Patrolihukum.net — Moskow menanggapi dengan nada sinis terhadap perdebatan panas antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang terjadi di Ruang Oval, Gedung Putih. Dalam insiden itu, Zelensky terlibat adu mulut dengan Trump serta Wakil Presiden AS JD Vance, yang menuduhnya “tidak tahu berterima kasih” atas bantuan yang diberikan Washington kepada Kyiv.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengomentari peristiwa itu dengan nada mengejek, menyebut bahwa Zelensky telah “menggigit tangan yang memberinya makan.” Zakharova juga menyinggung pernyataan Zelensky yang mengklaim bahwa Ukraina sempat berjuang sendirian tanpa dukungan pada tahun 2022.

“Saya pikir kebohongan terbesar Zelensky dari semua kebohongannya adalah pernyataannya di Gedung Putih bahwa rezim Kyiv pada tahun 2022 sendirian, tanpa dukungan,” ujar Zakharova dalam pernyataan via Telegram, dikutip dari AFP dan Reuters, Sabtu (1/3/2025).
Zakharova bahkan menyebut bahwa Trump dan Vance menunjukkan “pengendalian diri luar biasa” karena tidak melakukan tindakan fisik terhadap Zelensky dalam perdebatan tersebut.
“Bagaimana Trump dan Vance menahan diri untuk tidak memukuli b******n itu adalah sebuah keajaiban dalam menahan diri,” katanya.
Selain Zakharova, komentar pedas juga datang dari Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, yang juga mantan Presiden Rusia. Ia menyebut Zelensky telah menerima “tamparan keras yang pantas” dari Trump dalam pertemuan di Gedung Putih itu.
“Teguran keras yang brutal di Ruang Oval,” tulis Medvedev dalam unggahan di Telegram.
Medvedev bahkan menyebut perdebatan tersebut sebagai momen di mana Zelensky akhirnya diberi tahu “kebenaran yang sebenarnya” secara langsung. Ia menegaskan bahwa “rezim Kyiv bermain-main dengan Perang Dunia III” dan kembali menyerukan penghentian bantuan militer kepada Ukraina, sesuatu yang telah lama didesak oleh Moskow.
Ketegangan antara Zelensky dan Trump memang sudah lama terjadi, terutama setelah Trump kembali ke Gedung Putih dengan sikap yang lebih skeptis terhadap bantuan militer AS kepada Ukraina. Insiden ini semakin menegaskan posisi Moskow yang berharap agar dukungan Barat terhadap Kyiv berkurang di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Rusia.
(Edi D/**)





























