Pewarta: Edi D
Rusia kembali meraih kemenangan dalam peperangan sengit melawan Ukraina setelah berhasil merebut kota strategis Kurakhove di Ukraina Timur pada Senin, 7 Januari 2025. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, kemenangan ini penting karena posisi Kurakhove yang berfungsi sebagai pusat logistik bagi Ukraina di wilayah Donetsk.

Moskow menyatakan bahwa dengan berhasil merebut Kurakhove yang telah dipertahankan Ukraina selama berminggu-minggu, pasukan Rusia kini dapat mempercepat kemajuan mereka di kawasan Donetsk. Selain itu, Rusia juga mengklaim berhasil merebut desa Dachenske yang terletak tidak jauh dari Kurakhove. “Kemenangan ini membuka peluang bagi kami untuk meningkatkan laju kemajuan ke arah Donetsk,” ujar Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan, yang dilansir Reuters.
Pernyataan ini juga didukung oleh sejumlah sumber dari pihak Ukraina yang mengonfirmasi bahwa pasukan Ukraina terus menerima serangan intensif, termasuk tembakan dari peluncur roket dan bom berpemandu. Beberapa laporan menyebutkan bahwa kota Kurakhove hampir jatuh sepenuhnya ke tangan Rusia.
Sementara itu, di wilayah Utara medan perang, Ukraina melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Kursk pada pagi hari yang sama. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, serangan ini dilakukan untuk menghentikan kemajuan pasukan Rusia yang menuju wilayah tersebut. Ukraina dilaporkan menggunakan dua tank, selusin kendaraan lapis baja, dan satu unit penghancur untuk melakukan serangan ke desa Berdin, sekitar 15 km di timur laut Sudzha. Meskipun Ukraina berhasil memberikan tekanan, Rusia tetap melanjutkan upayanya untuk menghancurkan formasi tentara Ukraina di kawasan tersebut.
Blogger militer pro-Kremlin mengungkapkan bahwa tentara Rusia berada di bawah tekanan, namun mereka mengklaim pasukan Moskow mampu melakukan perlawanan dan terus mempertahankan posisi mereka. Gambar-gambar yang menunjukkan kendaraan lapis baja Ukraina melintas di tengah salju pun dibagikan oleh blogger pro-Rusia, Dva Mayora, di kanal Telegram-nya.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pidato videonya menyebutkan bahwa pasukan Ukraina telah membangun zona penyangga di Kursk dan berhasil menimbulkan kerugian besar pada pasukan Rusia. “Selama operasi di Kursk, musuh telah kehilangan 38.000 tentaranya di wilayah ini, dengan hampir 15.000 di antaranya tak dapat dipulihkan,” ungkapnya.
Sejak dimulainya serangan besar-besaran Rusia pada 24 Februari 2024, yang bertujuan merebut wilayah Ukraina Timur atau Donbass, kedua belah pihak terus berjuang untuk meningkatkan posisi di medan perang. Rusia mengklaim tindakan mereka didorong oleh ketegangan etnis di Donbass serta kekhawatiran terhadap niat Ukraina untuk bergabung dengan NATO, sebuah langkah yang ditentang keras oleh Moskow.
Perang ini tidak hanya melibatkan Rusia dan Ukraina, tetapi juga menarik banyak negara Barat yang memberikan dukungan signifikan kepada Ukraina, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris, dengan bantuan senjata dan keuangan. Sementara itu, Moskow menghadapi sanksi ekonomi yang berat dari negara-negara Barat sebagai upaya untuk melemahkan anggaran militer Rusia.
Meskipun pertempuran di Ukraina terus berlanjut, para analis militer memperkirakan bahwa kedua belah pihak berusaha mengubah posisi mereka sebelum pelantikan Presiden AS terpilih, Donald Trump, pada 20 Januari mendatang. Trump telah berjanji untuk segera mengakhiri perang dan mengurangi dukungan kepada Ukraina, yang semakin mempengaruhi dinamika konflik di lapangan.


























