TUBAN, Patrolihukum.net — Kepulan asap putih tebal dari area gudang PT NESR di Desa Selogabus, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, yang sempat viral di media sosial dan memicu keresahan warga, kini menuai polemik berkepanjangan. Meski pihak perusahaan dan kepolisian menyebut aktivitas tersebut sebagai bagian dari proses operasional normal, warga sekitar justru melontarkan protes keras karena merasa dampak yang mereka alami setiap hari diabaikan.
Video kepulan asap yang beredar luas melalui akun media sosial Lokal Tuban sebelumnya sempat membuat warga panik. Banyak masyarakat menduga terjadi kebocoran gas atau insiden berbahaya di lokasi gudang tersebut.

Menanggapi kegaduhan itu, pihak manajemen PT NESR melalui Daniel Wahyudi memberikan klarifikasi bahwa aktivitas yang terekam dalam video merupakan proses transfer gas Nitrogen (N₂) dari mobil tangki pemasok menuju tangki milik perusahaan.
“Aktivitas yang terekam dan terlihat di video itu merupakan proses normal, yaitu kegiatan pemindahan atau transfer gas Nitrogen (N₂) dari mobil tangki milik pemasok kami, PT Linde Surabaya, ke mobil tangki milik PT NESR. Jadi itu adalah bagian dari operasional harian kami dan tidak ada hal yang mencurigakan,” ujar Daniel Wahyudi dalam keterangannya.
Pernyataan serupa juga disampaikan Kasi Humas Polres Tuban, Iptu Siswanto. Ia menyebut jajaran Polsek Parengan telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi guna memastikan situasi aman dan tidak membahayakan masyarakat.
“Tim kami sudah turun melakukan klarifikasi dan pemantauan situasi langsung ke lokasi. Dari hasil pengecekan di lapangan, aktivitas tersebut adalah proses operasional yang memang biasa dilakukan dan dipastikan tidak ditemukan adanya kebocoran gas berbahaya maupun potensi bahaya yang mengancam keselamatan,” kata Iptu Siswanto.
Namun, penjelasan resmi tersebut justru memantik kemarahan warga yang tinggal berdekatan dengan area operasional gudang. Warga menilai klarifikasi perusahaan dan aparat tidak sejalan dengan kenyataan yang mereka alami sehari-hari.
Menurut warga, persoalan bukan hanya muncul saat video asap viral di media sosial, melainkan gangguan lingkungan yang disebut sudah berlangsung cukup lama, mulai dari suara bising, bau menyengat, hingga kepulan asap yang dinilai mengganggu kesehatan dan kenyamanan hidup masyarakat sekitar.
“Kata mereka normal? Coba saja kalau rumah pejabat atau pemilik perusahaan didekatkan ke gudang itu, pasti baru tahu rasanya. Kami yang tinggal di sini merasakan dampaknya setiap hari. Suara bising alat berat, desisan gas, sampai bau menyengat itu nyata,” ujar salah seorang warga dengan nada kesal, Jumat (29/5/2026).
Warga juga menyoroti lokasi gudang yang disebut berada dekat fasilitas umum seperti masjid dan lingkungan pendidikan. Mereka mempertanyakan kelayakan operasional perusahaan di tengah permukiman warga.
“Katanya aman dan normal? Coba suruh mereka datang saat asap keluar, hirup sendiri sampai sesak napas. Baru tahu rasanya. Kalau memang aman, kenapa kami sering merasa pusing, mual, dan sesak napas saat angin mengarah ke rumah?” ungkap warga lainnya.
Tak hanya itu, masyarakat meminta instansi terkait, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), turun langsung melakukan pemeriksaan independen dan tidak hanya mengacu pada penjelasan perusahaan semata.
Warga mendesak adanya audit menyeluruh terkait izin lingkungan, baku mutu emisi udara, tingkat kebisingan, hingga legalitas operasional gudang PT NESR di kawasan permukiman padat penduduk.
“Jangan sampai klarifikasi hanya untuk meredam kegaduhan di media sosial, sementara warga yang setiap hari terdampak justru diabaikan. Kami butuh kenyamanan dan keadilan, bukan sekadar penjelasan di atas kertas,” tegas warga.
Hingga berita ini diturunkan, polemik antara penjelasan resmi perusahaan dan keluhan masyarakat masih terus bergulir. Warga mengaku akan terus mendorong instansi terkait melakukan pemeriksaan terbuka dan transparan demi memastikan keselamatan serta kenyamanan lingkungan sekitar tetap terjamin. (Bbg/Edi D/**)


























3 Komentar