Patrolihukum.net // Madiun – Nama RM Imam Koesoepangat menjadi salah satu figur penting dalam sejarah perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Sosoknya tak hanya dikenal sebagai pendekar ulung, namun juga sebagai tokoh budaya yang berjasa besar dalam membesarkan organisasi pencak silat yang berdiri di Madiun ini.
Lahir sebagai anak ketiga dari pasangan R.Ay Koesmiyatoen dan RM Ambar Koesensi, Imam tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran dan etika. Masa kecilnya dihabiskan bersama lima saudara kandung lainnya: RM Imam Koesoenarto, RM Imam Koesenomihardjo, RM Koesenomihardjo, RM Imam Koeskartono, dan RM Abdullah Koesnowidjodjo.

Ditinggal wafat oleh sang ayah saat masih berusia 13 tahun, Imam dibesarkan oleh ibunda tercinta yang menanamkan nilai-nilai luhur dan semangat kebijaksanaan dalam hidupnya. Pendidikan karakter yang kuat inilah yang kelak membentuk kepribadian Imam sebagai tokoh yang santun, bijaksana, namun tegas dan berwibawa.
Awal Kiprah di Dunia Pencak Silat
Ketertarikan Imam terhadap dunia pencak silat muncul ketika ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia mulai bergabung dan berlatih di bawah bendera Persaudaraan Setia Hati Terate, dilatih langsung oleh Mas Irsad, salah satu murid dari pendiri PSHT, Ki Hadjar Hardjo Oetomo.
Tahun 1958 menjadi tonggak penting dalam perjalanan Imam, ketika ia secara resmi disahkan menjadi Pendekar PSHT. Tak butuh waktu lama, ia mulai aktif membimbing dan melatih generasi baru, menyebarkan ajaran pencak silat yang berlandaskan persaudaraan dan nilai-nilai kebatinan.
Dalam kesaksian salah satu muridnya, Mas Tarmadji, Imam digambarkan sebagai pribadi yang rendah hati namun disiplin. Ia adalah guru yang mampu menyeimbangkan kelembutan dan ketegasan, menciptakan suasana latihan yang penuh kedalaman dan makna.
Gubah Mars PSHT dan Warisan Budaya
Kontribusi Imam dalam PSHT tak hanya berhenti di bidang pelatihan. Ia juga berjasa besar dalam aspek budaya organisasi. Tahun 1963, dalam sebuah pagelaran seni budaya di Gedung Bioskop Basuki, Jalan Sulawesi, Madiun, untuk pertama kalinya dikumandangkan Mars SH Terate. Lirik lagu ini digubah oleh Imam sendiri, sementara aransemen musiknya dikerjakan oleh Ady Yasco.
Mars tersebut kini menjadi simbol pemersatu warga PSHT di seluruh penjuru negeri, dan menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang tak terlupakan dari RM Imam Koesoepangat.
Pertarungan Bersejarah di Arena Adu Bebas
Masih di tahun 1963, nama Imam kembali mencuat saat ia tampil dalam ajang bergengsi gelanggang adu bebas. Acara ini merupakan pertandingan silat dengan sistem full body contact, tanpa pelindung tubuh, yang mempertemukan pendekar-pendekar terbaik dari berbagai perguruan di Madiun dan sekitarnya.
Dalam ajang yang dihelat di halaman Karesidenan Madiun tersebut, PSHT mengutus RM Imam Koesoepangat untuk turun gelanggang. Lawan yang dihadapi adalah Soekoco dari SH Tuhu Tekad, seorang pendekar berpengalaman dengan postur tubuh yang tinggi dan kekar.
Pertarungan berlangsung sengit sejak awal. Imam melancarkan serangkaian pukulan dan tendangan yang beberapa kali mengenai tubuh lawannya. Namun Soekoco tetap berdiri dengan tenang, membalas serangan dengan senyuman.
Atmosfer pertandingan yang menegangkan itu akhirnya berpihak kepada Imam. Dengan strategi matang dan keahlian mumpuni, ia berhasil mengalahkan Soekoco, sekaligus membawa nama besar PSHT kian bersinar di tingkat regional. Kemenangan itu bukan hanya soal keunggulan fisik, tetapi juga menjadi bukti bahwa pendekar sejati adalah mereka yang mengedepankan nilai-nilai kejujuran, ketekunan, dan sportivitas.
Sosok Teladan dan Inspirasi
Kemenangan di gelanggang adu bebas hanyalah satu dari sekian jejak emas RM Imam Koesoepangat. Lebih dari itu, warisan terbesar yang ia tinggalkan bagi PSHT adalah nilai-nilai moral yang terus ditanamkannya kepada para murid.
Sikap rendah hati, kepemimpinan yang adil, dan semangat membangun persaudaraan lintas generasi menjadikan Imam sebagai sosok yang dihormati, tidak hanya di internal organisasi tetapi juga di kalangan masyarakat luas.
Kini, sosok RM Imam Koesoepangat dikenang sebagai tokoh legendaris PSHT yang tak hanya mahir dalam pencak silat, namun juga bijak dalam menjalani kehidupan. Namanya menjadi inspirasi abadi bagi generasi penerus, bahwa pencak silat bukan hanya tentang bela diri, tapi juga tentang membentuk manusia seutuhnya.
**Salam Persaudaraan**
Sumber: INFO MASēē – ThassinkTerate
Editor: Edi D
Published: Edi D
























