Teknologi Penangkap Karbon Diuji di Petrokimia Gresik, Emisi Disebut Bisa Turun 95 Persen

Teknologi Penangkap Karbon Diuji di Petrokimia Gresik, Emisi Disebut Bisa Turun 95 Persen
banner 468x60

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyampaikan bahwa teknologi carbon capture atau penangkap karbon mampu menekan emisi karbon hingga 95 persen. Teknologi tersebut dikembangkan untuk menangkap karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh kegiatan industri, khususnya sektor industri nonmigas. Kemampuan ini menjadikan teknologi penangkap karbon sebagai salah satu pendekatan yang diuji untuk mengurangi emisi dari proses produksi.

Hashim menegaskan, teknologi yang dimaksud tidak digunakan untuk menangkap emisi yang berasal dari pertambangan maupun industri migas. Fokus penerapannya adalah emisi CO2 dari sektor industri nonmigas. Penjelasan tersebut disampaikan untuk memperjelas sumber emisi yang menjadi sasaran teknologi carbon capture, sekaligus menunjukkan penggunaannya dalam kegiatan industri yang menghasilkan karbon dioksida.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Sejumlah teknologi dari berbagai negara, termasuk Jepang dan Taiwan, telah diuji coba di fasilitas produksi PT Petrokimia Gresik, Jawa Timur. Uji coba tersebut menjadi bagian dari pengujian penerapan teknologi penangkap karbon pada fasilitas produksi industri nonmigas. Pernyataan mengenai kemampuan teknologi dalam menekan emisi hingga 95 persen disampaikan Hashim dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta pada Rabu, 7 Oktober. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan perkembangan pengujian teknologi carbon capture yang diarahkan untuk menangkap CO2 dari kegiatan industri nonmigas.

Studi yang dilakukan PT Petrokimia Gresik bersama mitra perusahaan dari Jepang dan Taiwan memberikan gambaran mengenai peluang penerapan teknologi penangkap karbon di lingkungan industri. Kajian tersebut menilai kemampuan peralatan dalam mengendalikan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan selama kegiatan operasional, terutama dari proses yang menggunakan bahan bakar atau melibatkan reaksi kimia. Hasilnya menjadi dasar untuk melihat sejauh mana teknologi itu dapat diterapkan pada fasilitas petrokimia secara efektif dan berkelanjutan.

Menurut Hashim, hasil studi menunjukkan bahwa penggunaan alat penangkap karbon berpotensi menekan emisi hingga 95 persen. Angka tersebut menggambarkan kapasitas teknologi dalam mengurangi karbon yang terlepas ke atmosfer apabila sistem dipasang dan dioperasikan sesuai rancangan. Temuan ini tidak berarti seluruh emisi industri dapat dihilangkan tanpa pengelolaan tambahan, melainkan menunjukkan besarnya pengurangan yang mungkin dicapai melalui penangkapan langsung pada sumber emisi.

Fungsi utama perangkat tersebut adalah memisahkan CO2 dari aliran gas yang muncul dalam proses industri sebelum gas itu dilepaskan ke udara. Karbon yang telah ditangkap kemudian dapat dikelola lebih lanjut, misalnya melalui penyimpanan atau pemanfaatan sesuai teknologi dan ketentuan yang berlaku. Pendekatan ini memungkinkan kegiatan produksi tetap berjalan, sembari mengurangi dampaknya terhadap lingkungan. Kerja sama dengan perusahaan asal Jepang dan Taiwan juga memberi ruang untuk mengkaji aspek teknis, kesiapan fasilitas, serta kebutuhan pengembangan sistem. Bagi Petrokimia Gresik, hasil kajian tersebut dapat menjadi referensi dalam menyusun langkah dekarbonisasi dan menentukan bentuk investasi teknologi yang paling sesuai dengan karakteristik operasional perusahaan.

Teknologi penangkapan karbon yang diuji di Petrokimia Gresik tidak hanya diarahkan untuk menekan pelepasan emisi dari proses industri. Dalam prosesnya, teknologi tersebut juga menghasilkan produk sampingan yang dapat berupa soda ash atau baking soda. Kehadiran produk sampingan ini menjadi bagian penting dari pembahasan karena proses penanganan karbon tidak berhenti pada upaya memisahkan atau mengurangi karbon dioksida. Material yang dihasilkan dari proses tersebut dapat dimanfaatkan sebagai soda ash maupun baking soda, sesuai dengan karakteristik dan pengolahan lanjutan yang diterapkan.

