaskan nilai kebenaran, dan menghadirkan kehidupan yang lebih bermakna.

Di balik nama yang kontroversial, Yakuza Maneges disebut membawa metode dakwah yang tidak kaku. Pendekatan yang santai namun menyentuh dianggap menjadi alasan mengapa organisasi tersebut mulai menarik perhatian berbagai kalangan masyarakat.

Dedy bahkan mengaku banyak memperoleh pelajaran kehidupan dari sosok Den Gus Thuba. Ia menilai pendekatan yang digunakan mudah dipahami dan mampu menggugah kesadaran banyak orang untuk berubah menjadi lebih baik.

“Kami banyak belajar dari Den Gus Thuba. Wejangan-wejangan beliau sederhana, mudah dipahami, tetapi mampu menggerakkan hati kami untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.

Sebagai praktisi hukum, Dedy juga menilai keberadaan komunitas semacam ini dapat menjadi ruang sosial yang positif, khususnya bagi masyarakat yang sedang mencari arah perubahan hidup.

“Kami mendukung penuh Yakuza Maneges karena membawa pesan bahwa masa lalu yang buruk bukan penghalang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Di tengah derasnya stigma sosial terhadap kelompok-kelompok nonmainstream, kemunculan Yakuza Maneges menjadi fenomena yang memantik perhatian publik.

Sebagian melihatnya sebagai kontroversi, namun sebagian lain memandangnya sebagai bentuk dakwah alternatif yang mencoba merangkul mereka yang selama ini berada di pinggiran kehidupan sosial dan spiritual.

Kini publik menanti, apakah organisasi tersebut benar-benar mampu membuktikan diri sebagai gerakan perubahan yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat, atau justru tenggelam dalam kontroversi nama besar yang sejak awal melekat.

(luck)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Irene Bantah Mundur Sukarela, Sengketa dengan PT Prospek Manunggal Abadi Menguat

14 Mei 2026 - 00:47 WIB

Kerja

Dedy Luqman Hakim: “Kontrak Bukan Jaminan Kejujuran”

13 Mei 2026 - 19:59 WIB

Hukum

Patut Di Apresiasi Pelayanan Dan Kinerja Kapolsek Bualemo Iptu Alwi Polii, Bagi Para Petinggi Polri, Pengayom Yang Mengayomi.

12 Mei 2026 - 10:36 WIB

Bualemo

Mediasi PHK Klinik Sentosa Kembali Ricuh, Eks Security Tagih Pesangon

12 Mei 2026 - 09:46 WIB

Pekerja

Program Desa Digital Tuban Disorot, Kecepatan Internet Diduga Tak Sesuai Spesifikasi

11 Mei 2026 - 20:45 WIB

Program Desa Digital Tuban Disorot, Kecepatan Internet Diduga Tak Sesuai Spesifikasi
Trending di Berita