Hashim menyampaikan bahwa soda ash dan baking soda masih banyak diimpor oleh Indonesia. Pernyataan itu menunjukkan bahwa kedua produk tersebut belum sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri. Namun, informasi tersebut disampaikan sebagai gambaran mengenai kondisi impor, bukan sebagai penjelasan tentang kapasitas produksi teknologi yang diuji di Petrokimia Gresik. Karena itu, kaitan teknologi penangkapan karbon dan kedua produk sampingan tersebut perlu dipahami secara proporsional. Teknologi ini memberikan fungsi ganda dalam satu rangkaian proses: mengurangi emisi sekaligus menghasilkan material berupa soda ash atau baking soda.

Pengurangan emisi tetap menjadi tujuan utama pengujian teknologi tersebut. Di sisi lain, terbentuknya soda ash atau baking soda memperlihatkan bahwa proses penangkapan karbon dapat menghasilkan keluaran selain karbon yang telah ditangani. Hashim mengaitkan keberadaan produk sampingan itu dengan fakta bahwa Indonesia masih banyak mengimpor soda ash dan baking soda. Dengan demikian, pembahasan mengenai teknologi ini mencakup dua aspek yang saling berhubungan, yaitu upaya menurunkan emisi dan munculnya produk sampingan dari prosesnya. Dalam konteks ini, soda ash dan baking soda disebut sebagai hasil sampingan dari penerapan teknologi, bukan sebagai tujuan yang menggantikan tujuan utama pengurangan emisi. Penyebutan keduanya membantu menjelaskan keluaran proses secara lebih lengkap, tanpa memperluas klaim di luar informasi yang tersedia.

Hashim melihat teknologi penangkap karbon memiliki peluang penerapan yang lebih luas, tidak hanya di lingkungan industri petrokimia. Menurut pandangan tersebut, perangkat ini dapat dipertimbangkan oleh berbagai sektor yang menghasilkan emisi dalam jumlah besar, selama tersedia kajian teknis, dukungan infrastruktur, serta skema pembiayaan yang sesuai. Perluasan penggunaan teknologi ini tetap harus mempertimbangkan karakteristik setiap fasilitas dan jenis emisi yang dihasilkan.

Salah satu sektor yang disebut berpotensi memanfaatkan perangkat penangkap emisi adalah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara. Stasiun pembangkit listrik berbasis batu bara menghasilkan emisi dari proses pembakaran, sehingga teknologi penangkapan karbon dapat menjadi salah satu opsi yang dikaji untuk mengurangi pelepasan emisi sebelum gas buang dilepaskan ke atmosfer. Namun, penerapan pada fasilitas pembangkit memerlukan penilaian lebih lanjut mengenai kebutuhan energi, kapasitas penangkapan, pengelolaan hasil tangkapan, dan kesesuaian dengan sistem yang telah beroperasi.

Pemerintah juga sedang menyusun skema insentif khusus bagi perusahaan yang menggunakan alat penangkap emisi. Menteri Perindustrian disebut terlibat dalam penyusunan program tersebut. Rencana ini menunjukkan adanya upaya untuk mendorong penggunaan teknologi pengendalian emisi melalui dukungan kebijakan, meskipun bentuk, persyaratan, serta waktu pemberlakuannya belum menjadi kebijakan yang telah berjalan. Karena itu, perusahaan masih perlu menunggu ketentuan resmi sebelum menghitung manfaat dan kewajiban yang mungkin muncul.

Hashim menegaskan bahwa teknologi penangkap karbon tidak dibuat oleh satu perusahaan saja dan tidak semata-mata berasal dari Jepang atau Taiwan. Pengembangan perangkat serupa juga tersedia dari sejumlah pihak di Eropa. Keragaman pengembang dapat membuka ruang bagi perbandingan teknologi, biaya, kapasitas, serta tingkat kecocokan dengan kebutuhan industri di Indonesia. Dengan demikian, pembahasan mengenai penggunaannya di PLTU maupun sektor lain perlu didasarkan pada evaluasi yang menyeluruh, bukan pada asal teknologi semata.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60